HomeREFLEKSIBUKUProf. Dr. Frans Magnis Suseno : Saya masih optimis dengan Islam Indonesia

Prof. Dr. Frans Magnis Suseno : Saya masih optimis dengan Islam Indonesia

BUKU DISKUSI KOMUNITAS LIPUTAN 0 1 likes 597 views

Prof. Dr. Frans Magnis Suseno,  rohaniawan katolik,  guru besar emeritus  Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara Jakarta  hadir dalam  acara bedah buku  di Aula Paroki SMTB Surabaya  hari Minggu, 14 maret 2018. Romo Magnis, begitu bisanya ia disapa;  hadir secara khusus agar pembaca bisa   berdiskusi dan bertanya secara langsung terkait isi buku maupun hal lain tentang Kekatolikan.  Buku “Katolik Itu Apa?” merupakan buku terbaru  Romo Magnis yang diterbitkan Kanisius Yogyakarta pada akhir tahun 2017 lalu.

” Saya menulis buku ini atas pemahaman saya sebagai orang katolik sejak lahir.   Selama 80 tahun,  sejak saya kecil sampai sekarang ” kata Romo Magnis.

Romo Magnis menjelaskan bahwa, buku “Katolik itu Apa ?” bukanlah buku ilmiah apalagi buku resmi Gereja Katolik. Buku Katekismus Gereja Katolik adalah buku resmi Gereja Katolik. Buku ini semata-mata  pemahaman dan penghayatan personal sebagai seorang katolik.  Belum tentu juga apa yang disampaikan buku ini, disetuju semua orang Katolik.

Baca juga : Nera Academia : Sudah satu tahun kuliah di Warung Mbah Cokro

” Harapan dari buku ini,  agar orang Katolik menemukan informasi tentang agamanya dalam bentuk yang singkat dan ringan.  Juga buat yang beragama selain Katolik bisa menggunakanya untuk mencari tahu apa itu Kekatolikan” jelas Romo Magnis.

Romo Magnis

Prof. Dr. Frans Magnis-Suseno,  rohaniawan katolik, guru besar emeritus  Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara. Penulis buku Katolik Itu Apa?. Foto  : Istimewa

Penciptaan Kitab Suci

Pendeta Andri Purnawan dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Surabaya, satu diantara penanggap  acara bedah buku ini mengapresiasi kemampuan Romo Magnis menyajikan kompleksitas sejarah dan ajaran gereja Katolik secara jelas namun ringkas.

Baca juga : Katolik Radikal dan Silent Majority

“Saya kira tidak ada buku kanonisasi yang bisa lebih ringkas dari ini” kata Pendeta Andri.

Ketua bidang Oikumene PGIS Kota Surabaya ini secara khusus menyorot bab tiga dalam buku ini terkait kisah penciptaan kitab suci umat Kristen. Dalam bukunya, Romo Magnis melontarkan pernyataan ” Kitab Suci sebagai tulisan manusia bisa keliru, bisa terbatas, sama dengan keterbatasan pengertian dan pandangan para penulis”.  Menurut Pendeta Andri,  pernyataan ini dirasa cukup mengganggu khususnya para pembaca Protestan. Walupun Gereja Katolik dan banyak umat Protestan menolak pandangan bahwa setiap kata Kitab Suci secara harafiah berasal dari Allah.

Suasana Bedah ” Buku Katolik Itu Apa?” di Aula Gereja SMTB Surabaya. Tampak Pendeta Andri dari GKI Surabaya sedang menyampaikan pandangannya terkait buku . Foto : @Andreyuris

Menanggapi hal itu, Romo Magnis mengatakan hal itu justru memunculkan pertanyaan ” Mengapa Kristianitas  bisa menganggap tulisan-tulisan yang semuanya ditulis manusia sebagai Kitab Suci?”. Secara singkat Gereja menjawab, tulisan-tulisan itu terinspirasi roh kudus.  Inspirasi berarti Gereja dibimbing, untuk “mencium” tulisan-tulisan mana yang memuat pesan Roh Kudus.  Penciuman Gereja itu disebut  sensus fidei, suatu perasaan tentang iman yang benar.

Romo Magnis mencontohkan, Gereja  pada 400 tahun lalu pernah keliru dengan mengutuk Galileo Galilei karena ia mempertahankan bahwa bumi mengitari matahari dan bukan sebaliknya  seperti yang diakui Gereja Katolik kala itu.  Baru empat abad kemudian Paus Yohanes Paulus II mengakui bahawa gereja keliru tentang hal itu  dan mohon maaf.

” Yang membuat  tulisan-tulisan Kitab Suci jadi suci adalah melalui penulisnya Allah menyampaikan pesan. Pesan Allah bukan tentang hal-hal yang diketahui manusia, tetapi hal-hal yang tidak mungkin diketahui manusia dari dirinya sendiri seperti tentang “Siapakah Allah itu? Apa yang Ia harapkan dari manusia?. Melalui Kitab Suci Perjanjian Baru, Allah memberitahu, siapakah Yesus Kristus itu?” jelas Romo Magnis.

Relasi Katolik dengan agama lain

Aan Ansori, Kordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD), penanggap lainnya dalam bedah buku ini mengukapkan pengalaman perjumpaanya dengan  Kristianitas . Ia mengatakan bahwa, bagi dirinya dan mungkin sebagian umat Islam sulit membedakan  Katolik dan Kristen. Sebagian umat Islam menyebut kata  Nasrani, entah itu maksudnya Katolik,  Protestan dan gereja-gereja lainya.

“Minimnya pengetahuan saya waktu kecil dan mungkin sebagian teman-teman  Islam tentang Kristianitas  memunculkan pandangan yang boleh dikatakan “jahat” terhadap umat Katolik dan Kristen” kata Aan.

Foto Nera Academia.

Aan Ansori, Kordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD). Foto : @Andreyuris

Aktivis jaringan Gusdurian ini mengatakan narasi kebencian dan kecurigaan terhadap umat kristiani itu juga dilanggengkan sedemikan rupa dalam pengajaran-pengajaran yang sesungguhnya bertentangan dengan Islam. Menurut Aan, narasi maupun ajaran kebencian ini hanya bisa  diobati dengan perjumpaan, pertukaran informasi dan pangetahuan tentang Kristianitas.

Baca juga : Isu sosial, politik dan lingkungan tidak menarik bagi mahasiswa Katolik di Surabaya

“Saya sendiri, baru perlahan mengikis kebencian dan kecurigaan  terhadap umat kristen saat saya dewasa.  Diskusi dengan para Kiyai, membaca buku dan secara langsung berdiskusi dengan teman-teman dan tokoh agama kristen, jadi semacam penawar rasa benci dan curiga itu” lanjut Aan.

Aan Ansori  mengatakan,  buku Katolik Itu Apa? sejauh yang ia baca mampu  memberikan gambaran yang rinci tentang Gereja Katolik.  Buku ini, tidak hanya memperkaya wawasan umat Kristiani, namun juga perlu di baca oleh kaum muda dan  intelektual muslim agar kita bisa mengusahakan relasi persahabatan antar umat beragama.

” Saya sampai saat ini, masih optimis dengan Islam Indonesia. Perjalanan sejarah kita cukup membuktikan peran Islam dalam menjaga Indonesia. Walaupun ada situasi yang tidak mengenakan yang harus segera diselesaikan oleh umat Islam sendiri ” kata Romo Magnis.

Umat Katolik menurut Romo Magnis, walaupun jumlahnya hanya kurang lebih tiga persen harus ikut andil menjaga Indoneisa. Menjalin kerjasama dengan Islam mainstream,  memberikan kontribusi dan jangan hanya diam saja seolah tidak terjadi apa-apa. Umat Katolik tidak bolah jadi penonton saja, membiarkan Islam berjuang sendiri dalam mengatasi memburuknya relasi sosial.

Baca juga : Atheisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Bagi Romo Magnis, sikap gereja sudah jelas; Gereja tidak memandang agama lain sebagai saingan atau musuh.  Gereja melihat yang baik dan suci ada dalam agama-agama itu. Itu juga berlaku bagi umat Islam.  Walaupun harus diakui, Gereja Katolik  juga masih jauh dari cita-cita.  Juga percaya dan jangan khawatir karena Gereja senantisa membaharui diri, termasuk dalam ajarannya.

Bedah buku “Katolik Itu Apa?” mendapat respon baik dari masyarakat Surabaya. Ruangan dengan kapasitas 500 tempat duduk, terisi hampir seluruhnya.  Perserta yang hadir tampak  beragam, lintas agama baik tua maupun muda. Acara yang di pandu Simon Untara, Dosen Fakultas Filsafat Widya Mandala Surabaya ini, juga menghadirkan Cak Irsyad dari Komunitas Al Faz Gempol yang membagikan pengalaman perjumpaan dan pertemanannya dengan kawan-kawan lintas agama.

 

Catatan : Buku Katolik Itu Apa? Katolik Itu Apa? Pengarang Franz Magnis‐Suseno. Harga Rp55.000, dapat dibeli ditoko buku umum dan toko buku rohani Katolik.

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *