HomeNARASIFILSAFATMural : Antara Seni dan Makna yang Tak Pernah Habis
Mural

Mural : Antara Seni dan Makna yang Tak Pernah Habis

FILSAFAT KOMUNITAS NARASI 0 0 likes 91 views

Hidup manusia tidak pernah lepas dari seni. Perkembangan seni kiranya juga berbanding lurus dengan perkembangan manusia. Dengan kata lain, seiring berkembangnya zaman, seni pun semakin maju dan beragam bentuknya. Dewasa ini, banyak sekali bentuk-bentuk karya seni. Salah satu bentuk karya seni adalah mural. Mural seringkali kita jumpai di banyak tempat seperti di pinggir jalan atau di sudut-sudut kota. Beberapa mural tentu menarik perhatian dan membuat pengamatnya mencoba memahami apa yang dimaksud pelukis mural lewat lukisannya. Sebagai contoh, foto dibawah ini adalah salah satu lukisan mural di Tambak Bayan Surabaya.

Selintas akan timbul sebuah pertanyaan ‘apa makna dari mural tersebut?’ dan perlahan mencoba mengamati lebih dalam dan mencari maknanya. Sudah tentu bahwa gambar mural di atas akan dimaknai secara berbeda-beda antara pengamat satu dengan yang lain. Nampaknya makna mural tidak akan pernah ada habisnya.

Mural

Mural berasal dari bahasa Latin murus yang berarti dinding. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mural berarti “lukisan pada dinding”[1]. Istilah mural adakalanya juga dipakai untuk menyebut struktur lengkung atau kubah yang menempel pada dinding.[2] Dinding dipandang tidak hanya sebagai pembatas ruang maupun sekedar unsur yang harus ada dalam bangunan rumah atau gedung, namun di dinding juga dipandang sebagai medium untuk memperindah ruang.[3] Dinding atau tembok yang biasanya difungsikan hanya sebagai pembatas ruangan. Bagi seni mural, dinding merupakan media yang tepat dan sesuai untuk berekspresi.

Dalam perjalanannya, mural kerapkali disamakan dengan grafiti.[4] Mural dan grafiti berbeda. Grafiti lebih menekankan pada tulisan-tulisan sedangkan mural menekankan pada keindahan dan nilai. Mural mencoba menyampaikan nilai dalam lukisannya sedangkan grafiti mencoba menyampaikan tulisan yang dihasilkan. Tambahan lagi, grafiti kebanyakan dibuat dengan cat semprot sedangkan mural tidak demikian. Seni mural lebih bebas karena dapat menggunakan media cat tembok atau cat kayu.

Dalam perkembangannya mural telah menjadi bagian dari seni publik yang melibatkan komunikasi dua arah. Pelukis mural melakukan komunikasi secara visual kepada masyarakat. Masyarakat sebagai penikmat mural dapat berinteraksi langsung dengan pelukis. Oleh karena itu, seni mural tidak hanya berinteraksi secara visual namun juga secara verbal. Adapun beberapa fungsi mural, pertama, fungsi politik yakni mural digunakan untuk menyuarakan aspirasi rakyat atau menyampaikan pesan politik. Kedua, fungsi sosial budaya yakni mural digunakan untuk memunculkan kebudayaan khas dari suatu wilayah atau daerah sehingga memunculkan identitas kota. Ketiga, fungsi estetik yakni mural digunakan untuk menambah keindahan dari suatu ruangan. Keempat, fungsi ekonomi yakni mural digunakan untuk kepentingan ekonomi seperti iklan-iklan produk.

Jacques Derrida

Jacques Derrida dilahirkan pada tahun 1930 di Algeria, Aljazair. Pada tahun 1952, Derrida belajar di Ecole Normale Superieure. Tahun 1953 hingga 1954, Derrida pergi ke Leuven, Belgia untuk studi teks milik Husserl. Tahun 1960 hingga 1964, Derrida mengajar di Universitas Sorbonne lalu kembali ke Ecole Normale Superieure. Selain itu, ia juga sempat mengajar sebagai dosen tamu di beberapa universitas lainnya. Derrida meninggal pada tahun 2004.

Derrida terkenal dengan teorinya mengenai dekonstruksi. Terdapat dua konsep dalam dekonstruksi, yakni deskripsi atau penggambaran dan transformasi. Dalam kajian lintas ilmu, dekonstruksi digambarkan sebagai kekuatan untuk mengubah dan membelah kepastian dan pakem-pakem lama yang tidak lagi dipertanyakan.[5] Ada beberapa istilah yang kiranya punya kaitan dengan dekonstruksi, yakni differance, trace, dan iterabililtas. Kata differance merupakan kata bentukan dari Derrida. Kata differance terdiri dari dua kata yakni to differ (untuk membedakan) dan to defer (untuk menunda kepastian). Singkat kata, kata differance ingin menunjukkan bahwa kebenaran dan makna dalam suatu teks harus terus dibedakan dan ditangguhkan kepastiannya. Oleh karena itu, makna tidak bisa diputuskan. Oleh karena kebenaran selalu ditangguhkan dan dibedakan terus menerus, maka kebenaran itu sendiri pada dasarnya tidak ada. Hanya jejak-jejak atau trace dari kebenaran yang kiranya dapat ditemukan dan diketahui. Sedangkan iterabilitas merupakan kemampuan suatu teks untuk selalu dimaknai terus menerus dalam konteks yang berbeda-beda.[6]

Makna Mural yang Tak Pernah Habis

Sudah dikatakan di awal bawa mural berbeda dengan grafiti. Mural punya nilai yang ingin diusung atau ditampilkan kepada pengamatnya. Hal tersebut yang menyebabkan pengamat dapat menangkap nilai atau makna dari suatu mural. Setiap pengamat dapat secara bebas untuk memaknai suatu mural. Pengamatan antara satu orang dengan yang lain pastinya berbeda, sehingga makna yang dihasilkan juga berbeda-beda. Dengan kata lain, tidak ada makna yang pasti dalam mural.  Seperti contoh di atas, hasil pemaknaan mural akan berbeda-beda tergantung pengamatnya.

Nampaknya, hal ini persis seperti pemikiran Derrida bahwa makna harus selalu ditangguhkan dan dibedakan terus menerus. Pada akhirnya, Makna mural harus selalu ditangguhkan dan dibedakan terus menerus, baik dari makna pelukis mural maupun dari makna pengamat yang lain. Kebenaran makna dalam suatu mural pun hanya ditemukan dalam bentuk jejak-jejak yang tak lain adalah para pengamat mural. Dapat dikatakan bahwa makna suatu mural akan sebanyak pengamat yang melakukan pemaknaan. Suatu mural akan selalu terbuka untuk selalu dimaknai. Oleh karena itu, makna suatu mural tidak akan pernah habis dan selalu baru sesuai dengan pemaknaan pengamatnya.

Oleh: Stefanus Eka Tommy Maryono. Penulis adalah mahasiswa semester IV Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (NRP: 1323015016); e-mail: icetea120@gmail.com. Diterbitkan atas kerjasama www.idenera.com, NERA ACADEMIA INDONESIA dan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

 Sumber Referensi:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Ensiklopedi Nasional Indonesia, PT Cipta Adi Pustaka, Jakarta 1988.

Mural diakses dari www.kbbi.web.id, pada tanggal 1 Juni 2017, pukul 18:22 WIB.

http://www.dgi-indonesia.com/berkomunikasi-secara-visual-melalui-mural-di-jogjakarta.html, diakses tanggal 19 Desember 2015 pukul 17:02 WIB.

https://rumahfilsafat.com/2009/11/29/derrida-dan-dekonstruksi.html, diakses pada tanggal 12 Mei 2017, pukul 20:27 WIB.

[1] Diakses dari “www.kkbi.web.id”, pada tanggal 1 Juni 2017 pukul 18.22 WIB.

[2] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, “Mural”, Ensiklopedi Nasional Indonesia, PT Cipta Adi Pustaka, Jakarta 1988, 404.

[3] http://dgi-indonesia.com/berkomunikasi-secara-visual-melalui-mural-di-jogjakarta.html, dalam“Berkomunikasi Secara Visual Melalui Mural di Jogjakarta”, diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pukul 17:02 WIB.

[4] Grafiti adalah tulisan yang diwujudnyatakan dalam coretan-coretan komposisi bentuk dan warna.

[5] Wattimena, Reza A.A., “Derrida dan Dekonstruksi”, https://rumahfilsafat.com/2009/11/29/derrida-dan-dekonstruksi.html, diakses pada 12 Mei 2017, pukul 20:27 WIB.

[6] Ibid.

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *