HomeREFLEKSIDISKUSIEksploitasi Tumpang Pitu dan Peran Agama Islam Terkait Lingkungan Hidup

Eksploitasi Tumpang Pitu dan Peran Agama Islam Terkait Lingkungan Hidup

DISKUSI KEBUDAYAAN LINGKUNGAN NARASI 0 1 likes 128 views

Tidak terbantahkan dan tak dipungkiri bahwa segala sesuatu dikehidupan ini, terbentuk dalam suatu sistem yang berkaitan satu sama lain. Dengan demikian kelangsungan hidup masing-masing subsistem bergantung pada subsistem yang lain. Manusia pun demikian (Erwati Aziz,2013). Artinya dalam kehidupan manusia  membutuhkan sesuatu diuar dirinya untuk memenuhi kebutuhanya sehari-hari.

Relasi manusia dengan alam atau lingkungan terganggu apabila mengalami terjadi pencemaran dan kerusakan.  Sebab relasi manusia dengan alam adalah suatu kesatuan yang utuh dan tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Sampai kapanpun ini jadi satu kesatuan yang membentuk sejarah peradaban manusia dari awal sampai akhir penghidupan di muka bumi ini.

Baca juga : Miftahul Ulum : Belajar Solidaritas Dari Perjuangan Warga Mempertahankan Waduk Sepat

Relasi manusia dengan alam  juga bukan hanya sebatas untuk pemenuhan kebutuhan.  Alam tidak bisa dipahami secara sempit hanya sebagai alat, objek atau komoditas yang bisa diuangkan dan diambil untungnya saja. Pemikiran sempit inilah, akar eksploitasi besar-besaran sumber daya alam. Alam dijarah dan dibongkar untuk diambil apa yang terkandung didalamnya tanpa memperhatikan keberlangsungan hidup dan ekosistemnya. Tidak heran juga bila bunyi buldoser dan ekskafator meraung-raung menguras dan menggeruk kandungan ladang, gunung dan hutan. Sebabnya kita manusia, picik dan licik memandang alam.

Berkaca dari Keruskan Tumpang Pitu Banyuwangi

Seperti kita ketahui  bersama eksploitasi alam juga terjadi di Banyuwangi tepatnya di Tumpang Pitu. Disana sedang belangsung ekploitasi tambang-menambang emas. Perubahan alam aktifitas tambang emas pun makin terlihat dan terasa.  Air pantai yang biasanya terlihat bening, kini keruh dan cokelat lumpur. Lumpur juga mulai terlihat merajai  laut Pulau Merah. Laut yang dulu jernih, lama kelamaan makin keruh dan banjir lumpur menerjang pemukiman warga.

Warga  disekitar pun mulai khawatir. Hutan disekitar Tumpang Pitu jadi gundul.  Air bercampur tanah langsung turun ke muara sungai saat hujan deras mengguyur. Sungai-sungai kecil tidak lagi mampu menampung air hujan beserta lumpur  hingga meluber  ke muara sungai menuju laut di Pantai Pulau Merah yang menjadi salah satu andalan wisata Banyuwangi. Jika dibiarkan terus-menerus, sudah hampir pasti permukiman penduduk terancam dan kunjungan wisatawan dosmetik maupun mancanegara akan turun.  Dampaknya pada sektor pertanian sudah mulai terasa, sekitar 300 hektare ladang jagung mengalami gagal panen pada tahun ini.

Baca juga : Leo Hadinolo : Pendakian Ke Semeru Sebagai Titik Awal Kesadaran Ekologis

Munculnya bencana ekologis berupa banjir lumpur merupakan peringatan dini akan bencana ekologis lainnya yang muncul pada masa yang akan datang. Para warga pun menolak secara tegas aktifitas tambang emas yang dilakukan oleh korporasi swasta. Mereka berharap pemerintah daerah mengedepankan pengembengan objek wisata Pulau Merah berbasis kerakyatan dan tidak memprioritaskan pengelolaan tambang yang mengancam potensi wisata. Masyarakat beranggapan pertanian dan pariwisata sudah cukup menopang perekonomian warga.

Pulau Merah rusak akibat tambang Tumpang Pitu.

Warga melakukan protes terkait tambang Tumpang Pitu Banyuwangi. Tampak endapan lumpur (lata rbelakang) mencemari pantai Pulau Merah yang selama ini jadi tempat wisata unggulan di Banyuwangi. Foto : Twitter @gmni_banyuwangi

Lingkungan dalam pandangan Islam

Penulis coba menghubungkan apa yang terjadi di Tumpang Pitu dangan struktur nilai agama  khususnya  nilai islam terkait lingkungan.  Kenapa isu-isu lingkungan yang mengancam hajat hidup orang banyak tidak menjadi agenda penting bagi kaum beriman? Penulis memang tidak pernah riset tentang kepedulian para ustad soal isu-isu lingkungan. Namun dari pengalaman pribadi,  dari semua khutbah jumat, kultum setelah sholat, atau ceramah di televisi yang penulis dengar, hampir tidak pernah mengangkat isu kerusakan lingkungan.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk islam terbesar, masih belum ramah  bahkan antipati terhadap isu kelestarian lingkungan. Malah banyak  diantaranya yang jadi aktor perusak lingkungan seperti pembabatan, pembakaran hutan serta kerusakan-kerusakan lingkungan yang lain. Mungkin juga sih, sebagian umat Islam menggangap bahwa Tuhan tidak memberi perintah, karenanya kalah penting dibanding hal lain.

Benarkah Demikian? Apa sebab isu lingkungan hidup tidak penting bagi agama?

Penulis justru melihat sebaliknya. Masalah lingkungan hidup adalah salah satu concern utama agama. Bahkan menjaga kelangsungan kehidupan di bumi adalah tujuan manusia diciptakan. Hal ini diungkapkan oleh Allah SWT saat menciptakan manusia dan memberitahukan rencana itu kepada malaikat.

Tertuang di Surat Al-Baqarah ayat 30 : “Dan (Ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada malaikat : Sesungguhnya aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. (Al-Baqarah:30).  Ayat ini kerap disalah mengerti dan dianggap dalil akan wajibnya khilafah atau negara islam. Secara terminologi, Khalifah sendiri sebenarnya bukan pemimpin, tapi wakil. Wakil siapa? Wakil Tuhan. Jadi Tuhan memberitahukan kepada malaikat bahwa ia ingin menciptakan wakilnya di muka bumi. Malaikat saat itu ketakutan atau khawatir wakil Tuhan itu nantinya menumpahkan darah dan berbuat kerusakan. Kenapa? karena sepertinya malaikat juga sadar bahwa makhluk yang diberi kewenangan begitu besar akan cenderung untuk menyalahgunakannya. Itu kalau Khalifah diartikan sebagai pemimpin di muka bumi yang mendapat kewenangan dari Tuhan.

Baca juga : Nahdlatul Ulama : Sumbangan Islam Terhadap Bangsa Indonesia

Tapi kita harus mempraktikan kata Tuhan di ayat 30 itu, sebagaimana di surat An-Naas. Tuhan dalam terminologi Al-Quran ada tiga : Ilah ( Tuhan yang disembah), Malik (Tuhan yang menguasai), dan Rabb (Tuhan yang menumbuhkan dan menciptakan). Di ayat 30 Surat Al-Baqarah itu, Tuhan tidak memakai kata ilah atau malik, tapi Rabb. Artinya, kita tidak diminta menjadi wakil dari kekuasaan Tuhan artinya bukan sebagai pemimpi,  apalagi wakil Tuhan yang disembah. Karena di islam tidak ada perwakilan penyembahan. Memakai kata Rabb karena kita diminta menjadi wakil Tuhan yang menumbuhkan dan menjaga alam semesta. Karenanya, tugas utama khalifah adalah memelihara dan menumbuhkan kelestarian bumi.

Ini klop dan sejalan dengan konsep islam sebagai rahmatan il-alamin, cinta kasih untuk seluruh alam.  Konsep ini bisa dijalankan oleh Khalifah atau wakil Tuhan yang mengemban tugas melestarikan dan menjaga  bumi. Ini juga sejalan dengan perkataan Rasul : “ Aku ini diutus hanya untuk menyempurnakan moral”.  Dengan moral cinta, tugas khalifah sebagai pelestari dan pengayom kelestarian alam bisa dilakukan.

Karenanya, agak aneh jika seorang mengaku muslim, tapi senang menebar kebencian, bukan cinta kasih. Aneh kalau orang bicara moral, bahkan ingin jadi polisi moral, tapi tidak menjaga kelestarian lingkungan seperti mulai hal terkecil yakni membuang sampah tidak pada tempatnya. Belum lagi tindakan bombastis  seperti mendukung pembakaran, penggundulan hutan dan  pengurusakan alam secara sistematis lainnya yang sangat kontradiktif dengan semangat dan nilai Islam.

 Islam melarang Perusakan Lingkungan.

Dengan memahami tujuan penciptaan seperti itu, maka bisa dimengerti mengapa begitu banyak ayat yang melarang kita berbuat kerusakan di muka bumi. Larangan melakukan kerusakan dilaut dan di daratan dan  atau di ladang-ladang pertanian dengan penggunaan pestisida berlebihan. Secara tersirat maupun tersurat, terang benderang di tuangkan dalam al Quran.

Baca juga : Prof. Dr. Frans Magnis Suseno : Saya masih optimis dengan Islam Indonesia

Selama ini ayat-ayat itu hanya ditafsirkan sebagai larangan berbuat kerusakan moral dan bukan kerusakan lingkungan. Ditafsirkan sebagai bingkai moral saja tentu  benar adanya, tapi itu bersifat ta’wil. Adapun makna yang tertangkap nalar kita adalah kerusakan-kerusakan lainnya dalam arti yang sesungguhnya. Kerusakan banyak bentuknya, termasuk yang paling utama dan berpengaruh bagi manusia yakni kerusakan lingkungan.

Semoga dengan demikian para tokoh agama manapun sadar, dan membangun keberpihakanya pada masyarakat yang terkena dampak kerusakan lingkungan. Juga  memberi dukungan kepada para aktivis pembela lingkungan. Bahkan lebih jauh lagi mengajak para pengikut-pengikutnya melawan manusia-manusia serakah, koorporasi rakus bahkan pemerintah yang melakukan perusakan lingkungan hanya untuk menumpuk kekayaan semata.

Oleh :  Miftahul Ulum (email : Miftahul390@gmail.com). Mahasiswa Universitas  Surabaya-UBAYA.  Aktifis FKNSDA dan Ansor Surabaya. Peserta Sekolah Analisa Sosial (ANSOS) III 2018  yang diadakan oleh Nera Academia di Surabaya. Tulisan ini merupakan bagian dari proses Sekolah Ansos di mana tiap partisipan mengekspresikan keprihatinannya pada isu gender, pendidikan dan lingkungan.

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *