HomeREFLEKSIDISKUSIZiarah : Kait Mengait Sejarah, Kuasa dan Personal

Ziarah : Kait Mengait Sejarah, Kuasa dan Personal

DISKUSI FILM KEBUDAYAAN NARASI REFLEKSI SEJARAH 0 1 likes 839 views

SORE itu, 22 Mei 2017, setelah berjibaku dalam  gerah dan kemacetan di pinggir kota Surabaya, sampailah kami di sebuah mall tempat sinema berada. Waktu kurang 15 menit dari pemutaran film Ziarah. Saya langsung menuju ke tempat pemesanan tiket. Kotak-kotak warna hijau masih mendominasi monitor customer service, artinya masih banyak tempat duduk yang belum dipesan. Saya lega dan langsung membayar sesuai harga tiket. Saya lupa bahwa ini adalah Surabaya, tak perlu cemas film-film bermutu dan di luar arus utama, ludes terjual tiketnya. Ini bukan Yogyakarta atau Jakarta. Saya bisa memahami iklim penonton bioskop di Surabaya yang demikian, sebab sangat terkait dengan suasana praktis-pragmatis kota ini. Masuk ke ruang teater, sekitar 10-15 kursi yang terisi. ‘Lumayan’, batin saya.

Ziarah bercerita tentang perjuangan seorang nenek yang mencari pusara/makam suaminya yang  merupakan pejuang di kala Agresi Militer Belanda II (1948). Ziarah bisa juga dibaca sebagai perjuangan seorang cucu mencari neneknya yang telah beberapa hari pergi tak pamit. Lama kelamaan, si cucu juga ikut larut dalam upaya memecahkan teka-teki keberadaan pusara kakeknya sambil terus mencari neneknya. Ziarah secara sekilas nampak sebagai cerita yang sederhana, tapi sebenarnya merupakan film yang sangat kompleks karena begitu banyak dimensi di dalamnya, seperti misalnya dimensi personal, sosial, sejarah, kuasa, budaya, politik, mitos, dsb.

Kait Mengait Sejarah dan Kuasa dalam  Cerita yang Personal

BW Purba Negara: A true bookworm

BW Purba Negara, Sutradara Film Ziarah (Foto : BW Purba Negara/File)

Terus terang, untuk menceritakan detail peristiwa dalam Ziarah, saya kesulitan. Begitu banyak tokoh yang ditemui Mbah Sri (Nenek, usia kurang lebih 90 tahun) dan Cucu (Laki-laki, usia kurang lebih 30 tahun), serta begitu berlikunya dinamika emosional dalam proses pencarian makam Mbah Prawiro Sahid (Sang Kakek Pejuang, Suami si Nenek). Dalam cerita yang begitu personal, yaitu Mbah Sri yang mencari makam suaminya karena kelak ingin dimakamkan bersanding dengan suami, peristiwa-peristiwa tragedi kemanusiaan yang terbungkam dibongkar. Dari keterangan sejumlah veteran dan orang-orang yang ditemui di jalan, makam Mbah Prawiro Sahid dikatakan terletak di dusun Alas Pucung, utara desa Kweni. Setelah berjalan begitu jauh, Mbah Sri baru mengetahui bahwa desa tersebut sudah ditenggelamkan bersama puluhan desa lain ketika pembangunan Waduk Kedungombo (1987). Dalam tragedi Waduk Kedungombo, pemerintah Rezim Orde Baru mengambil keputusan secara sepihak untuk menenggelamkan 37 desa di 3 kabupaten yaitu Sragen, Grobogan dan Boyolali demi alasan kemajuan pembangunan nasional. Diperkirakan sekitar 5268 keluarga harus mengungsi dari tempat tinggalnya. Keluarga yang menentang pembangunan waduk atau menolak ganti rugi diteror, dikejar, diintimidasi, dan disiksa fisik.

Dalam film Ziarah, 29 tahun setelah pembangunan waduk, pemandangan sekitar Waduk Kedungombo jauh dari cita-cita Orde Baru untuk membuat masyarakat menjadi sejahtera, yang terlihat hanya ladang-ladang kering dan rumah-rumah yang sangat sederhana atau bahkan beberapa memprihatinkan. Campur tangan Negara dalam tragedi kemanusiaan Kedungombo ditegaskan dengan potret ironis perbandingan hubungan rakyat dan tentara di ‘zaman Agresi Militer Belanda II/clash II’ dan sewaktu ‘Peristiwa Kedungombo’. Potret ironis ini terungkap dalam dialog cucu dengan seorang penduduk desa. ‘Rakyat bersatu bersama tentara gerilya’ di zaman clash II namun ‘tentara menjadi musuh rakyat’ pada peristiwa Kedungombo.

Peristiwa tragedi kemanusiaan lain yang coba diungkapkan dalam Ziarah ialah peristiwa ‘ontran-ontran 1965’. Salah satu tokoh bernama Ki Husodo diceritakan hilang/mati dalam peristiwa 1965 tersebut. Bertahun-tahun setelahnya, tak ada orang yang berani mengusut kematiannya bahkan untuk menyebut namanya pun tak berani.

Berbagai sumber pustaka sejarah yang muncul setelah Era Reformasi 1998 mengungkap peran Negara dalam tragedi kemanusiaan 1965 ini. Orang-orang yang dianggap atau dicap PKI ditangkap, disiksa, dipenjara dan tak sedikit yang dibunuh. Jumlah korban meninggal kurang lebih sebanyak 500.000 jiwa, belum termasuk korban hilang dan dijatuhi hukuman tanpa pengadilan. Hingga saat ini, penyelesaian tragedi kemanusiaan 1965 belum tuntas. Bahkan, ketika tema 1965 ini baru mau diangkat ke permukaan menjadi diskursus nasional (Simposium Nasional 1965 yang diadakan tahun 2016 di Jakarta), banyak pihak keberatan dan tak segan melakukan tindakan kekerasan untuk menghentikan diskursus tersebut. Tak mengherankan bila generasi yang lahir setelah tahun 2000an tak lagi paham akan tragedi kemanusiaan 1965 ini.

Sejarah dari Orang-orang Biasa

Hal lain yang membuat film Ziarah ini menarik ialah pemilihan pemeran-pemeran yang tak bertabur bintang-bintang selebritis. Tokoh-tokoh diperankan oleh person-person yang sangat jarang atau mungkin belum pernah tampil di layar kaca/bioskop, namun memiliki kemampuan keaktoran yang tak diragukan lagi. Sebut saja Mbah Sri (Ponco Sutiyem), cucu (Rukman Rosadi), calon istri cucu (Vera Prifatamasari), para veteran yang dimintai keterangan selama perjalanan dan para penumpang truk/pick up. Mbah Ponco Sutiyem bahkan mendapat salah satu nominasi kategori Aktris Terbaik dalam ASEAN International Film Festival and Awards (AFIFA) 2017. Beberapa tokoh memang sudah pernah tampil di film seperti Istirahatlah kata-kata, Bermula dari A atau film-film lain. Juga sekalipun ada sutradara-sutradara ternama yang bermain dalam film ini seperti: Yosep Anggi Noen, Ismail Basbeth, Hanung bramantyo dan Sang Sutradara sendiri BW Purbanegara, tetapi saya yakin mereka sama sekali bukan bermain untuk mengangkat rating film ini. Sebaliknya, mereka justru menunjukkan sisi yang lain, yaitu sisi dalam hidup sehari-hari yang sederhana. Pemilihan pemeran-pemeran ini mengingatkan saya pada cara kerja sejarah alternatif. Sejarah yang ditulis oleh penguasa tunggal perlu mendapat tandingan agar korban yang terpinggirkan dapat menyuarakan haknya. Sejarah alternatif dapat dimunculkan dari sudut pandang orang-orang biasa yang menciptakan berbagai versi sejarah.

Nietzsche dalam Use and Abuse of History for Life menyatakan bukan para filsuf dan orang-orang yang belajar ilmu sejarah, melainkan mereka para penarik gerobak dan pekerjalah yang bisa menjadi sejarawan, artinya orang-orang biasalah yang menjadi sejarawan. Hanya mereka yang memiliki pengalaman dan berefleksi-lah yang bisa menjadi sejarawan. Sejarah bukan lagi dominasi rezim yang menindas. Keberagaman versi sejarah sebenarnya lazim ditemukan dalam dunia kehidupan sehari-hari, sebagaimana Mbah Sri yang sempat dibuat bingung dengan berbagai keterangan tentang letak makam suaminya. Akhirnya, yang dapat kita lakukan adalah membandingkan di antara rekonstruksi-rekonstruksi sejarah tadi, mana yang paling masuk akal dan sesuai dengan kenyataan. Tak jarang pula di suatu titik kita menemukan semua versi ternyata keliru, seperti yang terjadi pada Mbah Sri dan Cucunya.

Namun demikian, beragamnya versi sejarah tak perlu dipandang dengan sinis, tapi dilihat sebagai beragam tafsiran yang semakin menyingkapkan kebenaran. Apakah kita akan mencapai kebenaran yang sejati? Rasanya tak ada yang mampu menjawab. Dalam Ziarah pun, pertanyaan tentang kebenaran ini menjadi teka-teki. Seluruh usaha Mbah Sri dalam Ziarah adalah usaha untuk menemukan kebenaran mengenai makam suaminya. Lalu, apakah Mbah Sri sampai pada kebenaran itu? Sungguhkah makam yang ditemukan Mbah Sri di akhir cerita adalah makam Mbah Prawiro Sahid yang dimaksud dan bukan Prawiro Sahid yang lain? Tentu masih terbuka kemungkinan jawaban, tapi ada dua hal yang ingin saya katakan: Pertama, usaha Mbah Sri untuk mencari kebenaran membuat kita ingat usaha para keluarga korban tragedi kemanusiaan Kedungombo, 1965, 1998, dll yang hingga hari ini masih mengupayakan kebenaran bagi anak, saudara, ayah/ibunya yang dihilangkan secara paksa, dipidana tanpa pengadilan atau mati dibunuh. Kedua, keterbatasan manusia dalam mencapai kebenaran membuat manusia memegang jawaban-jawaban secara sementara sambil terus menerus mencoba melakukan evaluasi. Keterbukaan pada berbagai keterangan dan pengetahuan itulah yang diperlukan manusia dalam menghadapi keterbatasannya. Oleh karena itu, menjadi tidak masuk akal apabila kini banyak orang memegang keyakinan-keyakinan pribadi tertentu dengan sangat dogmatis tanpa melakukan re-evaluasi atas keyakinannya, bahkan masih ditambah meng-kafirkan orang lain yang tak berkeyakinan sama.

Realisme Magis dalam Film

Film Ziarah

Mbah Ponco Sutiyem, pemeran utama dalam film ini menadapatkan nominasi kategori Aktris Terbaik dalam ASEAN International Film Festival and Awards (AFIFA) 2017. Foto. Film Ziarah

Menonton film Ziarah, mengingatkan saya pada novel gaya Realisme Magis. Gaya Realisme Magis  salah satunya dapat ditemukan dalam novel Eka Kurniawan (Cantik itu Luka, Manusia Harimau, dll). Cara bertutur sejarah dari BW Purbanegara dan Eka Kurniawan sama sekali berbeda dengan cara bertutur sejarah ala sekolahan/sejarah arus utama. Bila ilmu sejarah menekankan objektivitas dan fakta historis, para penulis dengan gaya Realisme Magis dalam menuturkan sejarah tak segan melibatkan mitos-mitos, kepercayaan pada hal gaib dan kepercayaan rakyat lainnya yang lazim disebut sebagai ‘takhayul’. (Katrin Bandel, 2006: 60). Takhayul sangat ditolak dalam pendekatan ilmu sejarah modern. Realisme Magis dapat dilihat sebagai sebuah versi alternatif sejarah Indonesia dengan gaya melibatkan mitos-mitos yang memang sungguh masih hidup dalam masyarakat kita.

Dalam Ziarah misalnya, Mbah Sri diajari oleh seorang rekan Mbah Prawiro untuk menggunakan keris sebagai penunjuk jalan sebab keris selalu mencari ‘pasangan’ kerisnya. Juga Realisme Magis tampil dalam tokoh perempuan muda buta yang justru ‘lebih jeli dalam penglihatan’ akan tas Mbah Sri yang ketinggalan. Juga dalam peristiwa bunuh diri yang diawali dengan sebuah tanda yakni pulung gantung. Di Gunung Kidul keyakinan akan pulung gantung ini masih terus hidup hingga kini. Juga dalam mitos pejuang yang tidak mempan ditembak. Kita banyak menjumpai mitos ini di berbagai daerah, misalnya Si Pitung (Jawa Barat), Sarip Tambak Oso (Jawa Timur), Pangeran Diponegoro (Jawa Tengah), dll. Mitos ‘tak mempan ditembak’ ini merupakan fakta simbolik dari nasionalisme yang tak dapat mati.

Sejarah dalam novel atau film Realisme Magis tidak dimaksudkan untuk menggantikan versi sejarah resmi atau menjadi versi sejarah yang paling benar. Konsep sejarah dalam Realisme Magis justru dapat dilihat sebagai salah satu tuturan sejarah yang otentik dari masyarakat Indonesia. (bdk.Katrin Bandel, 2006: 64).  Dengan cara pelibatan mitos, sebenarnya gaya penuturan sejarah dalam Ziarah semakin menunjukkan paradoks dari sejarah arus utama yang di satu sisi meyakini kebebasan akademik, tetapi di sisi lain begitu otoritarian dalam menyakini hanya ada satu kebenaran yaitu yang ditempuh dengan metode ilmu sejarah modern.

Proficiat atas rilis film Ziarah! Terima kasih juga karena sudah membuat film Ziarah dapat diakses oleh khalayak umum bukan terpenjara dalam festival-festival yang tak mudah kami akses! Sekali lagi Selamat!

———————————————————————————————————————————————————————-

[i] Sebelum menyampaikan ulasan mengenai ‘Ziarah’ ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, pengantar atau komentar  tentang apa pun selalu melenceng atau lebih buruk dari aslinya. Slogan ‘Seindah warna aslinya’ tak berlaku di sini. Bahkan, Hegel dalam kata pengantar untuk bukunya sendiri  (Phenomenology of Mind) mengatakan bahwa komentarnya dalam pengantar tersebut tak dapat menggantikan karya tersebut, maka tak usah terlalu menganggap terlalu serius sebuah kata pengantar (Gayatri C. Spivak, 2003:10). Ini berlaku Juga dalam ulasan atas film Ziarah ini.  Ulasan ini disadari bersifat reduktif terhadap isi film. Kedua, jangan mengharapkan sebuah ulasan yang seimbang atau netral. Ini bukan ulasan film yang seimbang karena di dalamnya Anda tidak akan menemukan uraian-uraian mengenai kekurangan dari film. Juga sedari awal ulasan ini dimaksudkan sebagai ulasan yang subjektif sebab saya menyadari tak mungkin mencapai kebenaran yang murni objektif, apalagi dilengkapi metode-metode ilmiah yang ketat seperti dilakukan kritikus-kritikus yang sudah mengenyam pendidikan formal untuk kritik film.

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *