HomeREFLEKSIBUKUOrang Helong, ‘Betawinya’ Kota Kupang
Anak-Anak di Pulau Timor

Orang Helong, ‘Betawinya’ Kota Kupang

BUKU KEBUDAYAAN NARASI SEJARAH 1 6 likes 2.1K views

Suku Helong tenggelam bersama sejarah Kota Kupang. Tidak banyak catatan ilmiah untuk menggali kisah suku  yang bermukim di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur ini. Beberapa data dan teks merupakan peninggalan kolonial, misionaris, catatan pemerintah dan kisah lisan. Tulisan ini terbatas pada informasi yang tersaji dari Buku Koepang Tempo Doloe (Luitnan, Ruas, 2012).

Etnis ini seperti suku Betawi di Jakarta yang tenggelam dalam hiruk pikuk pembangunan fisik. Suku Helong sebenarnya dari Nusa Ina, nama lain dari Pulau Seram. Seram merupakan pulau yang berada pada gugusan kepulauan Maluku. Pulau Seram luasnya 18.625 km2 dengan panjang 340 km dan lebar 60 km. Pulau ini digambarkan memiliki alam yang subur, dengan hutan tropis. Puncak tertinggi di sana bernama Gunung Binaiya.

Awalnya etnis Helong berdiam di Pulau Seram. Namun entah apa alasannya, suku ini bermigrasi ke Pulau Timor. Dugaan sementara, migrasi karena bencana alam atau karena konflik saudara. Namun hipotesa ini perlu diuji lebih lanjut. Secara asal usul kata, Helong berasal dari kata he yang berarti jual dan lo berarti tidak. Kata helo berarti tidak dijual. Secara umum, kata heloberarti pengorbanan atau rela berkorban.

Filosofi etnis Helong diyakini mewarisi sikap sedia berkorban dan tidak rela kalau lingkungannya diganggu. Jika diganggu, maka dia berbalik membalas. Antropolog Unika Widya Mandira Kupang, DR Gregorius Neonbasu mengungkapkan, ketika orang menunjuk ke Pulau Semau-yang acapkali disebut Bung Tilu (tiga kembang)– terungkap makna, “Semau tidak dijual.”

Bungtilu menginspirasi beberapa nama. Salah satunya nama Viktor Bungtilu Laiskodat (anggota parlemen asal daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur).Teori Rakit dalam Antropologi Etnik, kata Neonbasu, menjelaskan perjalanan  suku-suku arkais yang mengikuti saja rakit membawa mereka ke mana. Di tempat mereka terdampar, di sanalah mereka memulai kehidupan baru.

Rombongan Helong yang keluar dari Seram tidak diketahui pasti berapa jumlahnya. Bertindak sebagai pemimpin kala itu adalah Lai Topan yang tugasnya sebagai perintis jalan yang didampingi Lai Tabun. Konon, Koen Lai Bissi dan Lissin Lai Bissi dikisahkan tetap memimpin mengarungi Laut Banda yang luas serta gelombangnya yang dahsyat.

Setelah mengarungi lautan ganas menggunakan rakit dan tanpa kompas akhirnya, kelompok itu mendarat di Amboka/Tutulata, ujung timur Pulau Timor. Terjadi peristiwa misterius yang dialami Koen Lai Bissi saat mandi berendam di Pantai Amboka. Dia tiba-tiba berubah menjadi seekor buaya. Alhasil, rombongan yang melintasi daratan menuju ujung Barat dipimpin oleh  Lissin Lai Bissi.

Perjalanan yang cukup memakan waktu dan lintas generasi ini akhirnya tiba di bagian barat Pulau Timor dan membentuk dua perkampungan tradisional yakni Kaisalun(Fatufeto) dan Bunibaun (Bonipoi). Dalam penuturan Buku Koepang Tempo Doloe keturunan Raja Bissing Lissin yakni Koen Lai Bissi yang memimpin etnis Helong. Jejaknya terdapat pada Sonaf yang dikenal dengan Sonaf Koe Pan.

Ishak mencatat, nama Kupang sebenarnya bermetamorfosa dari nama Koe Pan, nama sonaf/istana Helong. Etnis Helong memiliki Bahasa ibu yang dinamakan Bahasa Helong. Sekarang, penyebaran etnik ini di Pulau Timor di antaranya di Pulau Semau, Kolhua, Bi Upu, Ui Hani, Uilautsala, Kuan Boke, Bismarak, Bolok, Binael, alak, Boenana, Uimatnunu, Uilesa, dan sebagian tablolong dan Klaibe.

Kolhua merupakan tempat komunitas Helong terbanyak di Kota Kupang. Tidak heran penulis KTD mengusulkan Kolhua ditetapkan menjadi desa Komunitas Helong di Kupang. Pengakuan ini akan menjadi penting kemudian agar tidak tergerusnya Helong dan budayanya dalam dinamika kota karang.

Suku Helong memiliki kebiasaan mengungkapkan syair-syair untuk memperkuat hubungan persaudaraan di antara mereka. Syair itu biasnya dituturkan oleh tetua adat dengan bahasa yang halus dan puitis untuk mengungkapkan kenyataan hidup. Ungkapan-ungkapan itu acapkali diberi bumbu mitos.

Syair-syair adat ini penting untuk membuka usul-asal yang suku yang bersangkutan. Referensi dari penuturan genealogis ini menjadi penting dalam penuturan sejarah. Syair-syair itu biasanya diungkapkan dalam upacara pelepasan jenasah, peristiwa perkawinan atau masa panen. Dalam syair-syair itu terungkap kisah marga.

Kadang-kadang penuturan kisah-kisah marga itu bervariasi atar satu marga dengan yang lainnya. Apalagi umumnya budaya ketimuran jauh dari tradisi tulisan.Tradisi lisan seperti penuturan menjadi referensi untuk mengungkapkan sejarah. Namun tradisi lisan ternyata lebih kuat karena hidup dalam aspek sosial tiap etnik.

Luitnan telah berhasil mengumpulkan serpihan-serpihan sejarah Helong dalam bukunya. Kita berharap banyak penulis NTT yang akan mengungkapkan kisah etnik mereka melalui penelitian serius.

Sumber: Buku ‘Koepang Tempo Doeloe‘ (2011) oleh Ishak Aries Luitnan. 

Please share,

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *