HomeREFLEKSISASTRACERITA PENDEKDitulis Oleh (Bukan) Calon Tante

Ditulis Oleh (Bukan) Calon Tante

0 40 views share

Tulisan ini ditulis saat pandemi mengusik ketenangan kita. Itu kenapa aku sedikit mengkhawatirkan keadaan kamu yang membaca tulisan ini. Kamu apa kabar? Semoga selalu dalam perlindungan Tuhan.

Mungkin aku belum begitu familiar di telinga kamu tapi izinkanlah agar kita bisa saling sayang seperti pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang. Perkenalkan namaku Acha. Aku ingin sedikit menceritakan bagaimana rasanya bahagia dan sedih terasa pada waktu yang bersamaan.

Tepat tanggal 30 Desember 2020, lahirnya makhluk kecil nan mungil tapi lucu banget, yaitu keponakanku. Namanya Noel. Aku suka dengan nama tengahnya, Alvaro, dalam bahasa Spanyol yang berarti keadilan / bijaksana. By the way, aku akui namanya keren sih. Baiklah, dia lahir saat pandemi masih berlangsung. Saat melahirkannya hanya kakak kandungku dan dokter yang berada di dalam ruangan operasi. Iya, tanpa suaminya yang sekarang sudah resmi jadi abang iparku.

Belum lagi harus mengikuti rapid test yang membuat jantungku dag-dig-dug karna takut dan kurang siap dengan hasilnya kalau ternyata positif. Puji Tuhan, negatif. Kami dibatasi saat ingin melihat dirinya. Jujur saja merasa tidak nyaman, ya pastilah. Tapi kembali lagi kita harus mengikuti protokol kesehatan. Dan semuanya berjalan dengan lancar.

Manusia mungil ini sudah lama ku tunggu setelah kakak kandungku menikah. Maklum saja, aku ini anak paling kecil dan tidak ada lagi yang punya anak kecil diantara keluarga Papah dan Mamaku. Bahkan aku dengan saudara kandungku beda berapa tahun ya? Jauh banget sih.

BACA JUGA :   Bakwan Terakhir

Aku memiliki satu orang Abang dan Kakak, tapi tidak punya adik. Aku anak bontot. Aku dengan Abangku beda 9 tahun. Aku dengan Kakakku beda 8 tahun. Nah, sedangkan Abang dan Kakakku hanya beda satu tahun aja. Bisa dibilang sih aku ini antara ada dan tiada, hehehe…

Aku dengar-dengar ceritanya sih katanya aku ini bisa ada karna saat itu saudara kandungku udah pada besar jadi udah enggak enak lagi digendong dan diajak main. Sedangkan Papahku adalah manusia penyayang anak kecil yang akhirnya sifat itu pun diwariskan ke aku.

Eng ing eng …

Akhirnya lahirlah aku anak paling kecil. Dan aku ingat banget sih kata-kata Papahku, dia bilang kalau nanti dua anak ini alias Abang dan Kakakku merantau setidaknya kita tidak sendirian, Ma. Yup, ada aku yang mengurus sekaligus menemani. Dan semoga aku menjalankan amanah itu ya.

Tidak terasa tahun demi tahun berganti sampai akhirnya sekarang aku bukan lagi anak kecil. What?! Aku udah jadi seorang Tante sekarang! Secara tidak langsung, aku pun udah memiliki anak kecil sekarang. Ya, keponakan kan artinya juga anak kita meskipun bukan aku yang melahirkan dirinya.

Kira-kira terlalu muda gak sih aku jadi Tante di usiaku sekarang 22 tahun? Menurut teman-temanku sih, katanya iya masih muda. Tapi berbeda dengan jawabanku. Aku malah begitu senang dengan kehadiran makhluk kecil yang lucu dan menggemaskan ini! Aku udah menanti kehadirannya. Dan sekarang aku merasa sangat senang.

BACA JUGA :   Goresan Tinta Kamar 23

Tapi jangan salah, ada beberapa teman sebayaku yang bilang kalau mereka berada diposisiku mereka belum tentu siap dan terima kondisi seperti ini. Memang kembali kepada individu masing-masing sih. Tapi percayalah, ketika kamu punya keponakan nanti, kamu bakal bahagia terus. Temanin dia main sambil membuat kamu flashback ke masa kecil kamu yang dulu. Kecuali kamu enggak suka anak kecil ya. Karna enggak semua orang suka sama bisingnya anak kecil, hehehe…

Hadirnya keponakanku membuat banyak perubahan dalam hidupku. Mulai dari aku semakin semakin dan semakin semangat menulis, contohnya buku ketigaku udah terbit di awal tahun ini. Sebelum dia lahir pun aku udah mencoba berhenti merokok. Sampai sekarang dia udah lahir, aku semakin mindfulness. Aku begitu sadar yang aku lakukan ini demi kesehatanku. Aku menjaga kesehatanku agar aku bisa lebih lama lagi hidup, ya untuk keponakanku biar bisa main bareng terus sama dia.

Aku selalu punya alasan untuk tersenyum disaat aku sedih. Aku cukup buka galeri gawaiku dan lihat semua foto dia yang selama ini aku abadikan. Setiap weekend aku main ke rumahnya, jagain dan temanin dia tidur siang. Menemani kakak kandungku mengganti popoknya sambil mengajak dia bicara dan main. Begitu berwarnanya sekarang hidupku setelah kehadiran keponakanku ini.

BACA JUGA :   Gara-Gara Nico (II)

Aku tahu bukan aku aja yang merasakan perubahan seperti ini hanya karna seorang anak kecil. Banyak orang yang diantaranya adalah para orangtua. Yang kerja jadi semangat kerja sepuluh kali lipat, dan ingin cepat pulang ke rumah agar bertemu dengan buah hatinya. Doaku yang sederhana, semoga semua anak di dunia ini semakin bahagia. Mereka berhak bahagia memang. Dan kita memang harus membahagiakan mereka. Lebih banyak lagi tawa, canda dan kasih sayang. Termasuk hadiah yang lucu-lucu. Karna aku pun senang membanjiri keponakanku dengan banyak hadiah.

Aku sedikit merasa kikuk saat gabung dengan ibu-ibu lainnya dalam satu ruangan zoom yang membahas lebih dalam lagi soal parenting. Dan aku begitu yakin bahwa kita semua, yang belum jadi orangtua atau sebentar lagi jadi orangtua dan bahkan siapapun yang tidak berniat memiliki anak sekalipun penting juga belajar soal parenting. Karna itu berguna banget sih buat kehidupan sehari-hari. Karna kita tidak berhadapan dengan orang dewasa saja, bahkan kita berhadapan juga dengan orang yang sudah memiliki umur banyak namun tidak dewasa alias masih kekanak-kanakan. Pasti itu sifat pacarmu, kan? Hehehe…

Salam untuk keponakan Tante, Noel.

Medan, 21 Januari 2021

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *