HomeREFLEKSIDISKUSIFilm biopik boleh dramatis, tapi harus lebih jujur pada sejarah

Film biopik boleh dramatis, tapi harus lebih jujur pada sejarah

DISKUSI FILM KEBUDAYAAN NARASI SEJARAH 0 5 likes 412 views

Wage, begitu pencipta lagu Indonesia Raya itu dipanggil.  Kisah Wage Rudolof Supratman diangkat dalam sebuah film berjudul WAGE, produksi OPSHID Media dan dipertontonkan pertama kali bulan November 2017 lalu.  WR. Supratman dalam film ini diperankan oleh Rendra Bagus Pamungkas, alumni  Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.

Film yang sutradarai Jhon De Rantau ini berdurasi 119 menit. Durasi yang cukup panjang, hampir mencapai batas maksimal durasi film yang biasanya diputar bioskop.  Film ini sempat diputarkan secara serempak di beberapa  bioskop, namun tidak bertahan lama.  Film ini kemudian mendapatkan tempatnya dalam pemutaran keliling oleh komunitas-komunitas film dan kelompok diskusi.

Film Wage, satu dari 18 film biographical  produksi  industri film Indonesia selama kurun waktu 2011-2017. Artinya dalam setahun ada dua sampai tiga judul film biopik yang diproduksi. Jumlah yang cukup banyak untuk genre yang tidak begitu populer di Indonesia.

Baca juga : Driyarkara : Mengkritik, mengoreksi dan memperbaiki sosialitas preman

Film biopik serupa  Wage, kembali tumbuh sejak kemunculan Gie tahun 2005. Setelah itu lahir film-film diantaranya Sang Kiyai, Sang Pencerah, Soegija, Kartini, Soekarno, Habibi Ainun dan Istirahatlah Kata-Kata. Dari semua film itu, hanya Habibi Ainun yang betah di bioskop dengan rekor penonton 4,5 juta. Selebihnya dibawah sejuta dan bertahan  hanya dua tiga hari di bioskop atau diputar keliling di bioskop komunitas.

Bahkan film sekelas Istirahatlah Kata-Kata yang menang di beberapa festival Internasional  hanya mampu menembus angka 50 ribu penonton. Walaupun ada yang mengatakan itu sudah cukup baik untuk film biopik tokoh seperti  Wiji Thukul yang hanya dikenal oleh seniman puisi dan teater, aktivis dan penggerak reformasi 1998.

Image result for film Wage

Salah satu potongan adegan film Wage, saat WR Supratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya di hadapan peserta Konggres Pemuda II. Foto: Istimewa

Film Biopik dan Fantasi Kepahlawanan

Apakah ada korelasi antara sepinya penonton film biopik, dibandingkan film horor dan komedi dengan fantasi kepahlwanan?. Ada hubungan yang  terjalin disana.  Bila Wiji Thukul tidak begitu laku dijual, bagaimana dengan film Soekarno bahkan Kartini? Ternyata nama besar tokoh, pahlawan nasional toh tidak jadi garansi.

Sebelum itu, rasanya perlu melihat data yang berkaitan dengan film biopik di Indoneisa. Katalog film filmindonesia.or.id, mengatakan sebanyak 44 persen dari seluruh film biopik pada dekade 2010-an mengangkat tokoh politik. Berbeda dengan dekade 2000-an di mana tokoh agama sebanyak 42 persen, tokoh politik tetap di posisi 28 persen.  Pada dekade 1980-an, persebaran tema tokoh biopik terbagi rata antara politik, kriminal, pendidikan dan militer. Temuan ini rasa-rasanya memberikan gambaran awal tentang relasi penonton film biopik dan fantasi kepahlawanan.

Baca juga : Ziarah : Kait Mengait Sejarah, Kuasa dan Personal

Film biopik oleh Dennis P. Bingham didefinisikan sebagai “… menarasikan, mempertunjukkan, sekaligus merayakan kehidupan sebuah subjek untuk mendemonstrasikan, menyelidiki, ataupun mempertanyakan arti penting subjek tersebut dalam rangkaian cerita film tersebut.” Keberadaan subyek serta gagasan yang dihidupnya sebagai hal utama dan daya magis film biopik.

Kisah Wage  dan  Wiji Thukul serta gagasan yang dihidupinya adalah daya magis bagi penonton untuk datang  ataupun sebaliknya tidak memenuhi ruang bioskop-bioskop. Daya magis ini lahir dari fantasi-fantasi dan imajinasi-imajinasi tentang tokoh. Fantasi sosial itu lekat dengan keseharian dan dihidupi nilai-nilai yang dianut masyarakat. Bila kisah kehidupan tokoh tidak sesuai dengan nilai yang dianut, sudah pasti ada keengganan untuk menonton.

Fantasi kepahlwanan yang dihidupi sebagian besar masyarakat Indoesia selalu dan seputar  karisma  tokoh,   gagah dan berani, tangguh dan kekar, lincah dan jago kelahi, juga adil dan baik hati. Tidak salah bila  “Pahlawan Revolusi, Pahlawan Pembangunan, Pahlawan Kemerdekaan dan Pahlawah Nasional” lebih lekat diingatan dan terucap begitu saat kita berasosiasi  tentang pahlawan. Pahlawan dalam hal ini diasosiasikan sebagai tokoh-tokoh ternama  bidang  politik, pemerintah dan militer yang  berjasa  dalam perang melawan  dan mengusir penjajahan.

Fantasi tersebut ditanamkan secara sistematis melalui  buku-buku pelajar sekolah dasar hingga menengah. Terekam melalui poster-poster di dinding kelas dan iklan-iklan menjelang hari besar nasional. Walaupun jauh sebelum itu, fantasi kepahlawan juga disuntikan oleh cerita dan mitos-mitos.  Dan baru belakangan, film super hero Hollywood dan game-game ponsel pintar  ikut menanamkan pengaruhnya.

Saat ini Hollywood pun semakin agresif menanamkan pengaruh. Secara sadar ataupun tidak menggeser dan bahkan mengganti fantasi ala mitos dan perang kemerdekaan. Bila sebelumnya fantasi kepahlawanan itu terkait mengusir  penjajah, saat ini mulai tergantikan fantasi tenaga super, kecanggihan teknologi perang, penahlukan dan demonstrasi kekerasan. Kecepatan laju kecanggihan teknologi sinenematografi  membawa  kita pada fantasi kepahlawanan pada tingkat lanjut tentang penaklukan, pemenang, ketahanan fisik, kekerasan (coercive power) dan imortalitas.

Disini letak relasi timpang antara film biopik dengan fantasi kepahlawan. Mengambil contoh film Wage, ia bukan tokoh yang  jadi bagian utama imajinasi masyarakat  tentang perjuangan kemerdekaan. Wage tidak seperti  Panglima Soedirman dan Bung Tomo. Ia tidak menggenapi indikator pahlawan yang berkarisma,   gagah dan berani, tangguh dan kekar, lincah dan jago kelahi dan apa lagi mati di medan tempur. Boleh dikata, Wage hanya catatan kaki dalam narasi sejarah, cerita dan fantasi kepahlawanan.

anggi noen

Yosep Anggi Noen (paling kiri) sutradara film Istirahatlah Kata-kata saat shooting film tentang Wiji Thukul. Bayu Filemon (kedua dari kanan) DOP film Istirahatlah kata-kata. Foto : Istimewa

Kepahlawanan Orang-Orang  Kecil

Tidak murah memproduksi film agar sesuai dengan standar bioskop. Tidak banyak pula orang yang mau berinvestasi dalam sebuah film yang jelas melawan selera pasar serta fantasi-fantasi yang menyertainya. Mengutip dialog Wage “ butuh orang gila agar Indonesia merdeka”, butuh kegilaan juga membuat film biopik yang melawan arus utama fantasi kepahlawanan .

Mendapatkan keuntungan berlipat seperti film Black Panther, Warkop DKI Re-Born atau Pengabdi Setan sudah tentu akan sulit bagi film Wage dan Istirahatlah Kata-Kata. Kalau bukan kapital finansial yang dicari,  terus apa?. Dugaan yang masuk diakal adalah kapital sosial. Film dianggap medium yang efektif untuk menyuntikan wacana, seperti yang diungkapkan Ingmar Bergman, sutradara Swedia “Tidak ada seni yang melewati hati nurani kita seperti yang dilakukan film, dan langsung menuju perasaan kita, jauh di dalam ruang gelap jiwa kita”.

Film Wage dan Istirahatlah Kata-Kata mengusung wacananya sendiri. Mencoba bersaing atau biar lebih heroik “melawan” dengan menyuntikan gagasan “ kepahlawanan bukan hanya milik orang-orang besar, berotot, kuat dan bersenjata; kepahlawanan juga lahir dari orang-orang kecil (secara harafiah, Wage dan Wiji Thukul sama-sama kurus), berbiola, berpuisi, mengandalkan pena dan dipinggirkan dari catatan sejarah”

Baca juga : Mitos Pertahanan Ruang Nusantara & Pertahanan Ruang Per-Empu-An

Kedua fim itu juga sepertinya mengkritik slogan “jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Slogan yang dikritik karena dalam praktiknya sangat politis, sektarian dan primordial. Diteriakkan hanya saat kelompok politik, suku, agama dan ras  tertentu merasa kepentingan politik dan ekonominya tidak diakomodir. Gelar pahlawan  juga diobral untuk meraup suara atau menjaga relasi politik dan dominasi ideologi.

Wage dan Wiji Thukul melalui film mengusung narasi tentang “ Mereka yang setia dalam perkara kecil, dengan demikian mereka juga setia dalam perkara besar”.  Wage , setia bermusik, memainkan biola tanpa terpancing mengisi posisi penting walaupun terbuka lebar.  Wiji setia berpuisi  sebagai  bentuk perlawannya pada  pemerintahan yang korup dan otoriter, tanpa terpancing jadi pimpinan yang selalu dikawal dan terjebak janji jabatan politik.

Film Wage dan Istirahatlah Kata-Kata, bukanlah tentang tokoh yang banyak disebut dalam buku sejarah. Film-film ini mewakili fantasi kepahlawanan kita tentang para  guru honorer, buruh migran Indonesia, aktivis HAM, aktivis lingkungan, korban tragedi kemanusiaan, sastrawan dan seniman. Gaung mereka tidak sebesar “pahlawan arus utama” namun mereka setia berjuang mewujudkan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Sekadar Kritik Terhadap Film Biopik

Ada kritik yang mengatakan bahwa  film Istirahatlah Kata-Kata, karya Joseph Anggi Noen sebagai bentuk  “penghilangan Wiji Thukul untuk kedua kalinya”. Film ini dianggap terlampau mendramatisir kesepian Wiji Thukul dan masih banyak pula  kritik lainya. Kritik terhadap film tentu sangat dibutuhkan  bahkan wajib.

Namun perlu dipahami bahwa film biopik bukanlah sekadar merayakan kehidupan tokoh , mendemonstrasikan perjalanan hidupnya, dokumentasi biografi atau  sejarah. Film biopik, harus juga dipahami sebagai upaya penyelidikan terhadap tokoh hingga melahirkan kebaruan yang tidak diketahui kebanyakan orang sebelumnya. Anggi melalui film Istirahatlah Kata-Kata justru melahirkan kebaruan. Dibalik kisah heroik buronan politik,  ada kesepian, kesunyian yang luar biasa serta gairah seksual yang membuncah. Sebelum film ini ditayangkan  mungkin tidak terbanyangkan bahkan mungkin terselubung tabu, walupun hal-hal itu sangat manusiawi.

Baca juga : Indonesia, Negeri Imajinasi

Film Wage juga dikritik karena dianggap terlalu bertele-tele dan melodramatik.  Film ini dianggap mengaburkan proses kreatif  sang komposer dalam penciptaan lagu yang seharusnya jadi daya tarik sang tokoh. Wage juga disorot karena menampilkan scene tentang keyakinan Wage yang menurut sebagian orang tidak berdasarkan fakta dan dokumen sejarah. Ada penelusuran sejarah yang dianggap tidak tuntas.  Scene  Wage salat itu terkesan dipaksakan dan dianggap tidak sambung dengan kisah penciptaan lagu Indonesia Raya sebagai satu maha karya.

Image result for film Wage

Dari kritik diatas, pertama:  dramatisasi dalam film biopik sah-sah saja. Dramatisasi itu mungkin dan juga pasti tidak akurat, sebab itu  jangan menjadikan film biopik sebagai referensi sejarah. Film biopik menyuntikan wacana, bukan demonstrasi objektifitas sejarah. Film biopik, kapan dan siapapun yang membuatnya selalu punya keinginan mempengaruhi wacana bahkan mendominasinya.

Kedua,  pembuatan film biopik memerlukan kehati-hatian dalam pengungkapan fakta sejarah. Adanya dugaan bahwa produksi film biopik hanya aspirasi pribadi, kedekatan komunitas dangan asal-usul tokoh serta motif kesamaan agama maupun garis politik perlu disikapi secara kritis. Juga terkait dugaan bahwa film biopik hanyalah proyek narsis dari kelompok-kelompok tertentu atau dorongan kepentingan politik kelompok keluarga sang tokoh. Pada bagian inilah penonton harus obyektif dan kritis,  karena niatan-niatan itu berpotensi mengaburkan dan menghilangkan fragmen sejarah suatu bangsa.

Mary Murphy dalam Model Lives: The Social Value of Filmed Arts Lives “ mengatakan “ Film biopik dapat menjadi media yang baik dalam menjembatani tuntutan pasar terkait tontonan yang tak hanya menghibur namun juga mengedukasi.”  Bagi Murphy, tak ada alasan sebuah film biopik harus kering, ia harus menghibur. Harusnya penonton dan pembuat  film biopik juga sadar bahwa silahkan “menghibur dengan sedramatis mungkin, tapi berusalah juga sebaik mungkin agar  tetap jujur pada sejarah”

 

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *