HomeREFLEKSIDISKUSIMaria Menjadi Ibu Yesus Bukan Semata Karena Takdir

Maria Menjadi Ibu Yesus Bukan Semata Karena Takdir

0 642 views share

Ketika Maria menerima kabar dari malaikat Gabriel untuk mengandung Yesus, sebagai seorang perempuan yang belum bersuami Maria sangat kebingungan.

Kebingungan Maria tampak pada perkataanya” Bagaimana mungkin itu semua terjadi sedangkan aku belum bersuami?”. Ungkapan polos dari seorang perempuan sederhana yang hidup dalam sebuah norma dan tradisi yahudi dan patuh pada Taurat. Dalam tradisi yahudi, seorang perempuan yang mengandung diluar nikah merupakan perbuatan zinah dan dapat dihukum rajam.

Kebingungan Maria dalam menghadapi perkara ini disangat beralasan, pertama karena Dia merupakan sosok perempuan sederhana yang hidup dalam aturan tradisi yahudi yang ketat. Kedua, Maria menyadari bahwa dirinya dipilih untuk memikul tugas mulia yaitu mengandung Yesus yang merupakan Putra Allah.

Maria berada pada persimpangan untuk menghormati tradisi (norma duniawi) disatu sisi dan disisi yang lain menyerahkan diri secara total untuk mengikuti kehendak Ilahi. Sebagai seorang manusia biasa tentunya ini bukan perkara mudah. Maria menerima dengan dengan segala konsekuensinya.

BACA JUGA :   Demokrasi Digital, Dari Gen Z To Alpha

“Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-MU” merupakan bentuk penyerahan diri secara total kepada kehendak Allah, yang bagi sebagian orang mungkin dianggap tidak masuk akal dan gila. Maria berani mengambil resiko untuk berhadapan dengan aturan duniawi. 

Maria dengan segala keteguhannya memilih untuk menerima tugas mulia yaitu menjadi Ibu Yesus. Keteguhan hati Maria dalam mengambil keputusan dan resiko yang akan hadapi merupakan bukti kekuatannya sebagai seorang perempuan.

Setiap bulan desember, ada dua momentum besar yang mengingatkan kita semua kepada sosok ibu yaitu Hari Ibu dan perayaan Natal. Ada satu sosok penting dalam dua hari besar ini yaitu IBU. Ditengah maraknya isu poligami, tentunya sosok yang satu ini menjadi pusat pembicaraan. Lepas dari semua kontroversi yang ada, sosok ibu adalah sosok yang tidak tergantikan dalam sejarah kehidupan manusia didunia.

BACA JUGA :   Saya Memilih Demi Harapan

Tetapi kadang ini tidak disadari oleh kaum perempuan itu sendiri yang cenderung menganggap dirinya tidak bisa berbuat lebih seperti halnya laki-laki. Pola pikir seperti inilah yang menyebabkan kaum perempuan seakan-akan tidak punya pilihan lain selain menjadi ibu rumah tangga. Mereka masih menganggap menjadi ibu adalah takdir. Tidak mengherankan dominasi laki-laki bahkan kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga masih sering terjadi.

Maria sebagai ibu Yesus yang merupakan tokoh sentral dalam karya keselamatan Yesus didunia. Perempuan dan sosok ibu yang tidak tunduk begitu saja terhadap dominasi laki-laki (dalam bentuk norma/tradisi yang merugikan perempuan).

Maria merupakan sosok perempuan yang berani memilih bahkan mengambil resiko berbenturan dengan tradisi/norma duniawi demi keyakinanya. Sosok ibu yang satu ini, seharusnya menjadi panutan bahwa perempuan tidak seharusnya berada dibawah dominasi laki-laki, tetapi harus berani menentukan sikap dan pilihan secara sadar.

BACA JUGA :   Setan, Yahudi, Cina dan Komunis Sebagai Kambing Hitam

Menentukan sikap bahwa menjadi perempuan dan menjadi ibu bukanlah semata-mata karena takdir (determinisme). Determinisme (takdir) yang dimaksud adalah cara berpikir bahwa semua kejadian di dunia ini sudah direncanakan Tuhan, dan itu bersifat absolut. Takdir bisa juga bermakna relatif atau atau yang seharusnya bisa diperbaiki manusia. 

Sikap Maria melampaui takdir, Ia menentukan pilihannya secara sadar. Maria telah menunjukan kepada kita semua, bahwa dia memilih untuk menerima tugas mulia menjadi Ibu Yesus bukan semata karena takdir tetapi karena kesadaran dan keyakian yang kuat bahwa dia bisa menjalankan amanat tersebut demi keselamatan manusia di dunia.

Selamat hari Ibu, Selamat Natal, Semoga damai selalu menyertai kita.

Please share,