HomeREFLEKSIHomeschooling: Kekhasan dan Tantangan

Homeschooling: Kekhasan dan Tantangan

REFLEKSI 0 0 likes 112 views share

Anda mungkin pernah dengar kata homeschooling (sekolah rumah). Model sekolah yang satu ini termasuk model pendidikan yang lagi ngetren saat ini. Apalagi di kota besar. Pilihan anak untuk belajar di homeschooling semakin meningkat. Namun Anda mungkin bertanya, apa itu homeschooling?. Apa bedanya dengan sekolah pada umumnya?.

Tulisan ini adalah refleksi atas pengalaman pribadi saya sebagai guru di homeschooling. Sudah lebih dari lima tahun saya telah menjadi guru di homeschooling. Banyak hal saya pelajari sebagai guru disana. Untuk itu, saya mencoba untuk membagikan pengalaman saya selama mengajar.

Ciri Khas

Saya sendiri awalnya kurang terlalu paham dengan model pendidikan homeschooling. Maklum saja, sejak SD sampai dengan SMA belajar di sekolah formal. Di Fakultas keguruan tempat saya belajar juga tidak ada matakuliah kusus tentang model pendidikan homescholing. Saya hanya mengetahuinya secara umum sebagai pendidikan nonformal. Maka persis sejak menjadi Guru di homeschooling, saya belajar banyak hal muali dari keberadaan, seluk-beluknya, dan tentu baik-buruknya sebagai lembaga pendidikan alternatif di Indonesia.

Homescehooling adalah sekolah non-formal. Ia merupakan sekolah alternatif selain sekolah formal. Walaupun statusnya pendidikan non-formal, keberadaan homeschooling bukan berarti illegal. Dalam hal ini, banyak sekali saya jumpai pertanyaan dari para orangtua yang tidak mengerti homeschooling. Mereka biasanya bertanya “apakah homeschooling itu diakui pemerintah?, apakah homeschooling itu sah?,” dan sebagainya.

Disini saya tegaskan, bahwa homeschooling itu sah dan telah diatur melalui Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional /UU no. 20 tahun 2003. Homeschooing setara dengan pendidikan formal. Lulusannya bisa diterima di universitas, mengikuti seleksi tes masuk perguruan tinggi negeri, sebagaimana lulusan sekolah formal. Sudah banyak murid saya yang kuliah di kampus-kampus swasta maupun negeri di Indonesia, bahkan tidak sedikit yang kuliah di luar negeri. Singkatnya, keberadaan homeschooling sah dan diakui oleh pemerintah.

Kehadiran homeschooling di Indonesia memang belumlah lama. Mungkin ngetren sejak tahun 2000’an. Homeschooling menjadi tren di kota-kota besar. Hal ini tidak lain kerena banyak anak usia sekolah yang sudah memiliki aktivitas sesuai dengan hobinya atau minatnya, sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk bisa belajar di sekolah formal.

BACA JUGA :   Covid-19: Saling Potong Tanpa Gotong Royong

Mereka-mereka yang memilih homeschooling biasanya artis, model, atlet dan sebagainya. Mereka menghabiskan waktu untuk mengembangkan bakat dan karier, dan tetap membutuhkan pendidikan akademis sebagai pelengkap atau penunjang karier.

Selain profesi yang saya sebutkan diatas, anak-anak yang memlih homeschooling juga adalah anak-anak yang tidak nyaman atau tidak suka dengan model  pendidikan formal. Masuk pagi pulang sore, ditambah ekstrakurikuler, mata pelajaran sangat banyak, sehingga beban sangat tinggi. Belum lagi kalau dengan les itu, les ini. Tidak jarang membuat anak stress dan frustrasi lalu memilih masuk homeschooling.

Selain itu, ada juga anak-anak korban bullying. Ini persoalan yang kerap terjadi di sekolah formal, jadi mereka memilih masuk homeschooling. Ada juga anak-anak dengan kebutuhan khusus yang tidak bisa belajar di sekolah formal.

Ciri khas homeschooling adalah fleksibilitas. Tidak kaku sebagaimana sekolah formal. Lantaran tiap anak memiliki keunikanya, pendekatannya juga harus sesuai dengan keunikan itu. Anak-anak biasanya bisa belajar di tempat homeschooling) dan juga bisa belajar di rumah. Tergantung kebutuhan tiap anak.

Misalnya si A adalah anak korban bullying di sekolah formal, ia trauma kalau berkumpul dengan teman-temanya, maka untuk sementara disarankan untuk sekolah di rumah. Gurunya yang akan datang ke rumah, sembari tim psikologi juga melakukan terapi. Baru setelah kepercayaan dirinya pulih, ia akan kembali untuk belajar bersama temannya di tempat homeschooling.

Demikian juga siswa dengan bakat tertentu seperti atlet atau model. Mereka biasanya menghabiskan waktu untuk latihan atau mengikuti event, di dalam maupun luar negeri. Maka, untuk anak seperti ini, jadwalnya harus mengikuti kesibukanya. Ia banyak belajar secara online dengan gurunya. Materi-materi di kirim lewat email dan sebagainya, sehingga ia tetap belajar, disela-sela latihan atau pertandingan.

BACA JUGA :   Perempuan-perempuan Kendeng Penjaga Bumi

Singkatnya, belajar di homeschooling itu fleksibel dan tidak heran jika trend homeschooling meningkat.

Tantangan

Memilih sekolah formal atau homeschooling tentu dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sekolah formal, sebagaimana yang sudah disampaikan diatas tadi, orang tua akan menjumpai kasus bullying, beban belajar sangat banyak, sehingga anak-anak mudah stress dan sebagainya.

Memilih homeschoolingpun juga dengan tantanganya sendiri. Saya kategorikan anak-anak yang memilih masuk homeschooling jadi dua. Pertama, Anak-anak yang bermasalah dengan waktu belajar, dan Kedua Anak-anak memiliki masalah psikologis.

Anak-anak yang bermasalah dengan waktu biasanya sebut saja anak-anak berbakat. Mereka memilih mengembangkan bakatnya sejak kecil. Bisa jadi, mereka sudah memiliki tujuan hidupnya, dalam artian mereka sudah memilih karier sajak kecil, seperti jadi atlet, model dan semacamnya. Sehingga mereka hanya bermasalah dengan waktu saja sehingga tidak memilih sekolah formal.

Sementara anak-anak dengan masalah psikologis adalah mereka yang tidak memilih sekolah formal karena persoalan psikologis. Misalnya tadi, kerena tidak bisa mengimbangi begitu banyak kegiatan di sekolah formal, sehingga belajar tidak efektif, atau menjadi korban bullying sehingga trauma untuk belajar di sekolah formal, atau anak dengan kebutuhan khusus.

Tantanganya adalah untuk anak-anak kategori pertama, mereka akan banyak mengahabiskan waktunya untuk mengembangkan bakatnya, sehingga pendidikan akademis hanyalah pelengkap. Mereka tidak bisa dituntut menguasai banyak materi-materi pelajaran sebagaimana yang di terima oleh anak-anak di sekolah formal.

Sementara untuk anak-anak kategori kedua, problemnya adalah mereka mungkin banyak waktu untuk menguasai banyak meteri seperti anak-anak formal, namun mereka akan kurang bersosialisasi. Untuk mereka ini, fokus utamanya adalah persoalan psikologis. Mereka lebih banyak waktu untuk menguatkan mental dan membangun kepercayaan diri.

Kerjasama Lembaga dan Orang Tua adalah Kuncinya

BACA JUGA :   Kornelius : Kemerdekaan katanya bawa keadilan sosial

Dari berbagai masalah yang saya temui, bisa diambil kesimpulan bahwa kunci kesuksesan pendidikan homeschooling adalah kerjasama yang baik antara lembaga dan orang tua.

Pada anak kategori pertama, orang tua perlu jujur kepada pihak lembaga tentang bakat anak. Bahwa anak memang memilih untuk mengembangkan bakat diluar sekolah, sehingga pendekatan lembaga terhadap anak bisa disesuaikan. Misalnya, bagi anak yang memilih untuk menekuni bakat sebagai model atau atlet, maka homeschooling sebagai lembaga pendidikan bagi anak, hanya memberikan porsi mata pelajaran yang mendukung bakat si anak. Ia banyak diberi waktu untuk mendalami Bahasa Inggris atau Bahasa Mandarin, karena akan ia gunakan saat ia pentas di luar negeri dan sebagainya. Sehingga mata pelajaran seperti matematika, sejarah, dan sebagainya, cukup hanya pelangkap saja, tidak perlu di tutut untuk memenuhi kriteria tertentu.

Anak dengan kriteria kedua, kejujuran orang tua lebih penting lagi. Misalnya anak dengan masalah psikologis tertentu, dibutuhkan kejujuran dari orang tua kepada lembaga, sehingga para stakeholder di lembaga homeschooling, mulai kepala sekolah, tim psikologi, para Guru dapat membatu mencari jalan keluar dari masalah anak dengan sebelumnya mengetahui latar belakang masalah si anak tersebut. Hanya dengan hal ini, proses pendidikan di homeschooling bisa menjadi efektif.

Maka dalam penerapan kurikulum di homeschooling tidak bisa dipukul rata dari kurikulum yang dikeluarkan pemerintah. Setiap anak punya problemnya masing-masing, maka penangananya juga tiap individu berbeda-beda, demikian juga kurikulum yang diterapkan, atau lebih tepatnya kriteria untuk mencapai ketuntasan belajarnya juga berbeda. Jadi, kurikulum yang diberikan pemerintah, dalam konteks homsechooling diterjemah ulang sesuai dengan kebutuhan anak.

Setidaknya ini pengalaman yang saya pelajari selama menjadi Guru homeschooling. Semoga bermanfaat bagi para orang tua untuk menentukan pilihan bagi pendidikan anak-anaknya.

Gambar ilustrasi : Certificate vector created by macrovector – www.freepik.com

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *