HomeAKSIOei Hiem Hwie : Tidak semua kita bisa membaca sejarah dengan utuh

Oei Hiem Hwie : Tidak semua kita bisa membaca sejarah dengan utuh

AKSI KEBUDAYAAN KOMUNITAS LIPUTAN SEJARAH 0 1 likes 107 views

“Tidak semua kita bisa membaca sejarah dengan utuh. Cerita sejarah dalam buku-buku tidak lengkap bahkan sengaja dibuat tidak lengkap. Tugas generasi muda sekarang, mengumpulkan catatan yang tercecer itu untuk melengkapinya” kata Oei Hiem Hwie

Lihat Profile: Oei Hiem Hwie : Merawat Sejarah

Oei Hiem Hwie, lahir di Malang 24 Nov 1935.  Om Hwie, begitu orang-orang menyapanya.  Ia adalah saksi  peristiwa sejarah tahun 1965 yang terjadi di Indonesia. Semasa mudanya, tepatnya tahun 1962;  Hwie bekerja sebagai jurnalis di Harian Pagi Trompet Masjarakat yang terbit di Surabaya . Kantornya dulu berlokasi di seberang Tugu Pahlawan Surabaya.

Diskusi dimulai dengan pemutaran Film Dokumenter Setelah 1965 yang menampilkan pengakuan saksi, pelaku dan korban tindak kekerasan tahun 1965. Foto : @Andreyuris

Meletusnya peristiwa 30 September 1965 membuat Harian Pagi Trompet Masjarakat tempatnya bekerja ditutup dan ia ditangkap. Beberapa tahun Hiew berpindah-pindah penjara. Baru pada tahun 1970,  dengan beberapa tahanan lain ia dipindahkan ke kamp Pulau Buru. Di Pulau Buru inilah Om Hwie bertemu dengan Pramudya Ananta Toer.

Sampai saat ini ia masih bingung dan bertanya-tanya alasan penangkapannya. Tuduhan sebagai PKI (Partai Komunis Indonesia) ditentangnya, karena kenyataanya ia tidak tergabung dalam partai maupun organisasi underbow partai. Om Hiew hanya menduga “ Mungkin karena saya Sukarnois”.

“ Pertemuan dengan Pram dan jadi tahanan Pulau Buru seperti akademi, tempat saya belajar. Sesama tahanan kami membentuk  kelompok belajar, untuk belajar bahasa, dan juga untuk mengarahkan pikiran “ kata Om Hiew. Saat dibebaskan tahin 1968, Ia meyelundupkan naskah Tetralogi Pulau Buru  karya Pramudya sehingga bisa diterbitkan dan dibaca sampai saat ini. Naskah asli tulisan Pram di atas kertas semen masih tersimpan rapi di Perpustakaan Medayu Agung yang ia kelolah.

Baca Juga : Ke-Tuhanan dalam Sosialisme (Religius) Indonesia

Oei Hiem Hwie  diundang sebagai pembicara dalam diskusi ” Manusia Enemlima” yang diselenggarakan hari Jumat (06/10/2017) di Kampus Widya Mandala.  Diskusi yang digagas oleh Nera Academia dan Cogito Fakultas Filsafat ini berupaya menghadirkan narasi  kemanusiaan dalam sejarah peristiwa politik  1965.

“Manusia Enemlima, memberi pesan bahwa konflik politik tahun 1965, bukan hanya tentang menyalahkan atau membenarkan satu pihak namun harus ditempatkan sebagai tragedi kemanusiaan luar biasa” kata Andre Yuris, Founder Nera Aacademia.

Peserta diskusi berfoto dengan Om Hiew. Diskusi dihadiri kurang lebih tujupuluh orang muda dan mahasiswa dari berbagai kampus di Surabaya. Foto : @Andreyuris

Andre juga mengatakan bahwa dengan ditempatkan sebagai tragedi kemanusiaan, barulah  kita buka kembali  catatan-catatan kelam yang selama ini disembunyikan. Korban peristiwa 1965 dari pihak manapun harusnya dipulihkan harkat dan martabatnya dengan pengungkapan fakta sejarah yang benar. Hanya dengan itu kita bisa berdamai dengan peristiwa kelam masa lalu.

“Masih adanya presekusi sampai saat ini adalah akibat negara lalai mengungkap kebenaran. Jadi, jangan heran tabiat kekekerasan aparat terhadap masyarakat, masyarakat dengan masyarakat langgeng. Itu kerena peristiwa kekerasan masa lampau tidak pernah diselesaikan” jelas Andre.

Diskusi dimulai dengan pemutaran Film Dokumenter Setelah 1965 yang menampilkan pengakuan saksi, pelaku dan korban tindak kekerasan tahun 1965. Acara diskusi yang dihadiri kurang lebih limapuluh orang muda dan mahasiswa dari berbagai kampus di Surabaya ini berlangsung seru dan interaktif.

Baca juga : Dari Timur Pancasila: Spiritualisme Kebangsaan

“ Generasi mudalah yang akan melengkapi, bahkan mencari fakta-fakta sejarah yang hilang atau yang sengaja dihilangkan “ ungkap Oki, Aktivis Gerakan Rakyat Kuasa yang hadir dalam diskusi.

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *