HomeREFLEKSIDISKUSISebuah refleksi tentang film Wage : Pahlawan tanpa pedang dan senapan

Sebuah refleksi tentang film Wage : Pahlawan tanpa pedang dan senapan

DISKUSI FILM KOMUNITAS LIPUTAN 0 0 likes 89 views

Saya selalu tertarik pada sosok-sosok inspiratif yang memperjuangkan nilai tertentu dengan gigih, sampai menghasilkan buah baik bagi orang banyak. Lincoln, Mother Theresa, Kartin, Tan Malaka, Soekarno, Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar dan masih banyak lagi tokoh yang pernah saya baca biografi maupun auto-biografinya. Tentu saja masing-masing mereka punya kisah heroik yang mengundang decak kagum dan salut. Masing-masing juga memberikan sumbangsih yang signifikan bagi sekelilingnya khususnya, serta bangsanya dalam cakupan yang lebih luas.

Wage Rudolph Supratman adalah sosok yang tidak kalah menarik. Sebagai penggemar buku, saya tidak pernah menemukan satupun literatur tentang beliau. Sampai tahun 2017, sebuah film yang disuradarai John De-rantau menganggkat cerita tentang W.R Supratman. Kesempatan yang baik untuk saya mengenal komponis lagu kebangsaan ini lebih jauh.

Baca juga : Film biopik boleh dramatis, tapi harus lebih jujur pada sejarah

Wage, begitu film ini diberi judul, menampilkan setting yang sangat sederhana sekaligus otentik. Film ini seakan mengajak kita melihat era di mana bangsa kita masih belum tersentuh teknologi canggih. Latar tahun 1920an bagi saya digambarkan dengan cukup berhasil.

Diskusi film wage oleh Januran di Warung Mbah Cokro. Dari kanan, Robert Bayoned ( Seniman Ludruk Luntas), Ivan ( OPSHID Media), Andre Yuris  ( Nera Academia) dan Muchlis (Moderator, Komunitas Januran).  Foto : Ria Tekat.

Ada beberapa detail yang sangat menarik perhatian saya dalam film ini.

Pertama, tentu saja mengenai Wage Rudolph Supratman. Saya yakin, tidak banyak yang tau bahwa komponis besar ini adalah juga seorang jurnalis & penulis roman pada jaman itu. Karya-karyanya digambarkan sebagai ekspresi kegelisahannya melihat bangsanya yang dijajah oleh kolonial. Karakter Wage yang diperankan oleh Rendra Bagus Pamungkas ini sedikit sebanyak bercerita tentang ketangguhannya melawan kompeni dengan pena serta dengan biolanya melahirkan lagu kebangsaan yang mampu membakar semangat pemuda. Aksi Wage dianggap propagandis dan mengancam Belanda.

Berikut yang bagi saya sangat menggugah adalah peran perempuan. Dalam film yang juga diperankan oleh Prisia Nasution ini, perempuan tidak banyak ditonjolkan di garda depan gerakan pemuda, tetapi ditempatkan sebagai ‘penolong’ yang setia bagi pejuang-pejuang di garis depan.

Beberapa scene yang melibat perempuan adalah adegan di mana Wage mengalami kejatuhan & berada di titik terendahnya. Di awal film, saat Wage dipukuli ayahnya karena tidak ikut menyanyikan lagu Belanda, Wage diselamatkan oleh kakak-kakak perempuan & ibunya. Hubungan Wage & ibunya sangat intim. Dalam keadaan sakit, ibu Wage masih memberikan petuah yang dipegang Wage dalam perjuangannya.

Baca juga : Prof. Dr. Frans Magnis Suseno : Saya masih optimis dengan Islam Indonesia

Hijrah ke Celebes (sekarang Sulawesi), Wage tinggal bersama kakak perempuan & iparnya yang mengajarkan beliau bermain biola. Saat pergerakannya dicium Belanda, kakaknya berusaha menyelamatkannya. Wage kemudian memutuskan kembali ke Jawa. Dalam perjuangannya, Wage jatuh sakit & dirawat oleh saudari perempuannya. Sampai pada beliau dibuang ke penjara, saudarinyalah yang hadir di sana, mengusahakan pembebasannya. Bagi saya, ini cara yang elegan untuk memberikan penghargaan khusus bagi perempuan di masa perjuangan yang turut memberi sumbangsih untuk kemerdekaan sebagai support sistem.

Hal ketiga sekaligus terakhir yang patut dicermati adalah kepandaian para pejuang memanfaatkan kesempatan belajar, lalu menggunakan keterampilan yang dipelajarinya untuk ikut berjuang mencapai kemerdekaan. Selain Wage, masih banyak pejuang yang belajar di sekolah milik Belanda, atau dari orang-orang Belanda maupun senior di organisasi-organisasi pergerakan. Wage sendiri berkesempatan belajar alat musik. Beliau tidak berhenti di situ, tetapi menggunakan keterampilan itu untuk ikut mengusahakan kemerdekaan.

Begenk Klap , tampil mebawakan lagu Tombo Kangen dalam balutan musik folk. Foto : Ria Tekat

Memperkaya cara pandang saya tentang Wage, serta segenap pejuang kemerdekaan.

Pada Rabu pekan lalu (21 Maret 2018) saya berkesempatan menyaksikan film ini sekali lagi. Kali ini dalam acara Nobar & Diskusi Film Wage yang diadakan oleh Komunitas Januran. Acara yang diadakan di Warung Mbah Cokro ‘Indonesia Masih Ada’ ini medatangkan Ivan (OSHID Media) mewakili para pembuat film, Robetz Bayoned (Pegiat Ludruk) dan Andre Yuris (Nera Academia) sebagai perwakilan kaum muda. Partisipan tetap setia mulai pemutaran film sampai selesai diskusi walaupun dalam keadaan berdesak-desakan.

“Saya yakin film Wage yang kita tonton selama dua jam ini memberikan pengalaman personal kepada kita masing-masing,” komentar Andre Yuris, salah satu pembicara. Beliau mengapresiasi kawan-kawan OPSID Media yang mengemas film ini dengan sinematografi yang memukau.

Robetz Bayoned, di sisi lain berbagi tentang kesetiaan teman-teman kelompok ludruk Luntas tetap berkarya dalam rangka mengisi kemerdekaan dan terlebih lagi kedaulatan berbudaya.

Baca juga : Undangan menulis esai : Membongkar Rezim Fanatisme

“Kami melakukan riset bertahun-tahun sebelum pembuatan film ini.” jelas Ivan saat berbagi tentang proses pembuatan film yang tidak gampang.

Diskusi yang baru berakhir larut malam ini ditutup dengan sebuah pernyataan yang bagi saya sangat mengesankan “Nasionalisme adalah memaknai orang lain sebagai manusia Indonesia, sama seperti saya memaknai diri saya sendiri “ ungkap Andre Yuris ketika menanggapi pertanyaan tentang bagaimana orang muda saat ini bisa menunjukkan rasa nasionalismenya.

Diskusi panjang yang ini  dimeriahkan Begenk Klap  dan Teater Gapus. Mukhlis, moderator yang juga aktivis Komunitas Januran mengatakan, acara ini adalah  bentuk semangat kawan-kawan muda untuk lebih mengenal sejarahnya, agar kemudian diterjemahkan dalam aksi mengisi kemerdekaan sesuai perannya masing-masing dalam masyarakat.

Seperti Wage yang tidak berjuang dengan senapan dan pedang, melainkan dengan pena serta biola yang mengantarnya sebagai salah satu komponis terbaik yang dimiliki bangsa ini.

“Mari kita kembali melihat jiwa kita masing-masing, mencari apa yang bisa kita berikan untung bangsa ini,” Robert Bayoned menutup diskusi dengan mantap.

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *