HomeREFLEKSIDISKUSIDaming Laisow : Memanusiakan Manusia Mustahil Tanpa Intervensi Masyarakat

Daming Laisow : Memanusiakan Manusia Mustahil Tanpa Intervensi Masyarakat

DISKUSI LINGKUNGAN NARASI REFLEKSI 0 1 likes 187 views

Lingkungan dan pendidikan  adalah dua hal penting dalam perjalanan kehidupan seseorang yang mustahil dipisahkan. Keduanya  selalu berbarengan dalam berjalan. Kalau lingkungan aman tetapi pendidikan masih belum aman maka pendidikan tidak akan berjalan. Demikian juga pendidikan, kalau pendidikan aman tetapi lingkungan masih belum  aman maka pendidikan akan kocar-kacir. Pada ujungnya kehidupan seseorang akan  menjadi baik atau tidak tergantung lingkungan dan pendidikannya.

Cara Pandang Terhadap Lingkungan

Lingkungan sangat berpengaruh sehinga harus kita perhatikan terlebih dahulu.  Lingkungan bisa berubah dalam waktu yang cepat  tanpa kita ketahui.  Bisa jadi kondusif, bisa jadi sebaliknya. Contoh seperti kehidupan di Kampus, lantaran lingkungan pergaulan dan tempat tinggal kurang baik, banyak mahasiswa yang tidak mampu menyelesaikan kuliahnya. Ada juga yang sebaliknya. Pada hal misalnya sebelum kuliah, kehidupan keluarga dan lingkungan baik. Hal ini menunjukan bahwa lingkungan yang paling dekat seperti rumah, kampus, tetangga dan pertemanan mampu mengubah seseorang jadi baik atau tidak.

Baca juga : Leo Hadinolo : Pendakian Ke Semeru Sebagai Titik Awal Kesadaran Ekologis

Itulah yang jadi alasan saya mengatakan lingkungan merupakan faktor yang harus kita jaga dan juga harus kita perhatikan terlebih dahulu. Belum lagi terkait ekosistem dan kesehatan lingkungan yang bisa mempengaruhi kesehatan jiwa maupun raga seseorang. Lingkungan pula yang menentukan seseorang konsisten atau tidak memperjuangkan cita-citanya.

Cara Pandang Pendidikan

Pendidikan merupakan faktor lain yang membentuk keperibadian manusia. Pendidikan sangat berperan dalam baik atau buruknya prilaku manusia. Baik buruk yang saya maksudkan di sini terkait dalam pandangan orang lain dalam masyarakat. Namun perkembangan kepribadian manusia tidak hanya dipengaruhi oleh pendidikan, baik itu pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi.

Hal yang saya anggap paling berpengaruh terhadap pencapaian pendidikan dan perkembangan karakter seseorang adalah lingkungan tempat ia tumbuh dan berkembang. Dengan kata lain proses perkembangan pendidikan manusia untuk mencapai hasil yang maksimal tidak hanya tergantung bagaimana pendidikan formal dijalankan. Namun juga tergantung pada lingkungan pendidikan. Lingkungan berada diluar jangkauan sistem pendidikan formal, maka ia membutuhkan pendekatan lain yang saya sebut intervensi masyarakat.

Sekolah, Keluarga dan Lingkungan

Pendidikan adalah usaha sadar dan  terencana yang didalamnya ada proses pembelajaran atau pelatihan yang melibatkan peserta didik dimana mereka secara aktif terlibat mengembangkan potensi diri serta  keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Masyarakat adalah kata kunci disini. Maka keseluruhan proses ini membutuhkan intervensi masyarakat atau lingkungan. Intervensi disini saya letakan dalam pengertian campur tangan dan keterlibatan. Intervensi lingkungan dalam pendidikan terjadi melalui keluarga, lingkungan dan pergaulan sehari-hari. Setidaknya tiga hal ini yang sangat berperan. Saya menyebutnya sebagai tripilar pendidikan yaitu sekolah, keluarga dan lingkungan.

Baca juga : Joana Liani : Jika Kamu Nilai Orang Lain Manusia, Kamu Sedang Menilai Diri Sendiri

Membantu peserta didik agar mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya baik lingkungan fisik maupun sosial dan budaya akan mampu mengoptimalisai proses pendidikan. Manusia berkembang dari interaksi dengan lingkungan sekitar. Ini semula berjalan alamiah, tetapi  dalam konteks tertentu perlu intervensi agar tidak menyimpang dari tujuan pendidikan yakni memanusiakan manusia. Perlu usaha untuk mengatur dan mengendalikan lingkungan sedemikian rupa agar mempunyai mendukung pencapaian tujuan itu.

Fungsi lain lingkungan pendidikan adalah mengajarkan peran tertentu pada seseorang agar mampu terlibat atau berperan di masyarakat.  Masyarakat akan berfungsi dengan baik jika setiap individu belajar berbagai hal, termasuk peran-peran khusus yang digunakannya bersama masyarakat.  Peran itu dipupuk melalui skill dan kompetensi khas yang dipelajari baik formal maupun non formal.

Peran Khas Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi siapapun. Keluarga jadi peletak dasar perkembangan dan pertumbuhan fisik dan psikis. Melalui interaksi dalam keluarga, kita tidak hanya mengidentifikasi diri dengan orang tua, melainkan juga mengidentifikasikan diri dengan kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya.

Perkembangan seseorang dalam pemahaman tertentu dimulai sejak dalam kandungan ibunya. Maka kebisaan ibu dan bapak, khususnya dalam pendidikan sedikit banyak memberikan landasan bagi seseorang.  Bahkan ketika seseorang masih dalam kandungan, ia sudah mampu menyerap hal-hal tertentu. Bila lingkungan terdekatnya, bapak dan ibunya memberikan situasi yang baik dan nyaman maka hal-hal baik itulah yang terserap pada anak hingga selanjutnya dikembangkan setelah ia lahir.

Baca juga : Rezza Sadewo : Situasi Keluarga dan Komunitas Punk Membuat Saya Belajar Bersikap Adil

Hal ini mensyaratkan tuntutan agar ada pendidikan dan pendampingan bagi calon ayah dan ibu atau mereka yang hendak membangun keluarga baru. Perlu ada intervensi dari masyarakat melalui pendidikan bagi pasangan muda agar terlibat sejak dini mempersiapan situasi yang aman bagi anak.  Bila sejak sebelum menikah disadari dan dijadikan bahan pengajaran dalam proses pendidikan formal tentu akan lebih baik.

Tawaran solusinya adalah agar pendidikan formal juga bicara tentang kebisaaan baik dalam keluarga. Ini mensyaratkan bawa dalam penyusunan sistem pendidikan melibatkan keluarga peserta didik agar sesuai atau menjawab kebutuhan anak, keluarga dan masyarakat. Karena bagaimanapun tujuan akhir (outcome) dari pendidikan adalah masyarakat. Masyarakat yang manusiawi lahir dari pendidikan, keluarga dan lingkungan yang memanusiakan manusia.

Oleh :  Daming Laisow (email : daminglaisow@gmail.com).  Mahasiwa Fakultas Hukum Universitas Dr. Soetomo (UNITOMO) Surabaya.  Peserta Sekolah Analisa Sosial (ANSOS) III 2018  yang diadakan oleh Nera Academia di Surabaya. Tulisan ini merupakan bagian dari proses Sekolah Ansos di mana tiap partisipan mengekspresikan keprihatinannya pada isu gender, pendidikan dan lingkungan.

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *