86 0

Anak Indonesia Yang Lahir Tahun 2020, Tiga Kali Lebih Rentan Ancaman Banjir dan Abrasi

Anak-anak di Indonesia yang lahir tahun 2020 berisiko menghadapi 3 kali lebih banyak ancaman banjir dari luapan sungai. Anak-anak juga 2 kali lebih banyak mengalami kekeringan serta 3 kali lebih banyak gagal panen. Ini tertuang dalam laporan Save the Children berjudul Born Into the Climate Crisis, September 2021.

Selina Patta Sumbung, Ketua Pengurus Yayasan Save the Children Indonesia mengatakan krisis iklim mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan anak dalam berbagai bentuk. Dampak paling buruk adalah membuat jutaan anak dan keluarga jatuh dalam kemiskinan jangka panjang.

“Studi kami menggambarkan bahwa anak-anak menanggung beban berat karena tumbuh dalam situasi yang mengancam dan anak memiliki beragam faktor yang membuat mereka lebih rentan secara fisik, sosial, dan ekonomi,” kata Selina.

Save the Children menekankan masih ada waktu untuk mengubah masa depan dari krisis iklim jika kenaikan suhu dijaga tidak lebih dari 1,5 derajat celcius. Ini akan mengurangi dampak kekeringan sebesar 39%, banjir 38%, gagal panen 28%, dan 10% untuk kebakaran hutan.

“Investasi pada penurunan emisi seharusnya berjalan beriringan dan saling melengkapi dengan upaya penurunan risiko dan meningkatkan kapasitas adaptasi pada anak ” jelas Selina.

BACA JUGA :   Kelas Tunas SDN Kebonagung Bojonegoro, Belajar Merangkai Cita-Cita

Ranti, Perwakilan Child Campaigner Jawa Barat Save the Children Indonesia mengatakan Aksi Generasi Iklim merupakan gerakan yang diinisiasi dan dipimpin oleh anak-anak dan orang muda.

Gerakan ini bertujuan memastikan anak-anak dan keluarga terdampak secara langsung krisis iklim dapat melakukan upaya-upaya bertahan hidup dan beradaptasi. Selain memperkuat sistem penanganan perubahan iklim yang lebih berpihak pada anak.

“Saya sadar bahaya perubahan iklim yang kita rasakan hari ini. Sudah saatnya anak-anak ikut bergerak dan dilibatkan, karena kami yang akan merasakan dampak terburuk pada masa mendatang,” jelas Ranti.

Ranti menambahkan, pemerintah harus melibatkan anak-anak dalam membangun kesadaran dampak krisis iklim dan menciptakan ruang yang aman dan nyaman untuk anak-anak berpendapat.

“Harusnya, semua anak bisa mulai berpartisipasi. Tapi sayangnya masih banyak anak-anak belum tahu tentang krisis iklim dan bagaimana mereka bisa berperan untuk membuat perubahan ” ujar Ranti.

Laporan Save The Children ini senada dengan penelitian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait kejadian bencana di Indonesia. BNPB menyebutkan, terdapat 4.650 total kejadian bencana alam dan 99,2% merupakan kejadian bencana yang berhubungan dengan iklim dan cuaca.

Data BNPB menyebutkan di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) jumlah pengungsi akibat kekeringan bertambah signifikan dari 21.688 jiwa tahun 2018 menjadi 6 kali lebih besar pada 2019 hingga mencapai 139.746 jiwa, termasuk anak-anak.

Sedangkan di Sulawesi Selatan, jumlah populasi terpapar gelombang tinggi dan abrasi diperkirakan mencapai 265.307 jiwa. Dari angka tersebut, 40.508 jiwa merupakan kelompok rentan termasuk anak-anak yang tersebar di Kepulauan Selayar, Takalar, Pangkajene Kepulauan dan Makassar.

BACA JUGA :   Jaga Sungai Bersama Aeshnina dan Polisi Air di Wonosalam

Data ini juga menyebutkan di Jawa Barat ada 247 kejadian banjir pada 2021. Banjir menyebabkan 20 orang meninggal dunia, 282 mengalami luka dan 1.440.252 orang mengungsi termasuk anak-anak.

Aksi Generasi Iklim yang digagas Save the Children Indonesia ini melibatkan anak-anak dari Provinsi Jawa Barat, Sulawesi Tengah, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur.

Foto oleh Yayasan Save the Children Indonesia

Please share,
Andre Yuris

Gatekeeper di Idenera.com & Pekerja Grafis, Foto dan Video di Surabaya. Relawan di @neraacademia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow Me