HomeREFLEKSIDISKUSILeo Hadinolo : Pendakian Ke Semeru Sebagai Titik Awal Kesadaran Ekologis

Leo Hadinolo : Pendakian Ke Semeru Sebagai Titik Awal Kesadaran Ekologis

DISKUSI LINGKUNGAN NARASI REFLEKSI 0 1 likes 152 views

Ego dan Eco. Keduanya menarik dan memiliki sudut pandangnya sendiri. Membutuhkan kearifan untuk menyikapi dua hal mungkin saling bertentangan ini. Juga membutuhkan pemahaman yang utuh agar tidak memunculkan dualisme antara keduanya. Keduanya harus menjadi satu kesatuan yang utuh. Kalangan sufi Jawa menyebutnya dengan kredo “ awas loro jeronong atunggil” yang bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya “melihat dua di dalam satu”. Untuk mencapai tingkat pemahaman ini perlu usaha ektra. Juga harus membuka tingkat kesadaran yang tinggi, membuka ajna.

Jalan Panjang Menuju Kesadaran Ekologis
Memahami ego dan eco adalah perjalanan spiritual yang kompleks dan berliku. Mengingat dua hal ini adalah nilai dasar pembentukan peradaban. Walaupun disayangkan, karena dewasa ini keduanya sama sekali tak disinggung dalam dunia pendidikan, baik itu tingkat dasar sampai sekolah tinggi. Namun tidak dapat dipungkiri masih ada beberapa materi pelajaran yang mengajarkan tentang keduanya, walau terpisah-pisah. Keduanya seakan-akan memiliki jalanya sendiri-sendiri. Saya kira ekosistem pendidikan yang belum utuh ini yang menyebabkan pemahaman masyarakat terkait ekologi masih rendah. Ya, sadar akan hak asasi manusia saja masih belum tuntas apalagi ekologi.

Baca juga : Miftahul Ulum : Belajar Solidaritas Dari Perjuangan Warga Mempertahankan Waduk Sepat

Melihat fakta ini maka tak berlebihan bahwa kita harus melewati jalan panjang menuju masyarakat ekologis. Jalan panjang dan berliku. Saya pribadi mulai sadar akan pentingnya kesadaran ekologi saat saya kuliah semester dua. Kala itu ada kawan, seorang pencinta alam yang mengajak saya dan beberapa kawan untuk menginjakkan kaki di tempat yang konon di sebut puncak para Dewa, Puncak Mahameru yang berada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Saya yang saat itu masih awam soal gunung tak terlalu memperdulikan tempat seperti apa itu. Mengikuti ajakan kawan saya inipun karena saya hanya sekedar ingin mengakrabkan diri. Apalagi ini ada anggapan bahwa di gunung sikap asli kawan kita nantinya akan terlihat. Ini moment sempurna untuk jauh lebih mengenal karakter kawan seperjuangan di masa-masa awal kuliah.

Pendakian menuju Semeru cukup melelahkan. Dari 13 orang dalam rombongan 11 diantaranya termasuk saya adalah pendaki pemula. Di jalan kami berbincang banyak hal. Hal yang jarang kami bicarakan di kampus, kami bicarakan seputar manusia dan alam. Kontras sekali dengan apa yang sering kami bicarakan kampus. Di kampus yang kami bahas hanya seputar kesenangan-kesenangan lahiriah semata. Otak beberapa kawanku yang isinya dugem, selakangan, cannabis dan hal-hal candu lainya.

Terlihat perubahan luar bisa saat kami berjalan mendaki bersama. Diri kami pada saat itu seolah-olah jadi selaras dengan alam. Pada saat itulah kesadaran ekologi kami, khususnya saya pribadi mulai terbuka perlahan-lahan.

Di perjalalan kami sering melihat titik api yang masih menyala. Menurut warga setempat, ini ulah beberapa pendaki yang membuang puntung rokok sembarangan. Kami pun hanya diam sebab sebagian besar dari kami juga merokok. Pada saat warga menjelaskan sebab-sebab kebakaran, ada beberapa kawan yang sedang menghisap rokok. Moment yang membuat kami canggung.

Baca juga : Rezza Sadewo : Situasi Keluarga dan Komunitas Punk Membuat Saya Belajar Bersikap Adil

Saya yang pada waktu itu masih awam soal gunung dan menggap para pendaki adalah pencinta alam yang heroik, ternyata anggapan saya salah. Ada sebagian dari mereka yang hanya mencintai dirinya tanpa mau membagi cintanya dengan alam. Gunung mereka eksploitasi untuk eksistensinya sendiri. Jauh dari hakekat seorang pecinta alam.

Kawanku itu bernama Bimo. Ia adalah pemimpin rombongan dan perjalanan ini sudah ia rencanakan dengan matang. Dia ingin mengedukasi kami para pendaki pemula agar memiliki kesadaran ekologis terkait pentingnya merawat ekosistem di sekitar kita. Pada hari pertama kami membuka tenda di Ranukumbolo. Saat memasak, kawanku yang sering dijuluki “kambing gunung” ini memberikan pelajaran ekologi yang cukup ekstrim untuk kami.

Ia meminta kami mengamati prilaku para pendaki yang mecuci alat masak serta perlengkapan makan dengan sabun langsung di tepi danau suci Ranu Kombolo. Hal yang menurut Bimo tabu atau dilarang karena zat kimia sabun akan mengotori ekosistem danau. Kawanku ini menanggap bahwa kesucian air danau ini menyamai kesucian air zam-zam di Mekah. Ia menjadi marah pada kami dan pendaki lain yang sudah ditegur dan diingatkan dengan baik-baik namun tak selang beberapa lama perbuatan yang seharusnya tidak boleh dicontoh itu kami ulangi dan tiru. Akhirnya ia memilih untuk memberi pukulan. Tidak kekerasan itu menjauhkannya dari kesan pecinta alam yang seharusnya memberi pelukan.

Disadarkan Pengalaman Perjumpaan

Pelajaran yang berharga dari cerita ini adalah pecinta alam sejati bukanlah mereka yang mencintai gunung, laut, hutan, dan lain sebagainya. Pecinta alam sejati adalah mencintai segalanya baik itu benda mati (abiotik) maupun benda yang hidup (biotik). Dengan kata lain mencintai ekosistem dan segala bentuk kehidupan yang ada di dalamnya. Aku pun mulai berfikir bahwa kawanku ini terlalu mencintai alam ketimbang manusia, hal yang tidak baik jika diteruskan. Karena mustahil jika kita mencintai alam tanpa mencintai manusia. Jika cinta akan keduanya itu dipisah maka celakalah hidup ini. Para fanatik akan bermunculan baik dari kubu pencinta alam dan kubu yang beranggapan bahwa manusia adalah pusat alam semesta.

Pada akhirnya pendakian kami Mahameru dibatalkan karena ada pendaki yang meninggal di lereng menuju pucak terkena longsoran batu. Akses menuju puncak pun ditutup. Kami hanya bisa sampai di Kali Mati. Turun ke pos Ranu Pane, kami membawa sampah yang dikumpulkan dari sekitaran Ranu Kumbolo dan sepanjang jalan menuju Ranu Pane.

Kata kawanku “ Gunung ini kian hari kian kotor, efek dari komersialisasi yang tak terkontrol akibat dari film 5CM. Film itu mengeksploitasi gunung ini secara vulgar, tidak ada nilai edukasi sama sekali terkait mencintai dan merawat alam, banyak pendaki kesini hanya ingin menunjukan eksistensinya di media sosial, tak lebih”

Walapun tidak bisa sampai ke puncak Mahameru. Saya merasa tak sia-sia melakukan pendakian perdana ini. Pendakian ini memberikan saya perspektif baru terkait alam dan ekositem. Bahwa di tempat manapun kaki ini saya pijakan di situlah saya memiliki kawajiban untuk merawat dan menjaga alam. Merawat ekosistem sama seperti merawat Ibu saya sendiri. Kesadaran saya terkait ekologi juga lahir dari alam itu sendiri, saya rasa menggap bumi ini sebagai Ibu bukanlah suatu perbuatan sirik, atau sebuah penistaan suatu agama.

Baca juga : Lydia Angela : Potret Keadilan Antara Manusia Dan Lingkungan

Itulah awal mula saya tertarik dengan isu-isu ekologi. Saya dihadapkan dengan situasi ekologi yang semakin memprihatinkan, alam di hancurkan atas nama segala hal. Baik atas nama Tuhan, kemanusian, investasi, pendidikan, dan adapula atas nama alam itu sendiri. Apa yang saya temui bukanlah bocah-bocah urakan yang membuang puntung rokok serta sampah sembarangan. Yang saya temui saat ini adalah manusia beradab maju serta intlek. Entahlah kenapa mereka bisa tega merusak alam. Kurang apa mereka itu. Sedari kecil segala akses bisa dibilang mencukupi, mulai dari pendidikan, kesehatan, segala hak dasar mereka terpenuhi dan tercukupi. Namun mereka justru merebut hak alam untuk hidup berdampingan dengan segela bentuk kehidupan. Mereka tak mengenal mengenal keselarasan ego dan eco. Bagi mereka kedua hal tersebut hanya instrumen untuk memenuhi nafsu dunia. Dan pada akhirnya menjadikan mereka sebagai mahluk paling buas dan rakus di bumi manusia.

Kiranya perkenalan saya dengan Nera Academia dalam Sekolah Analisa Sosial (Ansos) ini dapat memberi saya perspektif baru yang solutif dan revolusioner untuk mengurai masalah ekologis saat ini.

Oleh : Leonardus Kristian Hadinolo (email : leo_eiskak@yahoo.com). Alumnus Fakultas Hukum Ubaya.  Peserta Sekolah Analisa Sosial (ANSOS) III 2018  yang diadakan oleh Nera Academia di Surabaya. Tulisan ini merupakan bagian dari proses Sekolah Ansos di mana tiap partisipan mengekspresikan keprihatinannya pada isu gender, pendidikan dan lingkungan.

Catatan :

  1. Ego adalah struktur psikis yang berhubungan dengan konsep tentang diri, diatur oleh prinsip   realitas dan ditandai oleh kemampuan untuk menoleransi frustrasi.
  2. Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
  3.  Ajna adalah mata yang melihat tanggung jawab untuk memahami konsep-konsep abstrak.
Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *