Komunitas Kampung Kota Soroti Hunian Ramah Lingkungan di Surabaya

Imajinasi masyarakat kampung mengenai hunian ideal memicu berbagai persoalan lingkungan, salah satunya perubahan iklim.

192 0

Kelompok yang mengkaji isu-isu perkotaan di Surabaya, yakni Urbaning Center Studies, mengadakan ruang diskusi “Masa Depan Perkampungan Surabaya” pada Sabtu (27/5/2023) di Jalan Jemursari Surabaya.

Koordinator Operations for Habitat Studies (OHS), Bintang Putra mengungkap soal perkampungan di Surabaya melalui perspektif manusia dan lingkungan. Ia menegaskan bahwa kampung tidak akan terlepas dari hunian atau tempat tinggal. Melalui hunian, masyarakat memiliki bayangan mengenai tempat tinggal yang ideal.

“Perspektif kampung adalah imajinasi warga kota tentang hunian yang ideal. Imajinasi tentang rumah sangat terpengaruh oleh budaya luar seperti Eropa, secara historis sejak pasca Perang Dunia 2 mengenal konsep nuclear family dengan keluarga kecil,” ucapnya.

Bintang memberi penjelasan tentang hunian yang relevan dengan zaman sekarang. Sebagian hunian lebih bercorak minimalis. Padahal, konsep bangunan minimalis justru bentuk penyaduran dari budaya negara lain.

“Saat ini, sebagian hunian terkena pengaruh dari Korea, Jepang, dan Skandinavia yang berfokus pada konsep minimalis, seperti tinggal di apartemen,” imbuhnya.

Adanya konsep hunian yang ideal, ternyata memiliki dampak terhadap  lingkungan dan perubahan iklim, seperti emisi karbon yang perlahan meningkat. Untuk mencegah itu, OHS memberi ide-ide lain, yakni konsep perkampungan yang lebih ramah lingkungan.

Bintang berupaya memodifikasi tentang hunian ideal. Ia berpikir bahwa kampung merupakan salah satu solusi dari global warming, karena emisi karbon mayoritas muncul dari kelas menengah ke atas dengan perabotan glamour.

“Sedangkan warga kampung dengan kesederhanaan menyumbang emisi paling minim. Kami presentasi ulang tentang kampung supaya imajinasi mengenai hunian ideal akan mengarah ke perkampungan,” tegasnya.

Perwakilan Arek Institut, Anugrah Yulianto turut menawarkan gagasan tentang kampung melalui kacamata subkultur. Dalam penjelasan malam itu, ia membahas asal-usul dari kampung.

“Ruang yang memadai untuk membahas tentang Arek, yakni kampung. Secara historis, sejak zaman kolonialisme, pembangunan sudah bersifat diskriminatif. Sehingga terciptalah segregasi kelas. Hal tersebut berakibat pada lingkungan hidup mereka yang tidak mendapat proses pembangunan,” ucapnya.

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, A. H. Thony  menyinggung tentang persoalan ekologi di Surabaya. Ia merespon mengenai kondisi kampung dan gempuran budaya yang masuk ke kota pahlawan. Adanya akulturasi, membikin subkultur baru yang bernama Arek.

“Kampung biasanya dekat dengan alam, tetapi tidak dengan Surabaya karena alamnya sudah habis. Surabaya bersifat multikultur, sehingga kehidupannya bersifat keras, antar kultur tersebut saling berhadap-hadapan yang membentuk subkultur Arek menjadi relatif lebih keras,” imbuhnya.

Perwakilan Urbaning Center Studies, Nora Ayudha memberi tanggapan bahwa ruang diskusi semacam itu perlu diperluas agar menjangkau masyarakat lebih banyak. Sehingga, pandangan masyarakat mengenai hunian yang ramah lingkungan pun menguat.

“Ruang-ruang diskusi seperti ini harus dihidupkan kembali dan dilanjutkan sehingga pesan-pesan akan tersampaikan kepada masyarakat luas,” pungkasnya.


Ikuti Idenera di  Google News: Google will europäische Nachrichtenplattform starten - und ... Google News.


Terimakasih telah mengunjungi IDENERA.com. Dukung kami dengan subscribe Youtube: @idenera, X :@idenera, IG: @idenera_com


 

Please share,
Muhadzib Zaky

Kontributor Idenera.com. Aktivis Pers Mahasiswa di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *