HomeAKSIPEKAN FILSAFAT UKWMS 2018: Lomba Teater, Film Pendek dan Foto Cerita untuk SMA Se-Surabaya

PEKAN FILSAFAT UKWMS 2018: Lomba Teater, Film Pendek dan Foto Cerita untuk SMA Se-Surabaya

AKSI FILSAFAT KEBUDAYAAN KOMUNITAS 0 0 likes 306 views

Bahasa viral “kids zaman now” diidentikkan bagi kaum muda dewasa ini. Berangkat dari fenomena-fenomena saat ini dapat dilihat bahwa orang muda belum cukup kritis terhadap perkembangan zaman. Hal ini acap kali dilambungkan dengan nada orang muda yang kehilangan orientasi. Artinya, kaum muda tidak memiliki visi yang jelas dalam bertindak atau apa yang harus dilakukan. Beberapa fenomena kaum muda pada umumnya, yaitu konsumsi gawai yang berlebihan, maraknya belanja dalam jaringan (online), dan konsumsi internet yang berlebihan pula. Tentu saja, beberapa fenomena tersebut memiliki dampak untuk ke depannya.

Situasi semacam ini, semakin mempermudah seseorang untuk membuat suatu penilaian buruk terhadap kaum muda. Bahkan masyarakat pada umumnya cenderung menyalahkan mereka, padahal ini merupakan akibat dari suatu pengondisian oleh masyarakat kontemporer. Pengondisian merupakan salah satu kajian filosofis tentang simbol, khususnya pada masyarakat konsumeris.. Masyarakat kontemporer dibentuk oleh rezim kapitalistik yang membuat kaum muda semakin individualis, hedonis dan konsumeris. Atas pengondisian itu, kaum muda terjerembap ke dalam persoalan struktural sehingga dari awal tidak dididik untuk bertindak dengan orientasi tertentu yang jelas.

Pekan Filsafat

Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya mengadakan Festival Teater, Film Pendek dan Photo Essay bagi siswa/i SMA/SMK Se-Surabaya. Keterangan dan pendaftaran klik : https://pekanfilsafatukwms.wixsite.com/pekanfilsafat

Kami sadar bahwa kehilangan orientasi tidak layak untuk disematkan kepada kaum muda. Pada dasarnya, kaum muda belum diajari dengan cukup baik oleh masyarakat tentang orientasi hidup, mengingat bahwa tujuan utama setiap hidup manusia adalah menjadi yang baik. Dalam arti ini, menjadi yang baik lebih menyasar bagi dirinya sendiri, sehingga ada kekurangan dalam ciri kebaikan bersama. Lebih dari itu, kebaikan bersama bukanlah suatu benda yang harus dicari dan dituju, melainkan sesuatu yang harus dibangun bersama.

Kebaikan bersama bukan sebagai sesuatu yang sudah mutlak adanya. Kata kebaikan merujuk pada suatu usaha manusia untuk memenuhi kodratnya yang adalah baik. Sedangkan kata bersama merupakan panggilan untuk saling bahu membahu dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Dalam hal ini, antusiasme dan otentisitas anak muda dibutuhkan untuk membentuk apa yang baik. Sesuatu yang baik itu tidak meninggalkan pembentuknya. Artinya, kaum muda bervisi mampu mengekspresikan sesuatu yang berharga pada dirinya sebagai kekhasan dan keunikannya. Pemaknaan atas kekhasan dan keunikan kaum muda disoroti sebagai eksistensi-nya. Sisi eksistensi bukan dalam pengertian narsis, melainkan menjadi “diri autentik”. Istilah ini telah digulati oleh seorang filsuf modern yang bernama Soren Kierkegaard. Dia mengatakan bahwa Aku harus bertindak sebagai “aktor” kehidupan. Aku yang autentik mampu mengambil keputusan dasariah bagi arah hidupku sendiri. Maka, kaum muda tidak melulu hanyut ke dalam kerumunan, melainkan bereksistensi untuk mengarahkan hidupnya. Tentunya, ‘diri autentik’ dalam kaum muda untuk membangun kebaikan bersama.

Baca juga : Festival Teater dan Pekan Filsafat 2017 kembali digelar

Berdasarkan uraian di atas, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya  mencoba menjawabi pertanyaan yang muncul dengan mengadakan Festival Teater, Film Pendek dan Photo Essay bagi siswa/i SMA/SMK Se-Surabaya. Kegiatan ini diadakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-8 berdirinya Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala. Selain dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-8 berdirinya Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, kegiatan ini juga memiliki sumbangan terhadap masyarakat, khususnya masyarakat Surabaya. Selain itu, kegiatan ini dianggap dapat menjadi alat bantu dalam memunculkan ekspresi dan menyampaikan gagasan kritis atas situasi di sekitar, khususnya tentang kaum muda yang memiliki kekhasan membangun kebaikan bersama.

Kaum Muda yaituiswa/i SMA/SMK kami pilih untuk menjadi subjek agar mereka mampu menjadi generasi muda yang kritis dan autentik, tidak hanyut dalam arus dan mampu membangun kebaikan bersama. Dalam proses kegiatan Pekan Filsafat 2018 nanti, siswa/i SMA/SMK diajak untuk berpikir krits dan autentik tehadap kondisi zaman. Kondisi zaman yang dimaksudkan adalah yang akrab dengan kegiatan mereka sehari-hari. Mereka diajak untuk berefleksi dan memaknai hidup ini lebih mendalam. Tentu saja, hal ini dapat diperluas melalui observasi langsung dalam realitas. Dengan diadakannya lomba ini, diharapkan kaum muda dapat berpartisipasi, sehingga dalam prosesnya, nilai bineka dalam “diri autentik” guna membangun kebaikan bersama dapat lebih terwujud.

Informasi tentang kegiatan ini :

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *