HomeREFLEKSIDISKUSIKaum Muda Memang Bukan Generasi Penerus Bangsa
Bendera Merah Putih,

Kaum Muda Memang Bukan Generasi Penerus Bangsa

DISKUSI FILSAFAT NARASI REFLEKSI 0 6 likes 101 views

Tepat pada tanggal 28 Oktober tahun 1928, para pemuda berkumpul untuk mengikrarkan sumpah mereka terhadap Bangsa Indonesia. Tercetusnya sumpah pemuda sebagai bukti bahwa pemuda mengambil peran penting dalam kehidupan berbangsa pada masa lalu. Tercatat bahwa terselenggaranya proklamasi kemerdekaan Indonesia juga tidak lepas dari peran kaum muda.

Semangat yang berkobar-kobar dalam diri anak muda telah mengambil peran penting dalam kehidupan bebangsa yang merdeka, maju dan makmur. Tercetusnya sumpah pemuda adalah bukti bahwa kaum muda memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap Bangsa Indonesia. Kaum muda yang adalah tonggak kehidupan bangsa memiliki peran yang sangat besar dalam menciptakan apa yang terbaik buat bangsa ini.

Arus Modernisme

Baca juga : “Si Vis Pacem, Para Iustitiam” Jika kamu menginginkan perdamaian, tegakkan keadilan.

Kepedulian kaum muda terhadap Bangsa dan Negara akhirnya perlahan mulai tergerus oleh arus modernisme. Istilah yang mengatakan kaum muda adalah tonggak kehidupan bangsa akhirnya menumbulkan keraguan. Kemajuan teknologi dan masuknya budaya asing yang cenderung individualis memberi dampak pada hilangnya semangat sumpah pemuda yang dengan lantang diucapkan pada tahun 1928. Bisa kita jumpai dengan mudah pada generasi saat ini bahwa kaum muda lebih asyik dengan dunianya sendiri yang cenderung mengesampingkan semangat nasionalisme.

Sumpah pemuda yang mendengungkan mengenai bertumpah darah yang satu, yaitu tanah air Indonesia telah tergerus oleh perhatian kaum muda yang lebih mementingkan egoisme dan kesenangan dirinya sendiri dari pada memperhatikan tanah air. Sumpah para pemuda yang mengatakan berbangsa satu, yaitu bangsa Indonesia telah tergerus oleh budaya bangsa asing yang dengan mudah telah merasuki jiwa para kaum muda yang lebih asyik untuk berpenampilan ala kebarat-baratan daripada menampilkan kekhasan bangsa sendiri.

Tidak banyak bisa kita jumpai kaum muda yang masih setia untuk berdiskusi atau berbincang mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka sekarang mungkin akan lebih memilih pergi berbelanja atau jalan-jalan ke Mall atau bersenang-senang sendiri daripada duduk berdiskusi bersama mengenai kasus korupsi yang menggerogoti bangsa ini. sumpah para pemuda yang mengatakan bahwa menjunjung bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia telah tergerus oleh bahasa-bahasa gaul atau tren yang ada sekarang. Kita tahu banwa banyak sekali bahasa-bahasa tren yang muncul di kalangan kaum muda dan perlahan-lahan dapat membuat mereka melupakan bahasa asli persatuan yaitu bahasa Indonesia.

Kemajuan modernisme ini memang membawa dampak yang sangat kita rasakan di kalangan kaum muda. Persoalan-persoalan bangsa dan negara hanya mereka anggap sebagai persoalan kaum tua saja dan mereka akan cenderung asyik dengan dunianya sendiri. Hal ini jauh berbeda dengan keadaan pada masa perjuangan dahulu. Kesadaran kaum muda untuk terlibat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini sangat minim. Sikap individualis dan hedonis yang masuk ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia, perlahan-lahan juga telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan nasionalis para kaum muda generasi sekarang ini.

Masih Ada Harapan

Baca juga : Pentingnya pergi dari tempat kita saat ini dan Matilah di tempat yang jauh…jauh sekali..

Meskipun demikian, kita masih memiliki harapan. Kita masih memiliki segelintir kaum muda yang masih menunjukan kepeduliannya terhadap bangsa. Adanya diskusi-diskusi, yang meskipun kecil, namun diselenggarakan untuk merefleksikan kembali sumpah pemuda di beberapa daerah seakan memberi setitik cahaya harapan. Ada pula salah satu partai yang berbasiskan kaum muda yang telah dinyatakan lolos dalam verifikasi Komisi Pemilihan Umum pada tahun ini juga telah memberi harapan akan peran kaum muda dalam kehidupan bernegara.

Kaum muda masih ada harapan untuk bangkit. Dengan adanya forum-forum atau organisasi lain yang dikelola kaum muda, kita bisa menunjukan bahwa kaum muda bukan hanya sapi peliharaan yang diikat lehernya dan dapat ditarik kemana saja dalam sebuah negara. Kaum muda bukanlah anak bayi yang hanya asyik dengan mainan dunianya sendiri tanpa mau menghiraukan persoalan bangsa.

Kaum muda memang bukan generasi penerus bangsa. Kaum muda bukan generasi penerus bangsa apabila bangsa itu penuh dengan ketidakadilan, korupsi, diskriminasi dan penindasan. Kaum muda adalah generasi perubahan. Kaum muda harus merubah bangsa agar menjadi adil, tidak koruptif, tanpa penindasan dan tanpa diskriminasi.

Di atas pundak kaum muda terbesit harapan perubahan. Sudah saatnya kaum muda tidak hanya menerima dan mendengar saja persoalan yang terjadi di tanah air ini. Sudah saatnya kaum muda membangun kembali sendi-sendi yang terkoyak. Di tangan kaum muda secercah sinar harapan seakan menanti untuk menerangi seluruh negeri. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah mau dan mampukah kaum muda untuk bangun dari ‘tidurnya’? Ingatkah kaum muda akan sumpah pemudanya? Apa yang bisa kaum muda lakukan untuk membangun bangsa ini?

Oleh: Gregorius Eko, Mahasiswa Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya dan Formandi Seminari Tinggi Providentia Dei Surabaya.

Email :  gregoriuspr12@gmail.com

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *