HomeREFLEKSIDISKUSIKonflik Suriah dan Polarisasinya di Indonesia

Konflik Suriah dan Polarisasinya di Indonesia

DISKUSI KEBUDAYAAN KOMUNITAS LIPUTAN MITRA KARYA 0 1 likes 473 views

Minggu (23/05/17), bertempat di Warkop Mbah Cokro “Indonesia Masih Ada”  Surabaya berlangsung obrolan tentang “Konflik Suriah: Apa, Mengapa, dan Bagaimana?”. Obrolan ini menghadirkan Dina Sulaeman dan Bagus Haryono dan Kusuma Wijaya sebagai moderator. Dina Sulaeman, dikenal sebagai pengamat Timur Tengah dan juga seorang penulis novel. Novelnya berjudul “ Salju di Alepo” juga terispirasi dari kisah-kisah di Timur Tengah.

Dina Sulaeman membuka obrolan dengan memberikan gambaran yang cukup lengkap tentang sejarah konflik hingga pihak-pihak yang berkepentingan dalam konflik di kawasan Timur Tengah. Sejarah konflik di Timur tengah, menurut Dina perlu diketahui dan dipahami secara lengkap untuk mencegah “gagal paham” atau falasi (fallacy)  tentang kekacuan dan masalah-masalah yang terjadi kawasan Arab khususnya Suriah.

Dina Sulaeman

Dina Sulaeman, dikenal sebagai pengamat Timur Tengah dan juga seorang penulis novel. Novelnya berjudul “ Salju di Alepo” juga terispirasi dari kisah-kisah di Timur Tengah. Foto. idenera.com

Menurut Dina, konflik Suriah diawali dengan demonstrasi menentang pemerintah, sama  seperti gelombang demostrasi Arab Spring 2011 lainnya. Isu yang diangkat Arab Spring adalah demokratisasi. Namun isu demokratisasi ini gagal mengemuka, karena aksi demostrasi tersebut disusupi kelompok bersenjata yang memiliki cacatan gelap dalam ekskalasi konflik di wilayahTimur Tengah.  Jatuhnya banyak korban jiwa membuat gerakan demokrasi tiarap dan gagal.

“Semua upaya demokratis ini diabaikan dan tiba-tiba saja isu berganti menjadi “penegakan khilafah”. Dan sejak itulah Hizbut Tahrir Indonesia terlihat amat gencar mempropagandakan berita tentang ‘kekejaman rezim Assad’ yang penuh nuansa kebencian pada ‘Syiah Nusairiyah’ (publik tidak banyak tahu apa itu, yang ditangkap hanya Syiah-nya saja dan menyamaratakan dengan semua Syiah). Padahal, di media internasional, nama Hizbut Tahrir tak banyak disebut. Kita di Indonesia tahu bahwa anggota HT ikut bertempur di Suriah karena cerita-cerita orang HTI sendiri.” tulis Dina di blog pribadinya terkait kemelut di Suriah.

Diskusi juga menghadirkan Bagus Hariyono, Dosen Unitomo Surabaya yang mencoba melihat polarisasi konflik Timur Tengah di Indonesia. Menurut Hariyono, tumbuhnya berbagai gerakan radikal dan fundamentalis keagamaan di Indonesia dianggap tidak bisa lepas dari paparan informasi dan gesekan sektarian yang terjadi di Timur Tengah. Kemelut di Timur Tengah  dimanfaatkan oleh kelompok tertentu di Indonesia dan “dijual” untuk mendukung agenda politik kekuasaan dan menghimpun dana masyarakat.

Menurut Bagus, ada beberapa kelompok di Indonesia mencoba menyakinkan masyarakat bahwa yang terjadi di sana adalah perang terhadap Islam, dan Indonesia sebagai negara muslim terbesar wajib membela sesama muslim. Isu ini secara masif dan sistematis dimainkan juga dalam peristiwa sosial politik. Kurangnya pengetahuan dan marak hoax yang sengaja disebarkan,  menjebak sebagian masyarakat dalam radikalisme, fundamentalisme dan anti keberagaman.

“Konflik yang terjadi di Timur Tengah digerakkan oleh negara-negara bermodal besar yang menginginkan jatah ekplorasi energi dan pembangunan infrastuktur” tegas Dina. Keterlibatan Amerika Serikat dalam penyediaan senjata canggih dan mahal, tentu harus ada imbalbaliknya. China yang dikabarkan mengirimkan kelompok radikalis-nya bergabung dengan kelompok bersenjata di Suriah, tidak bisa dilepaskan dari ekspansi China dalam pengerjaan proyek infrastruktur di kawasan Timur Tengah. Begitu juga keterlibatan Rusia, Iran dan negara-negara Eropa.

Konflik Suriah

Suasana obrolan tentang “Konflik Suriah: Apa, Mengapa, dan Bagaimana?” di Warkop Mbah Cokro “Indonesia Masih Ada” Surabaya, Minggu (23/05/17). Foto : idenera.com

“Untuk melawan  falasi (fallacy) Timur Tengah kita butuh data, narasi dan informasi yang memberikan pencerahan bagi masyarakat. Bila kelompok radikal menggunakan media sosial untuk provokasi dan meyebarkan hoax, maka kita tangkis dengan data dan informasi di media sosial juga” kata Dina dalam pernyataan penutupnya.

Bagus Hariyono dalam pernyataan penutup mengatakan “ Terlalu mahal harga yang nantinya harus ditebus bangsa kita. Kita tidak bisa membiarkan kelompok anti keberagaman, radikal, fundamentalis dengan kekuatan massa dan kekerasan mengobrak-abrik Indonesia. Semua warga negara yang waras perlu bersama menghentikan mereka ”

Indonesia sebagai komunitas muslim terbesar di dunia menurut Dina dan Bagus seharusnya lebih cerdas, jadi panutan dan jadi solusi,  bukan malah terjebak dalam  radikalisme dan sektarianisme  yang merugikan kepentingan bangsa. Muslim Indonesia, memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup dalam mengolah keberagaman. Upaya kelompok-kelompok tertentu membawa  konflik dari Timur Tengah  ke Indonesia harus ditangani secara serius baik oleh masyarakat maupun pemerintah.

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *