HomeREFLEKSIDISKUSIHarbolnas : Tawaran Kemudahan Belanja dan Hedonisme Etis
Harbolnas

Harbolnas : Tawaran Kemudahan Belanja dan Hedonisme Etis

DISKUSI FILSAFAT NARASI REFLEKSI TEKNOLOGI 0 3 likes 187 views

Hari Belanja Online Nasional pada tahun ini merupakan ajang kelima terselenggaranya hari belanja dalam jaringan intenet pada skala nasional. Di mulai sejak tahun 2012, Harbolnas, begitu akronimnya, tentu menjadi ajang tahunan yang diminati ataupun telah sekian lama ditunggu oleh para pecinta belanja untuk memuaskan hasrat konsumtifnya. Namun, tampaknya berhubung sedang happening atau sedang ramai diperbincangkan dan terbujuk rayu iklan yang muncul di berbagai media, maka apa saja dibeli tanpa perlu dipikir panjang. Alhasil, para pelaku bisnis e-commerce menuai laba, sedangkan pembeli hanya terbuai kata-kata yang khas menggoda, seperti, promo, diskon, voucher, undian, edisi khusus, kesempatan terbatas, atau secara umum kesemuanya dapat dirangkum dalam satu istilah aji mumpung.

Gelombang belanja bersama dalam jaringan internet di Indonesia ini muasalnya datang dari seberang nun jauh di sana. Kehadirannya terasa semakin dekat karena perkembangan teknologi digital yang pesat. Dengan kata lain, Harbolnas sesungguhnya tidak jauh berbeda dari Single Day di China, Black Friday di Amerika, hingga Cyber Monday di beberapa negara. Di Indonesia, peniruan tersebut dapat ditemukan pada beberapa hajatan belanja massal, seperti MayDay Madness, Hari Belanja Online Ramadhan, Jakarta Great Online Sale, Festival Belanja Online, dan yang terakhir di kala penghujung tahun adalah Hari Belanja Online Nasional (12.12).

Baca juga : Membentuk Wacana Kritis Melalui Musik Reggae

Belanja, memang, telah menjadi rutinitas masyarakat dewasa ini. Hampir siapapun memenuhi kebutuhannya melalui aktifitas belanja sehingga terkadang sulit untuk membedakan dengan keinginan. Tetapi, apabila menelisik kembali secara mendalam, keinginan jelas kontras dengan kebutuhan. Meskipun demikian, keinginan dan kebutuhan masih berada dalam satu payung kesenangan manusia. Toh, manusia mana yang tidak ingin senang atau bahagia? Tetapi apakah hidup harus melulu mencari kesenangan melalui belanja, misalnya?

Harbolnas 2017

Press Conference Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas 2017). Liputan6.com

Lingkar Keinginan Belanja

Gagasan Epikuros (341-270 sM), Filsuf Yunani yang mendiskusikan hedonisme, menarik untuk dicermati guna memahami perbedaan atas keinginan alamiah manusia (keinginan mutlak, keinginan yang dapat ditunda, dan keingian yang sia-sia). Di dalam mencermati fenomena budaya seperti Harbolnas, petuah Epikuros sekiranya dapat menjadi bahan pertimbangan kepada siapapun sebelum melakukan aktifitas belanja di kemudian hari. Siapapun, pada umumnya, yang tidak menanam atau memiliki sumber kebutuhan hidup memang harus belanja untuk dapat memenuhi hasrat manusiawinya, bahkan perihal makan, minum, pakaian, dan lain sebagainya. Namun demikian, bagaimana jika belanja dilakukan secara terus menerus, atau mengingat alunan sebuah lagu dari Efek Rumah Kaca, belanja terus sampai mati.

Secara kasat mata, keinginan alamiah manusia dalam praktik belanja hari ini cukup jauh dari gagasan Epikuros. Pada kenyataannya, bukan hanya berlaku bagi para pelaku bisnis, melainkan juga pembeli tengah berada dalam batas kabur kesenangan: antara keinginan dan kebutuhan di dalam arena produksi kultural. Di satu pihak, keinginan para pembeli dalam arena Harbolnas juga mengalami peningkatan yang signifikan. Selain terbujuk rayu oleh kata-kata menggoda yang telah disebutkan di atas, keinginan lain para pembeli dalam Harbolnas adalah kemudahan belanja. Para pembeli dapat melakukan aktifitas belanja hanya melalui perangkat tekonologi digital seperti gawai, sehingga tidak lagi merasa perlu belanja secara konvensional atau pergi ke pusat perbelanjaan.

Kita dapat melihat data mengenai korelasi pengguna internet di Indonesia dengan aktifitas belanja. Pada tahun 2016, misalnya, tercatat sebanyak 61% pengguna internet melakukan pembelian saat Harbolnas. Jumlah tersebut meningkat 11% dari Harbolnas tahun sebelumnya. Sementara itu, diperkirakan 87% pengguna internet turut andil dalam Harbolnas tahun ini. Artinya, setiap tahun terjadi peningkatan mengenai pengguna internet terhadap aktifitas belanja dalam jaringan. Merujuk pada data yang disediakan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tercatat pengguna internet di Indonesia mencapa 132,7 juta dari total populasi penduduk sebesar 256,2 juta penduduk. Dengan demikian, perkiraan para pembeli dalam Harbolnas pada tahun ini adalah lebih dari 110 juta orang.

Di lain pihak, keinginan para pelaku bisnis e-commerce menyelenggarakan Harbolnas adalah bentuk upaya untuk mendapatkan laba sebesar-besarnya dalam waktu singkat dan merangkul keterlibatan banyak pihak. Melihat waktu dua tahun ke belakang, menurut lembaga riset Nielsen, selama tiga hari pelaksanaan Harbolnas 2016, transaksi yang diikuti oleh 211 pelaku e-commerce diperkirakan mencapai Rp 3,3 Triliun, sedangkan pada Harbolnas 2015 yang diikuti oleh 140 pelaku e-commerce transaksi mencapai Rp. 2,1 Triliun. Dari hal tersebut, animo para pelaku bisnis e-commerce dan jumlah transaksi juga mengalami cukup peningkatan. Bahkan, Harbolnas tahun ini yang melibatkan 254 pelaku bisnis e-commerce diperkirakan menembus angka transaksi Rp 4 Triliun.

Dari paparan singkat di atas, sesungguhnya momen terpenting antara pelaku bisnis e-commerce dengan pembeli adalah transaksi. Di dalam transaksi tersebut, menyoal keinginan dapat dicermati bahwa pelaku bisnis e-commerce berupaya untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dalam tempo waktu sesingkat-singkatnya, sedangkan pembeli berupaya mendapatkan kenikmatan belanja yang murah meriah berhubung sedang banyak promo atau diskon, bahkan cenderung mudah karena cukup dengan memilah-milih di layar gawai, pilih, simpan di keranjang pembelian, masukan kode voucher jika ada, lalu bayar. Sederhananya, kedua pihak tersebut memiliki keinginan untuk mendapatkan kesenangan atau kenikmatan masing-masing. Dengan kata lain, pembeli adalah subjek yang mendapatkan kesenangan karena belanja, sedangkan pelaku bisnis e-commerce mendapatkan kesenangan karena mendapatkan keuntungan secara ekonomi maupun simbolik seperti peningkatan partisipan atau pembeli.

Hedonisme Etis

Hedonistik masa kini sudah tentu dapat dicermati secara gamblang melalui Harbolnas. Gejala hedonisme yang diidap masyarakat hari ini adalah kecenderungan untuk mengkonsumsi aneka materi diluar keinginan alamiah, khususnya keinginan mutlak sebagaimana yang digagas Epikuros. Apabila dikontekstualisasikan pada saat ini, gagasan Epikuros perihal keinginan alamiah yang mutlak adalah memang manusia hidup bukan untuk makan saja, melainkan terdapat beberapa kebutuhan penting lainnya seperti pakaian, rumah. Namun demikian, dari Harbolnas tersebut, apabila kita mencermati jenis produk yang banyak dibeli antara lain, pakaian, sepatu, tas, gawai, produk elektronik, dan lainnya, sudah tentu masih jauh panggang dari api. Bagi Epikuros, manusia pada kodratnya selalu mencari kesenangan, namun tidak berarti setiap kesenangan seperti belanja harus dikomodifikasi atau dimanfaatkan dalam suatu peristiwa seperti hari belanja massal.

Baca  juga : Kenduri Lingkungan: Lestari Kendengku, Lestari Indonesiaku

Belanja di satu sisi memiliki sifat yang baik karena berupaya untuk mencoba memenuhi keinginan atau kebutuhan hidup manusia, namun juga memiliki sifat yang tidak baik di sisi lain, secara etis, ketika manusia tidak mampu membatasi diri dalam tingkah laku belanja. Di Indonesia, sebagaimana telah disinggung di awal, sedikitnya terdapat lima arena belanja massal dalam jaringan internet yang digelar oleh para pelaku bisnis e-commerce. Oleh karena itu, apakah setiap terdapat kegiatan belanja massal dalam jaringan, maka secara otomatis para pengguna internet melulu belanja? Secara logis, hedonisme juga perlu membatasi diri tentang suatu etika deskriptif guna mendapatkan kesenangan yang berkualitas dan menghindari kesenangan semu karena gelap mata tergiur promosi sesat.

Peristiwa belanja massal dalam Harbolnas memiliki kecenderungan terjebak pada pandangan subyektif. Pembeli, contohnya, senang berbelanja karena dianggap baik, entah karena sedang promo,diskon, atau punya uang. Akan tetapi, kesenangan tersebut tentu tidak datang dari ruang hampa sebab pembeli sudah memiliki pandangan obyektif. Dalam hal ini, pembeli yang membeli pakaian dan senang dengan barang tersebut serta merasa baik karena membeli dengan harga dibawah pasar. Tapi pada kenyataannya, barang yang dibeli tidak sesuai dengan yang ditampilkan di internet, di mana hingga kini tampilan masih dua dimensi, atau bahan tidak cocok dan ukuran berbeda dengan tubuhnya. Oleh karena itu, muncul kesadaran mendadak bahkan kekecewaan setelah menerima barang pesanan, karena ternyata kesenangan terhadap suatu barang di internet tidak lebih daripada sebuah angan-angan belaka karena pada kenyataannya jauh berbeda dari yang dibayangkan.

Sementara itu, para pelaku bisnis e-commerce dalam menyelenggarakan Harbolnas juga mengalami pandangan subyektif dengan acuan obyektif seperti Single Day, Black Friday maupun Cyber Monday. Dengan kata lain, Harbolnas mencoba melakukan peniruan berbagai acara dengan muatan yang serupa dari negara-negara lain, yakni merayakan belanja massal dalam sentuhan digital. Para pelaku bisnis e-commerce mulai merasa senang karena memiliki sesuatu yang baik untuk mendatangkan keuntungan dalam waktu singkat, sebagaimana penyelenggaraan Harbolnas yang dimulai sejak tahun 2012 selama satu hari, kecuali pada tahun 2015 dan 2016 karena diadakan selama tiga hari. Terkait pengecualian tersebut, para pelaku bisnis e-commerce menyadari bahwa penyelenggaran Harbolnas selama tiga hari tidak turut menaikkan keuntungan bagi mereka seperti saat diselenggarakan hanya satu hari saja. Dalam hal ini, dapat dicermati bahwa Harbolnas tidak menjadi lebih baik ketika diselenggarakan selama berhari-hari, tetapi cenderung disenangi pembeli karena memiliki sesuatu yang sungguh baik untuk ditawarkan selama satu hari penuh.

Hedonisme pun tidak dapat mengabaikan egoisme pelaku bisnis e-commerce maupun pembeli, yang memliki kepentingan dirinya masing-masing. Namun demikian, di sini diperlukan suatu landasan etis dalam relasi keduanya, semisal hak-hak pembeli dan moral kejujuran (harga, diskon, voucher), kelancaran server atau peladen jaringan internet, keamanan bertransaksi, pengiriman barang, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, guna kedua belah pihak seimbang untuk mendapatkan kesenangan yang baik, maka perlu adanya prinsip persamaan. Artinya, kedua pihak harus memiliki kesadaran bersama mengenai prinsip belanja. Menarik, apabila suatu waktu terdapat literasi perihal belanja dalam jaringan internet yang ditujukan kepada calon pembeli, bukan sekadar kampanye belanja massal yang selama ini disuguhkan atau digaungkan oleh para pelaku bisnis e-commerce. Semoga.

Oleh : Fredrik Lamser. Email : fdr.lamser@gmail.com

 

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *