HomeREFLEKSIDISKUSIManusia memilih berperang atau berdamai dengan sampah

Manusia memilih berperang atau berdamai dengan sampah

DISKUSI LINGKUNGAN REFLEKSI WARGA 0 2 likes 137 views

Apa yang anda pikirkan tentang sampah ? tentunya adalah sesuatu yang “menjijikkan” dan hanya sebuah buangan dari peradaban manusia itu sendiri. Memang benar, sampah adalah buangan, dan sampah menunjukkan seberapa maju peradaban zaman itu. Sampah telah ada bahkan sejak zaman manusia belum mengenal tulisan, mulai dari kjokkenmoddinger (sampah dapur) zaman prasejarah mesolitikum,sampai dengan penemuan revolusioner bahan plastik yang praktis, bahkan bahan plastik ada hampir disetiap kehidupan manusia.

Baca juga : UKMK St. Paulus Unitomo Surabaya menyerahkan paket donasi di SDN Nanga Boleng, Manggarai Barat

Plastik memang mudah dan praktis,namun sampah dari bahan plastik sangat lama diuraikan oleh mikroba alami. Karena perkembangan zaman dan pertumbuhan populasi yang pesat, sampah yang terurai sangat lama inilah yang menjadi masalah dan seluruh negara di dunia mencoba “memerangi” sampah demi terwujudnya masyarakat sehat di masing-masing negara.

Sentra pengolahan sampah milik Pemkot Surabaya di Bratang. Foto : Dito Udayana Dwiputra

Setiap negara mencoba meneliti sampah dan membuat inovasi mereka agar masalah sampah dapat habis. Bahkan negara-negara maju di barat bergantung kepada China untuk urusan sampah mereka. Berdasar data industri pada 2016, negara yang dipimpin Xi Jinping itu telah mengimpor separuh sampah kertas, besi, dan plastik dari seluruh dunia.

Negara-negara Eropa-lah yang paling banyak mengirimkan sampahnya. Irlandia misalnya. Sebanyak 95 persen sampah yang mereka hasilkan diekspor ke Tiongkok. Inggris mengirimkan 2,7 juta ton atau dua pertiga. Sedangkan Amerika Serikat (AS) mencapai 14,6 juta ton. Tidak berlebihan jika ada artikel yang menyebutkan bahwa tidak perlu senjata nuklir untuk membuat negara-negara Eropa kelimpungan, cukup berhenti menampung sampah seperti yang dilakukan China.

Baca juga : Kampung Pelangi, upaya penataan oleh Pemerintah Kota Surabaya

Negara-negara tersebut sekarang kebingungan kemanakah sampah yang dihasilkan akan diekspor, mereka mulai mencari negara dunia ketiga seperti India,dan Indonesia untuk mengekspor sampah mereka. Siapkah Indonesia menerima sampah mereka jika pada salah artikel  Jambeck (2015) mengungkapkan bahwa Indonesia menempati posisi kedua penyumbang sampah terbesar di dunia hingga 187,2 juta ton, setelah negara Cina?.

Bagaimana dengan nasib sampah didunia? Apa yang terjadi dalam film WALL.E (2008) atau animasi Astro Boy akan menjadi kenyataan? Apakah perang terhadap sampah dapat dimenangkan? atau malah manusia berdamai dengan sampah?.

Di era modern ini segala sesuatu serba praktis, serba canggih, dan serba cepat, bahkan ada anggapan bahwa kecepatan perkembangan teknologi manusia dalam 200 tahun mengalahkan apa yang telah tercapai ribuan tahun sebelumnya. Penyakit yang menjadi wabah selama ribuan tahun manusia telah menemukan vaksinnya, dan penyakit berevolusi semakin banyak dan manusia lagi dan lagi berusaha untuk menemukan obatnya, dan bagaimana dengan sampah yang telah ada selama berabad-abad kehidupan manusia? manusia pun telah menelitinya dan mencoba menghasilkan inovasi baru dari sampah yang dianggap barang paling hina didunia menjadi barang yang setara minyak bumi, semata-mata untuk menghilangkan masalah sampah dan menemukan pengganti bahan bakar fosil yang sewaktu-waktu dapat habis.

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang menjadi energi terbarukan. Foto : Dito Udayana Dwiputra

Adalah penemuan revolusioner Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang menjadi energi terbarukan. Di kota-kota besar di Indonesia  sudah dimulai untuk mengatasi problem sampah di kota-kota besar yang notabene padat penduduk. Slogan 3R  yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang) sejauh ini efektif untuk menyadarkan bahwa pengurangan,penggunaan kembali setelah didaur ulang itu penting untuk meminimalisir sampah yang dihasilkan manusia.

Di Indonesia sampah merupakan problem mendasar yang sering tidak diperhatikan dalam pembangunan pemukiman baru, ambil contoh Jepang, negara maju di Kawasan Asia Timur ini sangat memperhatikan pembuangan limbah setiap pemukimannya. Dirintis oleh gerakan chonaikai di Jepang, 30 tahun lalu. Selama 20 tahun, komunitas tersebut terus konsisten meraih simpati dan berkembang pesat hingga akhirnya malah dapat memberi tekanan sosial pada pihak pemerintah untuk memperhatikan sampah dan masyarakat pun sadar dan malu bila membuang sampah sembarangan. Di Indonesia sendiri yang tingkat korupsi tinggi, limbah beracun bahkan dijadikan objek korupsi, sebut saja “SN” seorang politikus kelas kakap yang banyak terjerat kasus korupsi bahkan mengorupsi limbah beracun dari negeri sebrang, Tak heran bila budaya buang sampah pada tempatnya di masyarakat masih sangat minim bila pemimpinnya saja mengorupsi sampah untuk kantong pribadinya.

Pengolahan sampah agar tidak mencemari laut di Suarabaya . Foto : Dito Udayana Dwiputra

Terlepas dari hal-hal kekurangan tersebut, Indonesia pun mengembangkan sampah sebagai bahan campuran aspal untuk membuat infrastruktur jalan, diharapkan Indonesia mengembangkan penemuan tersebut untuk menghubungkan daerah tertinggal di Indonesia agar sila ke-5 Pancasila dapat terwujud. Limbah pemukiman pun harus diolah terlebih dahulu sebelum dialirkan ke laut  sehingga dapat menghilangkan resiko pencemaran lingkungan akibat limbah.

Di Surabaya yang pemimpinnya Tri Rismaharini, mendapat penghargaan walikota terbaik ke 3 didunia atas kepemimpinannya yang mempercantik tata kota, membangun wilayah yang sebelumnya kumuh menjadi lebih “berwarna” yang disulap menjadi kampung bersih yang menjadi spot foto. Taman-taman yang sebelumnya hanya sebagai pelengkap di sudut-sudut kota disulap menjadi tempat wisata murah meriah bagi masyarakat, menjadi tempat edukasi bagi anak-anak dan tempat melepaskan penat akan hiruk pikuk kota besar, dan hampir disetiap sudut taman terdapat tempat sampah sehingga budaya buang sampah pada tempatnya dapat diterapkan.

Tempat Sampah di taman kota Surabaya. Foto : Dito Udayana Dwiputra

Baca juga : Rekrutmen Relawan Kelas Tunas, Program pendampingan anak-anak oleh Nera Academia

Di dekat taman-taman itu juga tersedia TPS (Tempat Penampungan Sampah) yang menampung sampah, sehingga bau sampah dapat dinetralisir oleh taman-taman tersebut,terdapat sarana pemilahan sampah sehingga prinsip 3R tersebut dapat terwujud, dan menjadi pupuk untuk merawat tanaman yang ada di taman tersebut, dan diperjualbelikan untuk merawat tanaman sebagai penyegar udara kota, sehingga polusi udara dapat diredam dan diminimalisir. Di Indonesia sendiri menerapkan pembangunan sebuah gedung harus memperhatikan Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) sehingga kerusakan lingkungan dapat dicegah, dan pembangunan berkelanjutan dapat dilakukan tanpa merusak lingkungan.

Alam ini merupakan anugerah dari Tuhan bagi manusia yang harus dijaga dan diteruskan estafet dari generasi sebelumnya ke generasi selanjutnya, atas nama kepraktisan dan pundi-pundi penghasilan, manusia sering melupakan alam yang menjadi awal mula berkembangnya manusia sehingga maraknya kejadian seperti kebakaran hutan,banjir,dll karena manusia melupakan alam sehingga seiring berjalannya waktu sampah sebagai buangan dari peradaban manusia menjadi lebih banyak, dan pertumbuhan penduduk manusia jugalah faktor dari pertambahan sampah tersebut, namun sampah juga merupakan bagian dari hidup setiap manusia. Oleh sebab itu, bukan mencari cara memerangi dan memusnahkan  sampahlah yang dapat menyelesaikan masalah sampah, karena setiap manusia pun menghasilkan sampah setiap harinya, akan tetapi bagaimana caranya berdamai dengan sampah atau bahkan menghargai sampah sebagai benda yang berharga. Oleh sebab itu sebaiknya jadikanlah sampah tersebut sebagai masa depan manusia, bukan musuh manusia.

 

Teks dan foto oleh : Dito Udayana Dwiputra, Pemenang Lomba Foto Esai  dalam Pekan Filsafat 2018 yang diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya dan didukung oleh Nera Academia dan www.idenera.com. 

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *