HomeAKSINeratalk : Indonesia mau tidak mau terikat dan terhubung dengan mitos
Neratalk

Neratalk : Indonesia mau tidak mau terikat dan terhubung dengan mitos

AKSI FILSAFAT KAMI KEBUDAYAAN KOMUNITAS MITRA KARYA SEJARAH 0 1 likes 129 views

Walau sedari siang  (Senin, 11 Desember 2017)  Surabaya diguyur hujan lebat, Neratalk Season II Eps 1 ” Indonesia dalam Mitos” tetap berlangsung seru.  Diskusi dibuka dengan  tampilan musik akustik dari Generasi Muda Adonara (GEMA) Surabaya dan Perkusi Sanggar Alfaz dan Bayu Mili Gempol.

Baca juga : Ngobrol Pancasila Masih Ada di Warung Mbah Cokro

Sebagai pengantar diskusi, Anas Hidayat menampilkan Wayang Arek yang berjudul Kontraktor dan Roro Jongrang. Berkisah tentang kontaktor yang disewa untuk membangun candi dalam semalam. Candi yang dimintapun gagal berdiri dan kontraktornya kabur.

Nera Academia.

Penampilan perkusi Sanggar Alfaz dan Bayu Mili Gempol. Foto : idenera

Neratalk “Indonesia dalam Mitos” adalah sub tema dari Indonesia Yang Disempurnakan, tema besar Neratalk Season II yang merupakan rangkaian diskusi populer yang dilaksanakan Nera Academia.

Banyak yang bertanya “kenapa bahas mitos?”. Bukankah masih banyak hal yang aktuil dan seksis?

“ Nah itu dia, Neratalk tidak semata tentang aktuil dan trend. Neratalk itu ruang perjumpaan, dialektika, wacana, ide, gagasan, ekspresi dan kolaborasi” kata Juven Timur, Manajer Program Neratalk.

Mitos, memberikan peran penting dalam pembentukan identitas Indonesia. Hamparan Nusantara, dalam proses penyatuannya jadi Indonesia, selalu tidak lepas dari mitologi.

Baca juga : Rekrutmen Relawan Kelas Tunas, Program pendampingan anak-anak oleh Nera Academia

“ Tidak salah bila kita menganggap mitos merupakan “instrumen” penting dalam pembentukan imajinasi kita tentang Indonesia dimasa datang” jelas Juven.

 Nera Academia.

Anas Hidayat menampilkan Wayang Arek yang berjudul Kontraktor dan Roro Jongrang. Foto: idenera

Anas Hidayat, Dosen Arsitektur yang merangkap dalang pada malam itu mengatakan Indonesia mau tidak mau terikat dan terhubung dengan mitos. Masyarakat Indonesia percaya dengan banyak  hal.

“Dewa-dewi ya percaya, Tuhan ya percaya, hantu ya percaya dan apalagi mitos yang secara turun temurun diceritakan” kata Anas hidayat

Baca juga : Mitos Pertahanan Ruang Nusantara & Pertahanan Ruang Per-Empu-An

Thomas Satriya, Pengajar Sejarah mengatakan bahwa ada situasi Indonesia beranjak dari keterikatan masa lalu. Situasi dimana masyarakat tidak lagi melihat mitos sebagai sumber kebijaksanaan. Dalam beberapa peristiwa sejarah dan kejadian akhir-akhir ini, ada kecenderungan mitos digunakan melegitimasi tindakan hanya untuk keuntungan kelompok atau pribadi.

“Perampasan tanah rakyat, dengan dalih-dalih mitos kekuasaan terjadi” ujar alumnus Fakultas Filsafat UGM ini.

Mitos yang cenderung menindas ini, bertentangan dengan cita-cita Indonesia, tentang penghapusan diskrimasi dan penjajahan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan.

“Indonesia, lahir dan tumbuh dalam imajinasi-imajinasi. Bahkan Pancasila dan UUD adalah hasil imajinasi tentang kehidupan dan kebaikan bersama yang dinamakan Indonesia” kata Simon Untara, Dosen Fakultas Filsafat UKWM Surabaya.

Baca juga : Indonesia, Negeri Imajinasi

Simon melanjutkan, Indonesia saat ini  bergumul dengan imajinasi-imajinasi baru. Imajinasi-imajinasi yg mungkin saja diinspirasi masa lalu untuk menemukan identitas, cara laku, cara berpikir baru tentang Indonesia. Indonesia yang manusiawi. Indonesia yang berpikir tentang kebaikan bersama. Indonesia dengan habitus baru.

Nera Academia.

Nara sumber Neratalk “Indonesia Dalam Mitos”. Dari kanan, Anas Hidayat, Simon Untara dan Thomas Satriya. Foto : idenera.

Obrolan yang dimoderatori Saras Dumasari, berhasil  mengacak-acak pikiran dan gagasan pengunjung Warung Mbah Cokro. Pengunjung yang semula hanya datang untuk ngopi, terlibat dan larut dalam diskusi. Diskusi jadi hidup dan bernas.

Juffen Timur, manager Neratalk mengatakan Neratalk jadi menarik dan seru karena heterogenitasnya. Digagas sebagai ruang perjumpaan, Neratalk cukup membantu Nera Academia untuk berjejaring dengan kawan baru, komunitas baru, gagasan baru dan bahkan melahirkan sekian kegiatan kolaborasi.

“Setiap sesi Neratalk selalu ada hal baru. Ada teman yang baru bergabung, ada yang penasaran dan ada juga yang dengan keras mengkritik. Kritik tentang tema, pembicara, model dan sebagainya itu biasa.  Itu yang membuatnya seru “ kata Ria Tekat, Biro Pengembangan Kapasitas Nera Academia.

Menurut Ria  ada yang tidak seru, ketika niat koreksi terhadap kami hanya sebatas rasan-rasan tanpa tersampaikan dengan jelas dan gentel. “Ngomong o rek, teko o ndek Mbah Cokro “INDONESIA MASIH ADA”, nanti sambil ngopi la enak “ lanjut Ria.

Foto Nera Academia.

Saras Dumasari (kanan) moderator Neratal dan peserta diskusi .

Diskus Neratalk “ Indonesia dalam Mitos” dihadiri aktivis lintas komunitas di Surabaya. Tercatat hadir Aktivis Perempuan Sampang, IPNU, Gema Adonara, GKJW, UINSA, UNESA, Univ PGRI Sby, GMKI Surabaya, Komunitas Sepeda Tua, BEM Unitomo dan teman-teman yg memprokamirkan diri sebagai Rakyat Indonesia Biasa dan WNI Imajiner.

Baca juga : Ziarah : Kait Mengait Sejarah, Kuasa dan Personal

Seri diskusi Neratalk oleh Nera Academia ini didukung oleh  Warung Mbah Cokro “INDONESIA MASIH ADA”, Fakultas Filsafat UKWM, Lesnika UKDC, KPI (Koalisi Perempuan Indonesia) Jawa Timur, Sanggar ALfaz, LPM Solidaritas, LPM Akta Surya AWS, Cogito, UKMK St.Paulus Unitomo,  Nerakopi, Madani dan Hari Seni Cokro.

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *