HomeAKSIEmasnya dikeruk, hutannya dijarah, tanahnya dirampas dan kalian panggil mereka “anjing!”
Papua

Emasnya dikeruk, hutannya dijarah, tanahnya dirampas dan kalian panggil mereka “anjing!”

AKSI KOMUNITAS SEJARAH 0 0 likes 159 views

“La opo wong-wong ireng ki, garai macet ” ujar seorang ibu, disambung celetukan seorang bapak “ Mau merdeka bu, orang-orang Papua mau merdeka ”. Mereka sontak berdiri melihat keluar jendela dengan raut beragam. Ada yang menggerutu dan adapula yang tergesa menyakan handphone untuk mengambil foto.

 

Siang pukul 12.00 wib, kemacetan terjadi persis di depan hotel Inna Simpang Surabaya. Klakson mobil dan motor serta bel lampu penyeberangan bersahutan dengan sempritan polisi lalulintas mengusir pengendara sepeda motor yang menerobos trotoar. Ditengah jalan terparkir kendaraan watercannon dan sepeda motor polisi. Cuaca mulai mendung dan gerimis.

Bus Damri tanpa AC itupun bergerak lambat, para penumpang gerah dan mulai protes. Hawa panas bercampur asap kendaraan menambah panas suasana. Kondektur pun sigap bertanya kepada polisi yang sedang mengatur lalulintas. “ Ada demo didepan, mungkin demo BBM ” kata pak polisi. Di trotoar depan SMAN 6 Surabaya polisi berpentungan besiaga. Jumlahnya sekitar 200 orang dan ditemani dua unit mobil watercanon.

Tepat diluar pagar gedung Grahadi, terlihat polisi bersiaga lengkap dengan pentungan dan barikade kawat berduri. Ditengah kepungan polisi berseragam, seorang pria berkulit hitam dengan emblem merah putih di jaketnya mengacungkan megaphone. Ia, orator aksi demonstrasi itu. Jumlah mereka tidak banyak, hanya sekitar 20 orang. Mereka mengibarkan bendera hitam dengan bintang merah dan membawa poster foto orang yang terkapar dengan luka di kepala dan dada.

Senin, 8 Desember 2014, pukul 09.00 wit terjadi penembakan yang menewaskan lima orang dan melukai 15 orang lainnya. Lima orang yang meninggal dilokasi penembakan adalah pelajar SMA. Alpius Youw (18), Alpius Gobay (19), Simon Degei (19), Yulianus Youw (18), dan Abia Gobay (18) tewas di tempat kejadian. Pelaku penembakan ditenggarai aparat keamanan (TNI dan Polisi) menurut peuturan saksi mata. http://www.timipotu.com/2014/12/kronologis-pembunuhan-masyakat-asli.html)

Kemacetan jalan Gubernur Suryo hari ini adalah respon mahasiswa Papua di Surabaya atas penembakan di Paniai dua hari lalu. Mereka beteriak latang, protes dan geram atas tertembaknya adik mereka di kampung halamannya sendiri. Dengan megaphone dan poster mereka menyampaikan aspirasinya. Mereka berbaris rapih ditengah badan jalan dan tidak bergeming dengan banyaknya polisi.

BACA JUGA :   Rembuk Perjumpaan Tionghoa Indonesia di Kaki Gunung Penanggungan

Bus itupun melambat melintasi barisan pendemo. Masih ada penumpang yang terus menggerutu. “Demo kok menyusahkan orang”protes seorang ibu. Bapak berpeci putih disamping saya berkata seperti membisik “ Ibu itu ga punya perasaan, kita cuma macet 10 menit. Mereka kehilangan saudaranya sepanjang masa”. Ya, mungkin saja Ibu itu tidak tahu berita dan kejadiannya.

Sikap nyinyir atau sinis, simpatik atau mendukung adalah hak setiap orang. Sama seperti mereka yang memperjuangkan korban kekerasan. Mereka protes dengan deretan kasus penembakan warga sipil. Protes, terhadap bahasa senjata yang jadi jalan akhir. Protes karena hak hidup direnggut oleh grombolan bernama oknum. Mereka punya hak sebagai anak bangsa Indonesia sama seperti penumpang bus milik negara ini.

BACA JUGA :   Oei Hiem Hwie : Tidak semua kita bisa membaca sejarah dengan utuh

Kita protes atas kekerasan di jalur Gaza, dengan demo yang memacetkan jalan berjam-jam. Kita nyiyir melihat demo penembakan di Paniai, Papua, Indonesia yang menghambat laju kendaraan 10 menit. Kita nyinyir dan melihat ibu-ibu membangun tenda, memblokade jalan dan dipentungi aparat di Rembang karena menolak pabrik semen. Juga tepuk tangan histeris atas pelatikan gubernur tandingan di DKI Jakarta.

Aksi Peringatan 1 Desember oleh Mahasiawa Papua di Surabaya. Sumber Foto : https://www.facebook.com/yance.yobee.9

Fenomena yang menunjukan rasa kemanusiaan kita terperangkap dalam kotak warna kulit, agama dan suku. Mengutuk kekerasan bila menimpa sesama warna kulit, agama dan suku. Atau mungkin takut dan malu mengaku sebagai Indonesia. Indonesia dari Merauke hingga Sabang dengan segenap suku, agama dan ras yang terkandung didalamnya. “ Polisi Istimewa” teriak kondektur, membuyarkan curhat saya di keyboard handphone.

Saya menulis ini begini :

“Emasnya dikeruk, hutannya dijarah, lahannya diambil buat sawit. Kau panggil mereka anjing. Bersama gerombolan kamu kroyok, kamu lempari mereka. Ah kamu yang teriak-teriak teriak Pancasila, Pancasila mana yang kamu bela?. Ngajak bersatu kok kamu panggil mereka “anjing”. Persis yang dahulu VOC lakukan “selain anjing dan pribumi dilarang masuk “. Tabiat gerombolan mu, kayak VOC kurang lebih, bedanya kamu berkulit coklat dan sawo matang.  Jangan marah kalau kamu memang lebih pantas disebut penjajah. Mungkin juga yang kamu sebut NKRI itu sama saja”

Sudah beranjak siang, tepatnya pukul 12. 20. Cuaca mendung dan masih gerimis. Bus berhenti pelan di dekat Tugu Polisi Istimewa. Waktunya pulang kerumah dan melanjutkan ketikan di bus tadi. Hari ini 10 desember 2014, bertepatan dengan peringatan Hari Hak Asasi Manusia se-Dunia. Masih banyak manusia yang tercabut haknya untuk hidup.

BACA JUGA :   Konflik Suriah dan Polarisasinya di Indonesia

*ditulis tahun 2014, ditambahkan satu paragraf sebagai respon saya terkait presekusi dan ucapan rasis oknum ORMAS  di Surabaya terkait  Aksi  AMP-Mahasiswa Papua di Surabaya, Sabtu 1 Desember 2018. 

Please share,