HomeREFLEKSIDISKUSISinetron: Manipulator Konsumsi Masyarakat Satu Dimensi *

Sinetron: Manipulator Konsumsi Masyarakat Satu Dimensi *

DISKUSI FILM FILSAFAT NARASI REFLEKSI TEKNOLOGI 0 20 likes 118 views

Kemajuan industri membuat manusia semakin nyaman dan efektif dalam menjalankan hidup. Semua kebutuhan dasar seakan-akan bisa terpenuhi dengan mudah. Kini, manusia berlomba-lomba untuk mengejar kebutuhan sekunder, bahkan kebutuhan tersier. Di tengah tuntutan sistem kerja yang begitu berat pada zaman kapitalistis ini, kebutuhan non-primer seperti media hiburan tak terlelakkan untuk dimanifestasikan. Salah satu kebutuhan itu ialah sinetron. Sinetron menjadi salah satu acara entertainment yang digemari pemirsa dan mendapatkan porsi yang paling dominan dalam industri pertelevisian.

Sinetron merupakan kepanjangan dari kata “sinema elektronika” yang berarti konsep film yang ditayangkan melalui medium elektronika, yakni media visual seperti televisi. Di Indonesia, sinetron mulai digandrungi semenjak maraknya industri pertelevisian baik negeri maupun swasta semenjak tahun 1989.[1] Popularitas sinetron pun segera meroket sebab sinetron mampu menghadirkan suatu hiburan yang ringan serta menjual suatu utopia yang membuat pemirsa enjoy dari kepenatan. Akan tetapi, dampak positif tersebut tidak diikuti oleh peningkatan kualitas produksi sinetron. Akibatnya, industri sinetron mengalami banyak “penyakit” yang kontraproduktif bagi sebuah karya seni. Dewasa ini, sinetron hanya menampilkan hal-hal klise, alur cerita yang kurang mendalam dan mendidik, serta kemewahan hidup yang secara implisit berhasil “mengarahkan” hidup banyak orang. Demikianlah, sinetron telah menjadi “kiblat” gaya hidup bagi masyarakat industri modern.

Sehubungan dengan itu, Herbert Marcuse, seorang filsuf Jerman, melihat adanya sikap tidak kritis yang menjangkiti masyarakat kapitalis maju. Mengapa demikian? Marcuse meyakini bahwa dewasa ini masyarakat telah menjadi one-dimensional man (manusia berdimensi satu). Manusia masa kini tidak lagi mengenal oposisi dari segala hal yang ditawarkan kapitalisme dan bersedia disetir ke arah yang diinginkan kapitalisme. Masyarakat kapitalis maju cenderung ‘mengiyakan’ tawaran kapitalisme tanpa ada daya kritis terhadapnya. Sinetron sebagai salah satu produk kapitalisme telah menjadi salah satu dimensi yang “diiyakan” oleh masyarakat. Rumah produksi sinetron dan masyarakat rupanya telah termakan rasionalitas teknologis.

Kehidupan masyarakat yang terlalu bergantung pada rasionalitas teknologis kiranya perlu ditindaklanjuti. Di sini, penulis berusaha menelusuri dimensi afirmatif sinetron yang berhasil menggerus dimensi negatif dari masyarakat secara perlahan. Apa sesungguhnya yang ditawarkan oleh sinetron dengan berbagai gaya hidup ‘ideal nan utopi’ itu? Apakah manusia melupakan indahnya pentas drama hanya demi efektivitas produksi? Bagaimana cara kapitalis memengaruhi masyarakat sedemikian hebat?

Sinetron Cinta Fitri termasuk sinetron dengan masa tayang paling lama di Indonesia. Foto : Md Entertainment

Fenomena Sinema Elektronika Televisi (Sinetron TV) Indonesia

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sinetron merupakan “film yang dibuat khusus untuk penayangan di media elektronik, seperti televisi.”[2] Sesuai dengan definisinya, sinetron mulai marak di Indonesia ketika banyak stasiun televisi baik negeri maupun swasta bermunculan sepanjang tahun 1989-2002, contohnya TVRI, SCTV, RCTI, TPI, INDOSIAR, METRO TV, Global TV, dan lain-lain. Sinetron membuka peluang untuk ditonton secara tidak khusus. Sebagai contoh, sinetron TV dapat ditonton ketika menerima tamu, makan, berbaring, tempat umum, kafe, dan sebagainya. Kondisi itu membuat para produsen sinetron harus bisa menarik perhatian pemirsa baik dengan cuplikan adegan seru dalam sinetron saat jeda iklan maupun melalui pamflet, baliho, dan media periklanan lainnya.

Sinetron menawarkan suatu film dengan konsep dan alur cerita yang memiliki kesamaan realitas dengan pemirsa, mengandung cerminan kebudayaan atau tradisi luhur masyarakat, dan mengangkat permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam masyarakat.[3] Sebagai contoh, sinetron menawarkan kisah-kisah keseharian masyarakat seperti problema keluarga, kisah percintaan, kisah kriminal, kisah komedi, dan lain-lain. Selama ini, sinetron TV telah menjadi salah satu acuan masyarakat dalam bersikap dan berperilaku. Semua pesan yang terkandung dalam sinetron sebenarnya mengungkapkan berbagai kritik sosial terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam masyarakat. Akan tetapi, perilaku menyimpang tersebut kemudian sering disalahartikan sebagai hal yang lumrah. Sinetron yang pada dasarnya bertujuan untuk menghibur, kini telah menjadi sarana untuk mewujudkan gaya hidup ideal yang terlihat “nikmat”.[4]

Akses sinetron yang begitu mudah tidak terlepas dari peran televisi yang telah menjadi salah satu “bagian” dari keluarga. Setiap keluarga modern setidaknya memiliki minimal satu televisi sebagai rujukan untuk menemani acara kekeluargaan. Tidak adanya filter menjadikan anak-anak juga bebas melihat sinetron yang seharusnya tidak layak ditonton anak-anak seperti kisah percintaan atau kisah kriminal. Hal ini jelas membuat perilaku anak berubah, mulai dari kebiasaan menirukan gaya bicara dan gaya hidup di sinetron hingga sulit bersosialisasi dengan orang lain.[5] Oleh sebab itu, berbagai cara dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia untuk menanggulangi hal ini, misalnya dengan menghimbau orangtua untuk mendampingi anaknya saat menonton TV atau memberikan label kelompok usia pada sinetron.

Dewasa ini, kualitas penuturan cerita dalam sinetron bisa dikatakan belum begitu bermutu. Dalam rangkaian perhelatan Anugerah Komisi Penyiaran Indonesia 2016, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia Seto Mulyadi menegaskan bahwa kualitas acara-acara yang menjadi nomine Anugerah KPI 2016 belum sepenuhnya memuaskan. Menurut Seto, acara-acara TV Indonesia belum begitu bermuatan wawasan keilmuan, nasionalisme, etika moral, dan menggambarkan kejiwaan anak. Hal itu tidak terlepas dari dominasi sinetron yang mencapai 31 persen dan iklan yang mencapai 40 persen berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika. Noer Munadi, selaku juri acara drama dan film televisi (FTV) juga menuturkan bahwa sinetron dan FTV Indonesia sangat lemah dalam penyampaian cerita. Noer juga prihatin melihat dunia pertelevisian Indonesia telah menjadi sebuah industri yang dituntut untuk menghasilkan produk sebanyak mungkin. Akibatnya, cerita atau naskah sinetron ditulis dengan tergesa-gesa dan tidak berbobot.[6]

Konsep One-Dimensional Man Menurut Herbert Marcuse

            Di antara sekian banyak karangan, buku One-Dimensional Man merupakan karya tersukses dan paling terkenal dari Herbert Marcuse[7]. Inti kritik Marcuse terletak pada dimensi negatif yang rupanya telah disingkirkan dalam kehidupan masyarakat industri maju. Sebelumnya, masyarakat sebenarnya memiliki 2 dimensi, yakni dimensi afirmatif dan dimensi negatif.[8] Dimensi afirmatif terdiri dari semua unsur yang membenarkan dan melanggengkan sistem kekuasaan yang ada. Sebaliknya, dimensi negatif terdiri dari semua unsur yang menolak dan menentang struktur kekuasaan dan struktur kemasyarakatan yang ada. Marcuse percaya bahwa masyarakat dapat terbangun optimal dan berubah dengan memberdayakan kekuatan negatif seperti yang pernah dikemukakan Hegel dan Marx.

Namun, masyarakat industri maju rupanya sudah mengintegrasikan kekuatan negatif sedemikian rupa sehingga menjadi dimensi afirmatif saja. Mengapa bisa demikian? Rahasianya terletak pada keberhasilan ganda masyarakat industri maju yang mampu menciptakan produktivitas luar biasa dan standar hidup lebih tinggi.[9] Dengan demikian, pertentangan kelas tidak akan ada lagi sebab baik kaum borjuis maupun kaum proletar sama-sama melestarikan dimensi afirmatif. Konsekuensinya, semangat revolusioner pun lenyap di antara masyarakat. Meskipun oposisi tetap ada, mereka sama sekali tidak ditindas, melainkan diintegrasikan dalam sistem dengan dalih rasionalitas tekonologis dan kebebasan berpendapat. Hal ini jelas menciptakan ekspresi masyarakat yang hanya memiliki satu dimensi, yakni dimensi afirmatif.

Sinetron sebagai Konsumsi Masyarakat Berdimensi Satu

            Masyarakat kapitalis telah memanipulasi kehidupan manusia secara menyeluruh. Sinetron menjadi salah satu unsur afirmatif yang memengaruhi masyarakat untuk menghapus dimensi negatif. Walaupun kritik terus bermunculan sebagai pihak oposisi, namun sinetron tetap tayang dan semakin beragam jenisnya. Mengapa tidak ada keseriusan dalam menindaklanjuti dampak buruk sinetron? Hal itu dikarenakan kaum kapitalis memodifikasi sinetron sebagai sarana indoktrinasi masyarakat tentang gaya hidup ideal. Di sini semakin terlihat bahwa dimensi afirmatif dilanggengkan baik oleh kapitalis maupun masyarakat.

            Bagaimana bentuk indoktrinasi kapitalisme dalam sinetron? Seringkali sinetron menyajikan gambaran hidup manusia yang betul-betul membahagiakan. Sebagai contoh, mengendarai mobil atau motor mahal, makan bersama dengan jamuan mewah, memiliki rumah mewah, artis yang cantik dan tampan, cerita sehari-hari yang menyenangkan, hang-out di kafe atau restoran, dan sebagainya. Selain itu, sinetron juga menyisipkan iklan-iklan yang menjadi sponsornya. Realitas ini memunculkan harapan bagi pemirsa sinetron bahwa mereka pasti suatu saat bisa menjadikan kualitas hidup tinggi layaknya pemain sinetron. Untuk itu, kesempatan ini diambil alih kapitalis untuk segera memasarkan produk-produk “pemberi harapan” itu. Pola pikir masyarakat segera dirancang demikian, “Jika Anda memiliki barang A, maka Anda akan seperti artis B”. Jika masyarakat tidak kritis terhadap segala tawaran yang ada, maka masyarakat akan bertindak sebagai konsumen berdimensi satu.

Sinetron: Irasionalitas yang Terlihat Rasional

            Sinetron dengan segala alur ceritanya kelihatannya memang terkesan rasional. Sinetron memang sengaja mengadopsi kenyataan masyarakat dengan sedikit bumbu dramatis. Akan tetapi, segala manipulasi dan dampak yang ditimbulkan membuat sinetron sangat irasional. Kenyataan yang berbahaya ialah ketika cerita sinetron benar-benar dianggap dapat diterapkan pada dunia nyata. Faktualitas sinetron tentu berbeda dengan faktualitas dunia nyata. Dunia sinetron rupanya berhasil menanamkan utopi-utopi yang mampu menjadi candu bagi masyarakat. Kecanduan, entah karena alur cerita atau hal lain, menunjukkan irasionalitas masyarakat industri maju di bidang entertainment.

            Manipulasi kapitalisme selanjutnya adalah dalam bidang kebebasan. Bukan hanya kebebasan mengkritik atau menentang dunia persinetronan, melainkan juga kebebasan dalam memilih diberikan oleh kapitalis. Sesungguhnya, masyarakat diperkenankan untuk menonton atau tidak menonton sinetron. Akan tetapi, jam tayang yang berada dalam jam-jam kebersamaan keluarga atau teman kantor membuat pilihan terkesan diciutkan. Bagi masyarakat yang sibuk bekerja, hal ini tentu tidak disadari sama sekali. Selain itu, sinetron juga kerap menjadi acuan trend bagi masyarakat. Untuk memanipulasi kebebasan trend, kapitalisme berusaha menyuguhkan variasi produk yang dikemas secara menarik. Dari sini terlihat bahwa walaupun masyarakat diberikan kesempatan untuk secara bebas memilih, namun kebebasan itu direduksi dalam hal konsumsi. Di sini, masyarakat kapitalis berhasil mengintegrasikan dimensi kritis masyarakat luas ke dalam afirmasi kapitalisme.

            Penyakit “rasionalitas teknologis” yang ditularkan sinetron rupanya juga menjangkiti baik pihak masyarakat maupun kapitalis sendiri. Masyarakat cenderung menerapkan rasionalitas teknologis dalam gaya hidup konsumerisme yang semakin menjadi-jadi. Sinetron berusaha menggiring kebebasan dan gaya hidup masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan efisiensi produksi kapitalis. Janji akan kualitas hidup yang dapat pemirsa sinetron capai menutup kebutuhan “benar”. Masyarakat kini digiring untuk berpartisipasi menikmati kebutuhan “palsu” yang bisa didapatkan dengan mudah di pasaran. Sebagai pencetus rasionalitas teknologis, produsen sinetron juga diliputi derita “senjata makan tuan”. Permintaan pasar membuat produsen sinetron kewalahan sehingga alur cerita dibuat tergesa-gesa. Akibatnya, sinetron masa kini tidak lagi menonjolkan sisi estetis drama, melainkan menyesuaikan diri dengan pasar. Sinetron kini telah kehilangan makna dan teralienasi dari esensi sebuah karya seni.

Desublimasi Represif dalam Sinetron

            Tugas untuk mengosongkan cita-cita masyarakat berhasil diemban oleh sinetron. Tuntutan efisiensi yang makin hari makin besar membuat tidak hanya masyarakat, tetapi juga produsen sinetron menyesuaikan diri dengan sistem kapitalisme. Kebahagiaan kini melulu didasarkan pada trend dan materi yang menjadi tolok ukur manusia ideal. Bukan hanya itu, produsen sinetron pun berlomba-lomba untuk mendapatkan popularitas dan tanggapan positif dari masyarakat karena kembalinya modal adalah “kebahagiaan” bagi mereka. Penyesuaian dengan tuntutan efisiensi kapitalis membuat produsen sinetron “terpaksa” atau “sengaja” menyuguhkan cerita klise dan hanya mengekor dengan drama/sinetron luar negeri. Penyakit lain dalam produksi sinetron ialah seringkali sekuel atau episode dipanjang-panjangkan manakala sedang naik daun. Hal ini tentu mengubah secara total kehidupan kru dan artis sinetron karena kebahagiaan mereka terletak pada berjalannya sistem yang semakin langgeng. Masyarakat yang mengilhami sinetron sebagai gaya hidup ideal memiliki tendensi untuk mengimitasi segala tingkah laku artis sinetron. Anak-anak merupakan kelompok umur yang paling mudah melakukan imitasi. Mereka mulai menirukan gaya artis yang sok dewasa atau antagonis. Kecuali itu, orang dewasa pun tidak luput dari pengaruh, khususnya gaya hidup konsumeris.

            De-erotisasi amat kentara dalam sinetron. Sinetron menyuguhkan hiburan yang sungguh menggugah libido masyarakat. Artis cantik dan tampan menjadi senjata andalan kapitalisme dalam publikasi dan pendongkrakkan rating sinetron. Lebih lanjut, seksualisasi yang digembargemborkan dalam adegan-adegan sinetron memaksa masyarakat untuk masuk dalam atmosfer de-erotisasi. Masyarakat kini tidak lagi menganggap dan meminati para artis sebagai manusia, melainkan sebagai pemenuh hasrat seksual. Tidaklah mengherankan apabila gosip miring selalu mudah beredar di kalangan para artis. Industri pertelevisian memanfaatkan hal tersebut untuk mendongkrak popularitas diri artis agar sinetron yang ia bintangi semakin diminati. Tak pelak, manusia yang menjadi “mesin” penggerak kapitalisme dipandang sebagai manusia tanpa libido dan semata fungsional. Jika seorang artis tidak produktif, maka ia tidak lagi akan dikontrak. Hal inilah yang menjadi sebab mengapa artis-artis sinetron begitu mudah mengalami pasang-surut dalam popularitas.

            Sinetron rupanya juga memanipulasi bahasa. Sinetron yang notabene diperuntukkan bagi khalayak umum mau tidak mau harus menggunakan bahasa sederhana dan mudah dipahami. Kebanyakan sinetron menggunakan bahasa gaul atau bahasa yang mudah melekat di ingatan masyarakat. Bahasa abstrak dan baku jelas tidak mungkin digunakan dalam sarana hiburan. Kondisi ini adalah rekayasa kapitalisme yang berusaha memanipulasi bahasa agar kehilangan dimensi abstrak dan kritisnya. Dwi-dimensionalitas bahasa kini dikhianati dengan penggunaan bahasa “operasionalisme” yang mendukung kapitalis. Jeda iklan merupakan saat di mana bahasa kapitalis mengindoktrinasi pemirsa sinetron. Pemirsa sinetron yang terlanjur merasa nikmat atas pemanjaan bahasa semakin tidak menyadari manipulasi yang menyertai sinetron dan iklan televisi. Kondisi anti-libido dalam lingkungan kerja mempercepat suksesnya propaganda kapitalisme yang menawarkan libido baru untuk menghibur pemirsa. Demikianlah, kapitalisme semakin langgeng dan tak terbendung dalam usahanya yang secara halus menyingkirkan dimensi negatif masyarakat. Bahasa sinetron adalah bahasa berdimensi satu.

Pemeran sinetron Anak Jalanan yang tayang di salah satu stasiun televisi nasional.

Sinetron dan Rekayasa Kapitalisme

Kapitalisme secara umum berhasil merenggut simpati masyarakat melalui kehadiran sinetron yang telah menjadi seperti “keluarga inti” bagi manusia. Sinetron menjadi salah satu unsur afirmatif yang memengaruhi masyarakat untuk menghapus dimensi negatif. Kapitalis memodifikasi sinetron sebagai sarana indoktrinasi masyarakat tentang gaya hidup ideal. Segala manipulasi dan dampak yang ditimbulkan membuat sinetron sangat irasional. Selain itu, kebebasan mengkritik atau menentang dunia persinetronan dan kebebasan dalam memilih diberikan oleh kapitalis untuk mengintegrasikan dimensi negatif masyarakat secara halus.

Penyakit “rasionalitas teknologis” yang ditularkan sinetron rupanya juga menjangkiti baik pihak masyarakat maupun kapitalis sendiri. Tuntutan efisiensi yang makin hari makin besar membuat tidak hanya masyarakat, tetapi juga produsen sinetron menyesuaikan diri dengan sistem kapitalisme. Dalam pada itu, sinetron “sengaja” menyuguhkan hiburan yang sungguh menggugah libido masyarakat. Artis cantik dan tampan menjadi senjata andalan kapitalisme dalam publikasi dan pendongkrakkan rating sinetron. Rekayasa kapitalisme yang lain dapat ditemukan dalam usaha sinetron memanipulasi bahasa agar kehilangan dimensi abstrak dan kritisnya.

Sistem kapitalisme tersebut sejak semula berusaha mengintegrasikan dimensi negatif masyarakat ke dalam dimensi yang mengafirmasi kekuasaan kapitalisme. Pemikiran Marcuse memang tepat untuk mengundang masyarakat bersikap revolusioner, akan tetapi sistem kapitalisme yang saat ini sudah semakin berjaya tidak dapat dihilangkan lagi. Masyarakat kini perlu mengambil sikap bijaksana dalam menghadapi manipulasi kapitalisme. Walaupun sinetron tidak dapat berhenti tayang, masyarakat perlu ingat bahwa semua manusia yang terlibat di dalamnya tidak ingin dianggap sebagai manusia fungsional dan sekadar pemenuh libido masyarakat yang penat.

*Penulis  :  Robertus Bellarminus Aditya Wahyu Nugraha -NRP. 1323015018,  Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Diterbitkan atas kerjasama www.idenera.com, NERA ACADEMIA INDONESIA dan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

 

Referensi

Sumber Buku:

Bertens, Kees, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, PT Gramedia, Jakarta 1983.

Magnis-Suseno, Franz, Dari Mao ke Marcuse, PT Gramedia, Jakarta 2013.

Marcuse, Herbert, One-Dimensional Man: Studies in the Ideology of Advanced Industrial Society, Routledge Publisher, New York 1964.

 

Sumber Koran dan Internet:

“Acara Anak-Drama TV Belum Bermutu”, dalam harian Kompas hari Selasa, 8 November 2016.

Amini, “Waspada Dampak Negatif Sinetron Bagi Anak Anak” diunduh dari www.wartamedika.com pada Minggu, 4 Desember 2016, pukul 19.56 WIB.

“Definisi atau Pengertian Sinetron” diunduh dari www.definisi-pengertian.com pada Minggu, 4 Desember 2016, pukul 19.44 WIB.

“Sinetron” diunduh dari www.kbbi.web.id/sinetron pada Minggu, 4 Desember 2016, pukul 19.41 WIB.

[1] “Definisi atau Pengertian Sinetron” diunduh dari www.definisi-pengertian.com pada Minggu, 4 Desember 2016, pukul 19.44 WIB.

[2] “Sinetron” diunduh dari www.kbbi.web.id\sinetron pada Minggu, 4 Desember 2016, pukul 19.41 WIB.

[3] “Definisi atau Pengertian Sinetron”, Op.Cit.

[4] Ibid.

[5] Amini, “Waspada Dampak Negatif Sinetron Bagi Anak Anak” diunduh dari www.wartamedika.com pada Minggu, 4 Desember 2016, pukul 19.56 WIB.

[6] “Acara Anak-Drama TV Belum Bermutu”, dalam harian Kompas hari Selasa, 8 November 2016, 12.

[7] Herbert Marcuse lahir pada 19 Juli 1898 di Berlin, Jerman. Lewat rekomendasi Husserl, Marcuse diterima dalam Lembaga Penelitian Sosial (Institut fur Sozialforschung) cabang Jenewa lalu mengikuti anggota LPS ke Amerika Serikat. Ia meninggal saat berkunjung ke Max Planck Institut yang pada waktu itu dikepalai J. Habermas di Starnberg, dekat Muenchen, Jerman pada tahun 1979. Karya-karya filsafatnya yang terkenal antara lain Reason and Revolution (1941), Eros and Civilization (1955), One-Dimensional Man (1964), Negations (1968), Psychoanalise and Politics (1968), An Essay on Liberation (1969), Counterrevolution and Revolt (1972), dan Studies in Critical Philosophy (1972). (Kees Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, PT Gramedia, Jakarta 1983, 194-197.)

[8] Franz Magnis-Suseno, Dari Mao ke Marcuse, PT Gramedia, Jakarta 2013, 271.

[9] Ibid., 271.

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *