HomeAKSI10 tulisan terpopuler Idenera 2017

10 tulisan terpopuler Idenera 2017

AKSI KAMI KOMUNITAS MITRA KARYA PERSONA 0 2 likes 284 views

Awal tahun lalu (29/01/2017)  setelah direncanakan selama setengah tahun akhirnya www.idenera.com diluncurkan. Nera Academia pada review program tahun 2016 memasukan pembuatan website sebagai program strategis 2017.  Andre Yuris, Co Founder Nera Academia  pun sama, Ia sudah lama memendam cita-cita memiliki portal opini.  Pada awal tahun 2017  lalu akhirnya terwujud. Idenera lahir  dengan tagline IDEA, JUDGE, ACT.

Banyak hal yang harus diperbaiki setelah melewati tahun pertama ini. Sungguh tidak semudah yang dipikirkan mengelolah sebuah portal website. Sebagian besar Fasilitator Nera Academia awam dengan dunia website, sebagian kecil pernah nge-blog tapi bukan ekspert. Ini tantangan baru, karena sebuah portal tidak hanya tentang tulisan namun juga hal teknis. Beruntung ada  bantuan beberapa teman yang pakar di bidang teknologi informasi yang sukarela membantu.

Kami sungguh beruntung. Sejak diluncurkan, Idenera tidak kekurangan tulisan artikel, opini dan berita. Selalu ada saja kontributor yang secara suka rela meng-email tulisan secara reguler. Walaupun tidak semua tulisan bisa di publish namun itu membuat tim redaksi bersemangat. Dari 90 tulisan yang sudah di publish berikut sepuluh tulisan terpopuler berdasarkan jumlah pembaca :

  1. Orang Helong, ‘Betawinya’ Kota Kupang. Oleh: Fian Roger.  Suku Helong tenggelam bersama sejarah Kota Kupang. Tidak banyak catatan ilmiah untuk menggali kisah suku  yang bermukim di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur ini. Beberapa data dan teks merupakan peninggalan kolonial, misionaris, catatan pemerintah dan kisah lisan. Tulisan ini terbatas pada informasi yang tersaji dari Buku Koepang Tempo Doloe (Luitnan, Ruas, 2012). Baca selengkapnya.                                                                                                                                                 
  2. Luntas : Ludruk Nom-noman Jembatan Dunia Tradisional dan Modern. Oleh : Anastasia JessicaMinggu malam (26/02) lahan parkir dan taman di depan gedung Pringgodani, THR (Taman Hiburan Rakyat) Surabaya lebih ramai daripada biasanya. Suasana gelap dan suram sedikit terusir dengan hadirnya beberapa orang yang terlihat lalu lalang atau sekedar duduk-duduk menunggu dimulainya pertunjukan berjudul ‘Sampek Engtay’ garapan grup ludruk Luntas. Luntas sendiri merupakan akronim dari Ludruk Nom-noman Tjap Arek Soeroboio. ‘Sampek Engtay’ merupakan produksi ke IX selama usia Luntas yang baru saja menginjak satu tahun. Produktivitas mereka dalam menghasilkan seni pertunjukkan memang tak dapat disangkal.  Baca selengkapnya.                                                                         
  3. Merenungkan Kembali Tuntutan Hukum terhadap ‘Makan Mayit’. Oleh : Anastasia JessicaAkhir Februari lalu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA), Yohana Yambise menuntut kepolisian untuk mengusut karya seni berjudul ‘Makan Mayit’ karya Natasha Gabriella Tontey. Menteri PPPA menilai karya tersebut melanggar norma kesusilaan, kepatutan dan agama. Apabila terbukti, sang seniman akan dikenakan pasal 27 ayat 1 UU ITE dan pasal 282 ayat 3 KUHP tentang kesusilaan. Baca selengkapnya. 
  1. Ziarah : Kait Mengait Sejarah, Kuasa dan Personal. Oleh : Anastasia JessicaSORE itu, 22 Mei 2017, setelah berjibaku dalam  gerah dan kemacetan di pinggir kota Surabaya, sampailah kami di sebuah mall tempat sinema berada. Waktu kurang 15 menit dari pemutaran film Ziarah. Saya langsung menuju ke tempat pemesanan tiket. Kotak-kotak warna hijau masih mendominasi monitor customer service, artinya masih banyak tempat duduk yang belum dipesan. Saya lega dan langsung membayar sesuai harga tiket. Saya lupa bahwa ini adalah Surabaya, tak perlu cemas film-film bermutu dan di luar arus utama, ludes terjual tiketnya. Ini bukan Yogyakarta atau Jakarta. Saya bisa memahami iklim penonton bioskop di Surabaya yang demikian, sebab sangat terkait dengan suasana praktis-pragmatis kota ini. Masuk ke ruang teater, sekitar 10-15 kursi yang terisi. ‘Lumayan’, batin saya. Baca selengkapnya.
  1. 313 : Aksi Tempel Stiker Pribumi dan Politikus Demagog. Oleh : Andre Yuris. “ Mengapa keturunan Hadrami-Arab menjadi pribumi dan keturunan Tionghoa menjadi non-pribumi? Bukankah keduanya pada jaman pemerintahan kolonial Hindia Belanda digolongkan sebagai “vreemde oosterlingen atau Timur Asing” yang punya hak dan keistimewaan yang berbeda dengan “pribumi” kulit gelap dan jidat lebar itu?” tulis Made Made Supriatma dihalaman facebooknya (31/032017). Baca selengkapnya 
  1. Ngobrol Pancasila Masih Ada di Warung Mbah Cokro. Oleh : Ria TekatJUMAT (09/06/17) bertempat  di Warkop Mbah Cokro, Nera Academia kembali menggelar Neratalk dengan judul “Pancasila Masih Ada”. Neratalk merupakan kegiatan rutin Nera Academia yang dikemas sebagai diskusi populer yang dilaksanakan ruang-ruang publik.  Neratalk 2017  mengangkat tema “Ke-Indonesi-an”.  Pada tahun sebelumnya (2016)  #neratalk membahas  “ Penceritaan Sejarah Indonesia”. Baca selengkapnya.
  1. Mitos Pertahanan Ruang Nusantara & Pertahanan Ruang Per-Empu-An. Oleh : Anas HidayatNUSANTARA kita terdiri dari ribuan pulau baik besar maupun kecil, yang secara spasial juga unik. Laut sebagai penghubung dan sekaligus sebagai benteng (Dipantara). Pengetahuan di Nusantara tidak dikembangkan dalam tradisi tulis yang rasional, sangat ketat metode ilmiah dan bersifat empirik, tetapi dikembangkan dalam tradisi lisan yang puitis dan kadang-kadang mistis. Salah satu tradisi lisan yang banyak dipakai di Nusantara adalah cerita rakyat, yang bisa dikategorikan sebagai mitos (mitologi). Baca selengkapnya.
  1. Katolik Radikal dan Silent Majority. Oleh : Kopong TuanGEMA silent majority tak bisa dibendung lagi. Silent majority dalam bentuk karangan bunga atau bunga hidup menjadi alat “perjuangan” melawan radikalisme. Berbagai kelompok, agama dan suku terbangun dari tidur lama selama ini oleh gaung silent majority. Radikalisme menjadi musuh bersama. Namun tanpa disadari di dalam agama lain pun ada perilaku radikalisme yang sedang tumbuh dan berkembang walau itu tidak nampak. Bahkan di agama saya sendiripun Katolik mulai tumbuh benih “radikalisme”. Baca selengkapnya.
  1. Nahdlatul Ulama : Sumbangan Islam Terhadap Bangsa Indonesia. Oleh : Bagus Hariyono SEBAGAI  salah satu agama besar, Islam memiliki lebih dari satu milyar penganut dan tersebar di seluruh dunia, dan bahkan di banyak negara Asia dan Afrika serta beberapa negara Eropa, umat Islam merupakan mayoritas. Keberhasilan ajaran Islam dalam meraih pengikut- pengikut baru di luar Hijaz, Saudi Arabia, negeri asal agama ini muncul tidak lepas dari tiga hal istimewa yang disebutkan oleh penulis Inggris termasyhur H.G.Wells dalam The Outline of History. Pertama,dengan tawhid. Ajaran tawhid memberikan kesederhaan ajaran Islam sehingga tiadanya doktrin yang rumit tentang konsep ketuhanan. Kedua, ketiadaan paham kependetaan. Pandangan ini memberikan implikasi bahwa tidak adanya kelas elit yang merasa mewakili Tuhan, karena tanggung jawab ini dipikul bersama. Ketiga, kesetaraan dalam agama Islam, sehingga begitu mudah menjadi muslim tanpa membedakan latar belakang, ras, ataupun status sosial. Baca selengkapnya.                                                             
  2. Konflik Suriah dan Polarisasinya di Indonesia. Oleh : Andre Yuris.  Minggu (23/05/17), bertempat di Warkop Mbah Cokro “Indonesia Masih Ada”  Surabaya berlangsung obrolan tentang “Konflik Suriah: Apa, Mengapa, dan Bagaimana?”. Obrolan ini menghadirkan Dina Sulaeman dan Bagus Haryono dan Kusuma Wijaya sebagai moderator. Dina Sulaeman, dikenal sebagai pengamat Timur Tengah dan juga seorang penulis novel. Novelnya berjudul “ Salju di Alepo” juga terispirasi dari kisah-kisah di Timur Tengah. Baca selengkapnya.

Kesepuluh tulisan diatas paling banyak dibaca selama setahun ini. Masih banyak tulisan lain  yang  khas dan unik dengan analisa mendalam. Para kontributor  Idenera memiliki latar belakang yang beragam; dari akademisi, mahasiswa hingga karyawan. Sebagian besar kontributor  adalah orang muda yang aktif dilingkar komunitas sosial. Kekayaan latar belakang  itulah yang menyajikan  heterogenitas  cara pandang  dalam membaca tanda-tanda jaman.

Redaksi berterimakasih pada semua kontributor yang telah sukarela mengisi ruang Idenera.  Harapan kami, ide, gagasan dan karya orang muda tetap bertahan dan terus mewarnai dan memperkaya ruang publik.

Selamat Tahun Baru 2018.

 

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *