HomeREFLEKSIBUKUDibalik terbitnya buku “Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia”, Aku berlutut di hadapan Cino Suroboyo

Dibalik terbitnya buku “Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia”, Aku berlutut di hadapan Cino Suroboyo

BUKU DISKUSI KEBUDAYAAN MITRA KARYA NARASI 0 0 likes 269 views

Ceritanya kira-kira begini. Ketika sentimen anti Tionghoa menguat lagi dengan munculnya sosok Ahok, 3-4 tahun lalu, aku mulai membaca beberapa literatur. Tujuannya, menemukan penyebab kebencian yang tertanam dalam diri non-tionghoa, dalam konteks personal diriku; Islam-Jawa.

Aku terperanjat saat menemukan catatan historis penuh kekelaman yang menimpa etnis Tionghoa, “Betapa beratnya menjadi Tionghoa di Indonesia. Ndak kuat rasanya jika aku jadi mereka,”_ batinku. Lalu aku mulai membuat presentasi dalam bentuk Power Point, dan mencoba menjajakan kekelaman sejarah ini ke beberapa forum diskusi; di Jombang, Malang dan Surabaya. Aku juga menulis kegelisahanku di beberapa situs https://geotimes.co.id/kolom/ahok-dan-raksasa-penjaga-islam-pulau-jawa/.

Baca juga : Johanes Piri : Dulunya saya kira Tionghoa itu kelompok eksklusif

Aku mungkin termasuk pria yang mudah baper, itu sebabnya, kata beberapa peserta diskusi, aku terlihat agak emosional saat presentasi di forum:). Namun itu justru kelebihanku. Dukungan dan simpati terus berdatangan via WA maupun medsos.

Aku terus “berjualan” isu ini dan mendorong semua pihak agar melakukan sesuatu. Namun rasanya seperti membentur  tembok tebal. Nggak ada respon konkrit. Mungkin aku terlalu naif mengharapkan hal itu.

Sekitar pertengahan 2017, aku diundang bicara di Vihara BDC Panjangjiwo Surabaya. Di sana aku bertemu beberapa orang di forum diskusi itu untuk pertama kalinya, salah satunya, Mas Herman dan Mas Sujoko Efferin.

“Mas aku pengen nglumpukno cerita-cerita kelam soal Tionghoa. Semacam tulisan pengakuan, tulisan yang bikin orang baper dan berhenti mendiskriminasi Tionghoa,”_ ungkapku pada mereka berdua. Mereka mengapresiasinya, meski aku tidak terlalu optimis dengan mereka berdua. Lha wong kenal aja baru di forum itu.

Seperti gatal luka yang terus meminta untuk digaruk, dorongan dalam hatiku semakin kuat untuk melakukan sesuatu atas kegelisahanku ini. Akhirnya aku nekat bikin woro-woro di media sosial; mengajak semua orang terlibat dalam project penulisan ini. “Aku ndak punya uang. Jangan minta imbalan material untuk tulisan yang dibuat. Aku sendiri juga nggak tahu dari mana duit untuk cetaknya,” begitu yang aku katakan pada salah satu kawan.

Respon positif bermunculan. Banyak kawan-kawanku mendaftar untuk ikut menulis.  Beban berat di sanubariku semakin terkurangi karena ada beberapa orang yang secara sukarela ikut menanggungnya sebagai tim editor; Piet Widiadi, Poedjiati Tan, Astutik, Sujoko Efferin, Kristanto Tatok, dan Rovien Aryunia.

Baca juga : Valiant Ryvanthapala : Kamu berdarah Tionghoa akan sulit jadi ASN

Tidak hanya itu, semesta tampaknya enggan meninggalkan kami sendirian, seperti halnya Dilan yang ogah terpisah dengan Milea. Kami begitu mudah mendapat donasi untuk pencetakan buku. Ada yang menyumbang 40 ribu hingga 5 juta.

Namun tentu saja ada cerita dukanya. Tim editor nyaris bubar karena perbedaan pandangan menyangkut beberapa hal. Yang saya ingat, pertikaian paling sengit terjadi antara Poedjiati Tan versus Sujoko Efferin.  ” Ya Alloh, kenapa aku harus berada di tengah dua Cino Suroboyo yang sama-sama keras kepala ini? Apa salah dan dosaku,”  kataku membatin.

Aku bahkan sampai mengeluarkan kata-kata, “Please I am begging you...”

Akhirnya, dengan seluruh ketidaksempurnaan yang ada dalam diri kami, lahirlah buku ini. Buku milik kita bersama.(*)

 

*Oleh : Aan Anshori | IG : @gantengpolnotok. Penggagas buku narasi memori “ Ada Aku Di Antara Tionghoa dan Indonesia”. Kordinator Jaringan GUSDURian  Jawa Timur (2012-2014) dan  JIAD (Jaringan Islam Anti Diskriminasi). Saat ini sedang studi S2 Hukum Islam di Univ. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang. Email : aan.anshori@gmail.com

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *