HomeREFLEKSIDISKUSIKomedi sebagai Kritik dan Perlawanan

Komedi sebagai Kritik dan Perlawanan

0 share

The Witness/ A Tanú (1969) adalah film komedi-satire tentang rezim komunisme di Hongaria setelah perang dunia kedua. Saya menonton film ini dalam sebuah klub film di kampus. Film yang disutradrai Péter Bacsó ini berkisah tentang kemalangan dan keberuntungan penjaga tanggul bernama, József Pelikán.

Semula ia ditangkap oleh polisi karena melakukan penjagalan babi di rumahnya sendiri. Sewaktu itu perbuatan tersebut dilarang oleh pemerintah komunis. Pertemanannya dengan salah seorang elit komunis, membuat ia bebas dari penjara, bahkan setelah itu mendapat pekerjaan. Setiap melakukan pekerjaan ada saja kesalahan József Pelikán. Misalnya, ketika menjadi penjaga pintu kolam renang, ia membuka kolam renang untuk masyarakat umum saat ada pejabat pemerintah komunis yang sedang berenang, akibatnya Pelikán masuk penjara lagi; atau di lain waktu ia membuat poster foto pimpinan tertinggi pemerintahan komunis sebagai properti rumah hantu di taman hiburan. Satire Péter Bacsó mampu mengungkapkan kebobrokan pemerintahan komunis di masa itu dengan gaya yang jenaka. Film ini sempat dilarang oleh pemerintah setempat, dan mendapat tempat pemutaran hanya di negara-negara di luar Hongaria.

Ada banyak contoh lain bagaimana film komedi berfungsi sebagai kritik dan perlawanan, mulai dari kritik terhadap fasisme (film komedi-drama ‘Life is Beautiful’ (1997)), kritik terhadap industrialisasi modern (Charlie Chaplin dalam ‘Modern Times’ (1936)), kritik terhadap pemerintahan yang tiran baik dalam demokrasi maupun monarki (The Dictator (2012)), hingga kritik terhadap ketumpulan berpikir dan konsumerisme (Idiocracy (2006)).

BACA JUGA :   Hari Anak Nasional : Anak-anak Berhak Bahagia

Komedi, tidak hanya dalam film, tetapi juga dalam sastra, seni pertunjukan atau seni visual, seringkali membuat orang berpikir, mengkritisi bahkan melawan. Sebagaimana dikatakan Kennan Ferguson dalam reviewnya atas Comedy and Critical Thought: Laughter as Resistance, Komedi mempunyai potensi untuk mengungkapkan hal-hal yang sulit dikatakan (baik karena rumitnya persoalan maupun penindasan), melawan kemunafikan/hipokrit, dan memprotes pihak yang memiliki otoritas.

Dalam komedi, tokoh seringkali dipotret memiliki nasib yang buruk bahkan lebih buruk daripada yang bisa terjadi di dunia nyata. Asumsi ini misalnya dianut oleh Aristoteles dalam Poetics. Komedi dalam tradisi Yunani Kuno biasanya menggunakan topeng berbentuk jelek dan terdistorsi tetapi tidak mengisyaratkan kesakitan. Komedi mampu menertawakan pengalaman-pengalaman pahit baik yang dialami oleh diri sendiri maupun banyak orang. Pelebih-lebihan nasib buruk dalam komedi memiliki efek yang membuat kita lebih menyadari sisi kejenakaan dari nasib buruk yang seringkali terlewatkan begitu saja dalam hidup sehari-hari.

BACA JUGA :   Thomas Aquinas : Tindakan dan kebiasaan dari persahabatan

Komedi juga bisa dihasilkan oleh inkongruenitas atau ketidaksesuaian persepsi. Penonton biasanya tertawa karena si komedian memberikan cerita yang berlawanan dengan persepsi atau dugaan penonton. Teori ini salah satunya dikemukakan oleh Arthur Schopenhauer dalam The World as Will and Representation, yang berpendapat bahwa humor muncul dari kesalahan konsep yang diperkirakan sebagai objek pemikiran. Schopenhauer juga menekankan elemen kejutan, semakin besar kejutan, semakin lucu komedi itu.

Di samping sifat-sifat dasar komedi tersebut, komedi memiliki potensi perlawanan. George Orwell–penulis Inggris, dalam An Age Like This: 1920-1940, menulis “guyonan yang sungguh-sungguh membuat tertawa selalu memiliki ide di baliknya, dan biasanya adalah ide subversif.” (hal.457). Orwell menuliskannya sebagai komentar atas Charles Dickens yang selalu dapat membuat orang tertawa karena ia memberontak terhadap otoritas. Baik Orwell maupun Dickens terkenal dengan novel-novelnya yang mengkritisi dan melawan sistem pemerintahan korup serta masyarakat hipokrit.

Milan Kundera dalam The Joke, menunjukan bagaimana guyonan begitu ditakuti oleh kekuasaan yang menindas. Kartu Pos Ludvik–tokoh dalam The Joke, yang sejatinya ditujukkan untuk membalas dan mengejutkan perempuan yang ia taksir–Marketa, dianggap subversif. Kartu pos yang berisi pesan provokatif tersebut membuat ia dikeluarkan dari universitas dan partai. Ia kemudian dipaksa menjalani tugas militer. Dalam The Joke, Kundera menunjukkan bahwa guyonan yang disampaikan dengan tulus seringkali diterima tanpa rasa humor oleh penguasa.

BACA JUGA :   Colin Bird:  Filsafat Politik Sebagai Pra kondisi Penilaian Rasional Kehidupan Politik

Namun demikian, komedi juga berpotensi untuk menguatkan struktur yang menindas. Misalnya, pada candaan yang berbau seksis atau rasis. Alih-alih menjadi perlawanan, candaan anti-kesetaraan justru semakin membuat korban menjadi korban. Sebagaimana diungkapkan James Brassett, bukan hanya politik yang bisa menjadi komedi, tapi komedi sendiri adalah sebuah politik. Komedi bisa membuat kita berpikir dan melawan, tetapi juga bisa memperkuat penindasan.

Para komedian dan satirist sebenarnya mempunyai kekuatan untuk memeriksa ranah sosial dan politik yang tidak selalu bisa dilakukan oleh politisi, komentator atau teoritisi politik. Mereka mampu mengamati detail, memikirkan dan membuat orang berpikir, menertawakan kekakuan tirani dan otoritarian, sekaligus melawan pelanggaran terhadap kemanusiaan. Itulah barangkali mengapa para tiran membenci komedi.

Sudah dibaca 6 , Hari ini 1 

Please share,