HomeREFLEKSIDISKUSIPemuda telah jadi pelopor pemersatu jauh sebelum Indonesia merdeka

Pemuda telah jadi pelopor pemersatu jauh sebelum Indonesia merdeka

DISKUSI KEBUDAYAAN NARASI REFLEKSI SEJARAH 0 1 likes 156 views

“Jika jadi Hindu jangan jadi orang India, jika jadi Islam jangan jadi orang Arab, jika jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang nusantara, dengan adat budaya nusantara yang kaya raya ini. Tetaplah bersatu padu membangun negeri ini tanpa pertumpahan darah.”

Indonesia adalah negara kesatuan dengan kurang lebih 250 juta jiwa penduduk. Yang menempati dari Sabang sampai Merauke dengan luas 5.193.250 km². Yang terdiri dari 1.340 suku bangsa, sekitar 300 kelompok etnis yang memiliki sedikitnya 1.211 bahasa dan tersebar di 16.056 pulau.  Dan sudah disimpulkan bahwa Indonesia dihuni oleh masyarakat yang beragam baik suku, bahasa, budaya, ras, maupun agama.

Baca juga : Manusia memilih berperang atau berdamai dengan sampah

Pada dasarnya Indonesia adalah kumpulan dari berbagai macam perbedaan yang disatukan oleh kesamaan cita-cita untuk hidup damai berdampingan dibawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tanpa memandang perbedaan yang ada. Sebenarnya kunci hidup bernegara adalah mencari persamaan dan bersikap toleran dengan pebedaan.

Jika kita melihat kembali sejarah pada abad XIV, Mpu Tantular yang seorang cendekiawan dan pemikir yang bependirian teguh dan tidak terpengaruh pada siapapun pernah menuliskan dalam kitab sutasoma:

“Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinneki rakwa rin apan kena parwanosen, Mangkang Jinatwa kalawan siwatatwa tunggal, Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa”

(Agama Buddha dan Siwa (Hindu) merupakan zat yang berbeda, tetapi nilai-nilai kebenaran Buddha dan Hindu adalah tunggal. Terpecah belah tetapi tetap satu jua, artinya tidak ada darma yang mendua).

Apa yang ditulis oleh Mpu Tantular dimaksudkan agar antara agama Buddha dan Hindu pada saat itu dapat hidup berdampingan dengan damai dan tentram, sebab hakikat kebenaran yang tekandung dalam ajaran keduanya adalah tunggal. Sebagaimana yang dirasakan oleh Mpu Tantular sendiri sebagai penganut agama Buddha tetapi merasa aman hidup dalam kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu.

Baca juga : Kampung Pelangi, upaya penataan oleh Pemerintah Kota Surabaya

Apa yang dituliskan Mpu Tantular yang akhirnya diambil kata “Bhinneka Tunggal Ika” yang digunakan sebagai semboyan Bangsa Indonesia. Apa yang ditulis artinya adalah semangat untuk bersatu. Dan pada dasarnya hal tersebut adalah nilai universal yang diajarkan oleh setiap agama dan nilai-nilai moral dari setiap suku bangsa.

Namun pada kenyataanya, kita dibuat miris bila melihat kondisi bangsa saat ini  yang seakan terpecah belah ke dalam sekat-sekat agama dan etnis. Banyak peseteruan yang timbul akibat perbedaan. Hari ini, menjadi menarik membicarakan isu kebhinekaan ditengah maraknya isu-isu  rasisme dan perseteruan antar kelompok dan golongan, tidak jarang pemicunya disebabkan karena hal sepele seperti ejek-ejekan. Pertanyaanya adalah, apakah fenomena itu murni konflik atau hanya settingan pihak-pihak tertentu saja yang ingin mengambil keuntungan dari porak-porandanya persatuan bangsa ini. Ironisnya hal-hal tersebut sering dilakukan oleh pemuda. Pemuda yang seharusnya menjadi ujung tombak persatuan Indonesia malah menjadi bibit perpecahan bangsa.

Padahal menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2015 jumlah pemuda mencapai 62,4 juta orang. Jumlah kaum muda di Indonesia mencapai 25 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Tentu saja ini adalah potensi pemuda yang cukup besar. Sepatutnya juga harus memberikan kontribusi yang positif terhadap pembangunan nasional.  Tetapi, potensi ini jika tidak dikelola dengan baik maka akan berdampak negatif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Potensi pemuda dari segi kuantitas dan kualitas sangat menarik. Semua pihak memiliki kepentingan dengan yang namanya pemuda. Termasuk kelompok radikal ISIS yang juga menjadikan pemuda sebagai objek rekrutmen. Oleh karena itu, dalam kaitannya menjaga kebhinekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara peran pemuda sebagai pemersatu dan sebagai pelopor perdamaian harus dikuatkan.

Sejak 28 oktober 1928, sebuah keniscayaan tentang membuncahnya keresahan-keresahan para pemuda atas permasalahan bangsa yang terkesan lamban dalam bergerak maju menuju kebebasan (merdeka), karena adanya sekat-sekat perbedaan yang belum mampu untuk dikesampingkan. Para pendahulu pelopor persatuan negeri ini memiliki analisis tersendiri bahwa lamanya bangsa ini terjajah bukan karena sedikitnya pasukan, lemahnya strategi atau bahkan karena minimnya persenjataan. Ada satu nafas yang hilang dalam sejarah-sejarah perjuangan bangsa ini dalam merebut kemerdekaan, nafas itu adalah persatuan. Sejarah Hari Sumpah Pemuda adalah sejarah tentang kepeloporan pemuda dalam merangkul semua elemen bangsa yang masih bercerai berai untuk bersatu dalam tumpah darah, bangsa, tanah air, dan bahasa yang satu yaitu Indonesia. Peran ini harus senantiasa dikuatkan. Karena pada dasarnya dari tinjauan historis, pemuda menjadi pelopor pemersatu jauh sebelum Indonesia Merdeka.

Baca juga :  Thomas Aquinas : Persahabatan yang baik adanya, Menguntungkan dan Menyenangkan

Sekarang, pemuda bisa memulainya dengan ikut berkontribusi dalam pembangunan. Pembangunan yang dimaksud diantaranya adalah membangun budaya dan membangun pola pikir masyarakat Indonesia secara umum. Pemuda punya kuantitas dan pemuda memiliki intelektual yang jelas melampaui generasi-generasi sebelumnya sehingga untuk mewarnai pola fikir dimasyarakat sekitarnya dan lingkungannya bukanlah suatu hal yang sulit dan mustahil.

Penguasaan teknologi dan memegang peranan penting sebagai bagian dari lini masa khususnya di media sosial merupakan kelebihan utama yang tidak dimiliki oleh generasi orang tua kita. Ditengah beralihnya kecenderungan masyarakat Indonesia atas sumber informasi yang bergeser dari media mainstream ke media sosial seperti instagram, facebook, twitter, friendster, whatsapp, BBM, Youtube, Blog dan media sosial lainnya, pemuda menjadi semakin kuat perannya dalam menjaga kebhinekaan dan situasi kerukunan bersosial. Kita punya sarana, kenapa energi yang luar biasa ini tidak dikelola untuk kebaikan dan kebermanfaatan. Dengan tidak membuat sampah di media sosial, seperti penyebaran berita hoax, saling hujat, saling benci dan dan saling memperkuat ego kedaerahan, kesukuan, dan agama. Karena hal tersebut bisa memnacing kebencian dan perpecahan.

Baca juga : Isu sosial, politik dan lingkungan tidak menarik bagi mahasiswa Katolik di Surabaya

Mari saling menghormati dan menghargai karena kita adalah Bhinneka Tunggal Ika. Sudah saatnya kita berubah menjadi lebih baik, dimana mayoritas bersatu dengan minoritas dalam rasa solidaritas. Dimulai dari diri sendiri, lalu membiasakannya pada orang lain karena perbedaan itu alasan untuk bersatu. Karena tanah Indonesia diizinkan untuk diinjak oleh perbedaan. Selama pemuda-pemudi Indonesia masih memiliki merah dan putih. Masih mencintai Ibu Pertiwi maka yakinlah tidak ada yang bisa memecah belah Bangsa Indonesia. Bangkit dan bersatulah Indonesia dengan jiwa Bhinneka Tunggal Ika.

Foto dan narasi oleh : Fidelis Aurelia, Siswa SMAK St. Augustinus Kediri.  Pemenang Lomba Foto Esai  dalam Pekan Filsafat 2018 yang diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya dan didukung oleh Nera Academia dan www.idenera.com. 

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *