HomeREFLEKSIDISKUSIIsna Cahya : Dari Untung Rugi Hingga Ketidakadilan Pendidikan

Isna Cahya : Dari Untung Rugi Hingga Ketidakadilan Pendidikan

DISKUSI LINGKUNGAN NARASI PERSONA 0 0 likes 131 views

Manusia  merupakan makhluk yang rumit dan kompleks dibandingkan makhluk lain. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya hal luar biasa yang diciptakan manusia. Manusia bahkan mencipta sesuatu lebih besar dan kuat dari dirinya sendiri. Tetapi berbagai ciptaan itu tidak terwujud oleh satu  manusia saja. Ia harus melibatkan manusia lain. Dengan kata lain manusia merupakan makhluk sosial. Relasi antar manusia sebagai mahluk sosial ini juga menciptakan kerumitan-kerumitan lainnya. Salah satu  kerumitan itu tentang untung dan rugi.

Untung dan rugi lahir secara alamiah dari proses interaksi manusia. Untung dan rugi memunculkan berbagai permasalahan dalam relasi itu. Satu diantara masalah itu terkait  keadilan.  Keadilan yang saya maksudkan adalah tentang seseorang tidak boleh dirugikan terlalu besar sedangkan orang lain mendapatkan keuntungan besar.  Bila terjadi sebaliknya, akan memunculkan ketidakadilan sosial.

Baca juga : Lydia Angela : Potret Keadilan Antara Manusia Dan Lingkungan

Keadilan sosial juga menjadi masalah baru yang tidak habis-habisnya dibicarakan. Isu ketidakadilan nyata dalam kerja pemberdayaan masyarakat ataupun saat kita terlibat memperjuangkan hak-hak masyarakat yang dirugikan oleh pihak lain. Satu diantaranya adalah ketidakadilan dalam  pendidikan.  Contoh saja, tentang pemerataan pendidikan di Indonesia. Sering diberitakan tidak terpenuhinya hak guru beberapa daerah, hingga berujung pangkasan dan terbengkelainya hak murid atau peserta didik.

Tentang Ketidakadilan Pendidikan di Indonesia

Pedidikan merupakan salah satu penentuan kemajuan bangsa. Pendidikan merupakan kunci kemajuan suatu bangsa. Tidak ada bangsa yang maju, bila tidak didukung pendidikan yang kuat” kata Prof Dr. Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan Indonesia. Daud Joesoef mengandaikan,  bila masyarakat berpendidikan maju maka negara akan menjadi maju pula. Contoh kemajuan pendidikan yang berimabas kepada kemajuan suatu negara adalah di Norwegia. Norwegia memiliki pola pendidikan yang berorientasi pada pencipataan suasana belajar yang  menyenangkan bagi setiap orang .

Sayangnya pendidikan di Indonesia masih tidak merata kualitasnya dan jauh dari kata maju. Ketimpangan terlampau tajam antar daerah.  Bahkan daerah yang dianggap lebih maju dari daerah lainpun masih memiliki ketimpangan pendidikan di beberapa tempat. Hal ini dibuktikan adanya pembedaan antara sekolah unggulan dan bukan unggulan.  Hal kecil yang dilakukan di Norwegia namun tidak terjadi di Indonesia adalah menyekolahkan anak sesuai dengan kedekatan  lokasi sekolah dengan rumah atau tempat tinggalnya.

Isu lain terkait pendidikan sering jadi sorotan adalah  tentang bagaimana guru dan siswa tidak mendapatkan haknya sacara layak. Ini terjadi pada  guru honerer di daerah tertinggal, mereka jauh dari kata upah layak.  Selain itu infrastrukur pendukung proses pendidikan belum terpenuhi. Ini tentu berdampak pada berkurangnya kemampuan dalam mengajar dan belajar. Hak siswapun sama, masih tidak merata dan layak. Ini tidak hanya di daerah tertinggal saja, di kota besarpun ada hak siswa yang  belum terpenuhi. Sebagai contoh tidak terpenuhinya hak siswa adalah tidak tercapainya pencerdasan yang menyeluruh. Pencerdasan yang saya maksud adalah bagaimana siswa menerima pendampingan dan pelajaran sesuai kebutuhannya.

Baca juga : Joana Liani : Jika Kamu Nilai Orang Lain Manusia, Kamu Sedang Menilai Diri Sendiri

Saya pernah bertemu dan mendengar cerita dari seorang siswa SMA di Sidoarjo, Jawa Timur.  Siswa itu merasa pendidikan yang dijalaninya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Dia ingin bekerja di dunia seni.  Dia lebih senang menggambar dan tidak tertarik dengan pelajaran Ilmu Pengtahuan Alam-IPA. Sedangkan sekolah dan keluarga menuntutnya untuk mempelajari semua pelajaran, termasuk yang tidak ia sukai.  Alasannya yang jejalkan padanya adalah jika ingin masuk pendidikan seni setelah lulus maka dibutuhkan seluruh pelajaran itu kunci membuka gerbang menuju pendidikan seni tersebut. Contoh ini mau menujukan ketidaknyamanan dalam proses pendidikan, sehingga pelajaran yang seharusnya penting malah dianggap tidak penting karena ada rasionalisasi yang keliru oleh keluarga dan sekolah. Hal ini tidak hanya terjadi pada satu anak, beberapa anak lain  juga merasakannya.

Keadilan pendidikan ala Ki Hadjar Dewantara

Saya pernah mendengar seseorang berkata bahwa jika mengikuti pola pendidikan Indonesia dan ingin sesuai dengan passion dan berkarir dengan baik maka perlu satu tahun setamat SMA untuk berhenti sejenak agar bisa memilih jurusan yang tepat saat kuliah. Ini cukup beralasan, karena tidak jarang mahasiswa yang merasa pendidikannya di kampus tidak sesuai dengan minat dan kemampuannya. Ada yang terkesan dipaksakan, entah keluarga maupun lingkungan dengan alasan ketersediaan lowongan pekerjaan.

Situasi yang saya gambarkan diatas, membuat saya menarik kesimpulan sementara bahwa pola pendidikan di Indonesia bermasalah di berbagai lini. Indonesia perlu berlajar dari beberapa negara yang memiliki pendidikan yang maju. Belajar bagaimana mereka menciptakan suasana pendidikan yang menyenangkan untuk para muridnya. Ini juga terkait sistem yang mampu memahami bagaimana otak dan perilaku manusia berkembang. Sistem yang mampu mencermati bagaimana seharusnya memperlakukan manusia sesuai dengan umur, kemampuan, serta karakternya. Hal lain yang tidak kalah penting dalam proses pendidikan adalah kesiapan untuk membuka diri dan menyesuaikannya dengan perkembangan karakter setiap orang.

Baca juga : Miftahul Ulum : Belajar Solidaritas Dari Perjuangan Warga Mempertahankan Waduk Sepat

Indonesia memiliki tokoh yang sangat baik dalam menciptakan pola pendidikan, Ki Hajar Dewantara. Ia membuat sekolah dengan nama Taman Siswa yang menjadi tempat bermain sekaligus tempat belajar untuk murid-muridnya. Memanusiakan manusia dengan pola pendidikan yang menyenangkan.  Sekolah menjadi tempat berproses yang bisa nyaman bagi murid, guru, keluarga dan masyarakat. Tapi sayangnya pola ini tidak lagi diterapkan di Indonesia.  Ide Ki Hadjar Dewantara ini malah dipakai Norwegia yang diakui  sebagai negara dengan pendidikan terbaik di dunia. Rasa-rasanya Indonesia perlu bangkit menata pendidikan, pendidikan yang adil dan memanusiakan manusia Indonesia seperti ide Ki Hadjar Dewantara.

Oleh : Isna Rosyida Cahya (email: cahya.1911@gmail.com) Mahasiswa Arsitektur  ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) Surabaya. Peserta Sekolah Analisa Sosial (ANSOS) III 2018  yang diadakan oleh Nera Academia di Surabaya. Tulisan ini merupakan bagian dari proses Sekolah Ansos di mana tiap partisipan mengekspresikan keprihatinannya pada isu gender, pendidikan dan lingkungan.

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *