HomeREFLEKSIDISKUSIKatolik Radikal dan Silent Majority
Katolik Radikal

Katolik Radikal dan Silent Majority

DISKUSI KEBUDAYAAN REFLEKSI 2 1 likes 438 views

GEMA silent majority tak bisa dibendung lagi. Silent majority dalam bentuk karangan bunga atau bunga hidup menjadi alat “perjuangan” melawan radikalisme. Berbagai kelompok, agama dan suku terbangun dari tidur lama selama ini oleh gaung silent majority.

Radikalisme menjadi musuh bersama. Namun tanpa disadari di dalam agama lain pun ada perilaku radikalisme yang sedang tumbuh dan berkembang walau itu tidak nampak. Bahkan di agama saya sendiripun Katolik mulai tumbuh benih “radikalisme”.

Yang saya maksudkan sebagai Katolik “radikal” adalah mereka (umat, Imam atau ketua seksi, DPP) yang suka merubah aturan seenak seleranya atau mental dan perilakunya yang mengakibatkan perpecahan di dalam Gereja. Kalau mau bicara jujur itu adalah perilaku “radikalisme” yang memecah belah umat.

Katolik Radikal

Kover buku, Kilasan Kisah Soegijapranata, ditulis oleh G. Budi Subanar, SJ. Foto : Idenera

Contoh Tata Perayaan Ekaristi. Banyak imam yang dengan seenaknya mengubah warna liturgi ketika ada perayaan komunitas tertentu dengan alasan inkulturasi. Padahal salah kaprah. Yang terjadi adalah sebagian besar umat menjadi bingung dan tidak setuju. Umat yang tidak setuju akhirnya dibenci dan dikucilkan.

Dalam misa apapun seharusnya lagu liturgi yang dinyanyikan, tapi justru lagu pop rohani yang dinyanyikan. Lagi-lagi ketika ada umat yang menegur dan mengkritik imam atau ketua seksinya, umat yang mengkritik justru disingkirkan. Tidak ditegur. Ini mental “radikal”.

Katolik “radikal” adalah mereka yang masa bodoh dengan situasi bangsa, diam dengan alasan takut atau minoritas, yang tidak peduli dengan pengrusakan lingkungan hidup, namun bersekutu dengan penguasa dan pengusaha yang merusak lingkungan hidup. Parahnya lagi kalau ada oknum yang mengatasnamakan organisasi Katolik namun menjadi tunggangan politik partai atau caleg atau calon walkot atau bupati tertentu. Maka muncullah perpecahan dalam organisasi tersebut. Ini mental “radikalisme”.

Katolik “radikal” adalah mereka termasuk oknum kaum berjubah yang ikut-ikutan mendukung korupsi dan bahkan menjadi pelaku dengan menerima parcel Natal dari anggota DPRD, Bupati atau bahkan membangun gurita korupsi di yayasan-yayasan Katolik. Katolik “radikal” adalah mereka atau oknum berjubah yang cepat tanggap pada permintaan mereka yang kaya, namun masa bodoh dengan mereka miskin.

Kita semua sepakat dan menjadikan silent majority sebagai alat perjuangan memperjuangkan keutuhan NKRI. Namun sebelum membangun silent majority bagi NKRI sebaiknya kita juga membangun silent majorit bagi agama kita masing-masing termasuk Katolik dengan mengedepankan 100 % Katolik, 100 % Indonesia yang jauh dari mental dan perilaku “radikalisme”.

Katolik “radikal” adalah yang mentalnya tidak seperti pesan bijak perjuangan Mgr. Soegiapranata  ” Jika kita merasa sebagai Kristen yang baik, kita semestinya juga jadi patriot yang baik. Karena kita merasa bahwa kita 100% patriotik sebab kita juga merasa 100%  Katolik. Malahan, menurut perintah ke empat dari Sepuluh Perintah Allah, sebagaimana tertulis dalam Katekismus, kita harus mengasihi Gereja Katolik, dan dengan demikian juga mengasihi negara, dengan segenap hati”

Manila, Mayo-04-2017

Please share,

2 Comments

Paulina Liana

Keren tulisan ini sangat relevan dgn keadaan yg saya hadapi di daerah Kalimantan ini…apalagi di sini mayoritas adalah Katolik…jdi sangat terasa sekali radikalisme yg ada.

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *