HomeREFLEKSIDISKUSIAku yang memegang kendali ke mana arah hidupku dan setiap arahnya menuju kesempurnaan
Membantu

Aku yang memegang kendali ke mana arah hidupku dan setiap arahnya menuju kesempurnaan

DISKUSI FILSAFAT REFLEKSI 0 2 likes 46 views

Kelas Analisa Sosial (Ansos) #2 mengajarkan dan memberikan saya pemahaman tentang “Manjadi Manusia”. Ansos sendiri merupakan pendekatan  mencari penyelesaian masalah dengan berbagai sudut pandang. Sering kali, kami menggunakan cara refleksi. Sehingga, di sini lah saya sedang menulis “Refleksi Aku dan Menjadi Manusia”.

Manusia menurut KBBI adalah makhluk yang berakal budi dan dapat menguasai makhluk lain. Tapi, tentunya mencari makna “manusia” sendiri tak bisa hanya lewat membaca kamus. Namun, dengan bertanya pada diri kita sendiri. “Apa itu manusia? Apakah kamu sudah manusia?” dan semua jawabannya akan beragam, berbeda-beda tiap personal yang ditanyakan.

Baca juga : Saras Dumasari : Diam itu jauh lebih berbahaya, karena ia tak memihak

Bertanya tentang definisi manusia, menjadikan kita berpikir dengan diri kita sendiri, sebagai subjekdan objek. Subjek yang bertanya dan melakukan pengamatan tentang apa yang dilakukannya. Objek yang menarik jarak jauh, sehingga melihat diri sendiri dari sudut pandang orang lain. Sehingga, lebih objektif, mengenali kondisi sebenarnya tanpa dipengaruhi oleh pendapat orang lain atau pandangan diri sendiri.

Dengan kata lain, kita lebih melakukan refleksi pada diri sendiri. Sudah sejauh mana kita bersikap, berperilaku dalam menjalani hidup, baik kepada diri sendiri, maupun orang lain. Merefleksikan diri tentu saja berkaca pada pengalaman-pengalaman kita yang lalu. Pengalaman yang kita alami sendiri otomatis menjadi pengetahuan kita. Kita akan melihatnya dari pandangan subjektif dan objektif. Secara objektif, kita menemukan pengalaman dengan kondisi tubuh, ruang, waktu, alasan yang berkenaan, baik diakibatkan diri sendiri maupun orang lain. Sedangkan, secara subjektif kita menemukan pengalaman dengan kesadaran dan kehendak kita sendiri dalam melakukan sesuatu.

Dalam kedua sudut pandang itu, akan ada dinamika dalam diri kita sendiri untuk memutuskan bagaimana kita bersikap dan berperilaku. Ketika kita melihat diri lewat kacamata subjektif, maka akan terlihat sifat-sifat, gaya-gaya, pemikiran, sudut pandang yang kita pahami sendiri. Sedangkan, lewat kacamata objektif kita akan melihat adanya kesempatan kedua untuk memilah keadaan yang berdasarkan pada pengalaman kita sebelumnya. Sehingga, kita dapat memutuskan untuk mengulangi sejarah ”pengalaman kita yang dulu” atau memilih move on membentuk sejarah pengalaman yang baru.

Pengalaman refleksi terakhir yang saya ingat adalah ketika, “Apakah kita sudah menjadi manusia yang lebih baik?” atau “Apakah kita sudah bahagia dengan kondisi kita yang sekarang?”. Jujur, pertanyaan seperti itu juga masih bergulat. Hakikatnya sebagai manusia tidak lah kaku, statis, tapi lentur dan dinamis. Benturan membuatnya berubah. Begitu juga pengalaman.

Baca juga : Rully Fitria : Sering berbicara keadilan, bungkam ketika diajak bertindak

Dinamika ini mendorong kita untuk selalu berpikir, tidak berhenti. Mencari pola mana yang cocok sesuai minat bakat, atau hobi kita sekali pun. Seperti saya pada usia 21th, berpikir bahwa saya menyukai segala hal tentang penyu, baik jenis-jenisnya, habitatnya, siklus hidupnya, serta isu-isu konservasi yang menantang kelestarian penyu ke depannya. Setiap hari selalu bergumul, berdiskusi, membentuk mind mapping untuk rencana ke depannya. Sekarang, usia saya 27th, “Apakah saya masih menyukainya seperti dulu?” Jawabannya, tidak. Saya memang meyukainya. Tapi, sekali lagi manusia itu dinamis.

Dalam kehidupan, kita akan selalu bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang, baik yang baru mau pun yang lama. Setiap individunya akan membawa pengalaman, pengetahuan, dan wacana baru yang melekat pada diri kita. Membawa peluang dan kesempatan yang baru bagi kita. Sehingga, kita akan membuat rencana kehidupan yang baru. Menentukan peran yang akan kita mainkan pada saat itu. Mempertimbangkan peran masa depan yang kita inginkan. Masa depan yang dapat membantu kita sesuai dengan peran yang kita ambil di masa kini. Mempertimbangkan mana peran yang penting sesuai urgensinya. Sehingga, daftar rencana dapat berubah-ubah. Namun,dapat diperhitungkan. Tapi, kita tidak akan lupa. Dalam apa pun peran yang ingin kita mainkan, kita harus menemukan alasan baik di dalamnya.

Sehingga, hakikatnya dinamika aku dari refleksi pengalaman-pengalaman yang lalu dapat membentuk, mengarahkan, menentukan aku dalam diriku. Aku yang memegang kendali ke mana arah hidupku dan setiap arahnya menuju kesempurnaan.

*Saras Dumasari,  Peserta Sekolah Ansos 2017. Mahasiswa Paska Sarjana Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Anggota HMI Malang dan Koalisi Perempuan Indonesia, Jawa Timur

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *