HomeAKSIMore Than Work, Catatan atas Tubuh Perempuan di Media

More Than Work, Catatan atas Tubuh Perempuan di Media

AKSI DISKUSI FILM 0 0 likes 317 views

Media adalah ruang yang menjadi alat penghubung di dunia. Ia menghubungkan manusia satu dengan manusia lain, mempercepat komunikasi. Dengan adanya media, lebih-lebih kelahiran internet, informasi menjadi satu hal yang penting dan menentukan.

Tumbuhnya media di Indonesia menjadi sesuatu yang tak terbendung sejak masa reformasi. Data Dewan Pers menunjukkan jumlah media yang meningkat tajam di Indonesia, yaitu sebanyak 47 ribu media. Belum lagi tumbuhnya sosial media yang jika ditaksir jumlahnya hingga jutaan. Indonesia  disinyalir menjadi negara yang mempunyai media paling banyak jumlahnya di dunia.

Tumbuhnya media ini kemudian memberikan catatan penting bagi perempuan. Beberapa media bertumbuh secara positif, ini terlihat dari komitmen beberapa media dalam  menuliskan persoalan kekerasan yang menimpa perempuan. Namun banyak media yang senang menuliskan sensasionalisme tubuh perempuan. Media seperti ini juga tumbuh subur. Sensasi ini tidak hanya ada dalam tulisan, namun juga merambah pada bagaimana cara pandang media terhadap pekerja perempuannya, juga bagaimana kebijakan yang kemudian mengatur tubuh perempuan.

BACA JUGA :   Masihkah Agama Relevan?

Dalam kepesatan jumlah media ini, sayangnya nasib pekerja-pekerja media perempuan ini tak banyak diperbincangkan. Mereka seolah tenggelam oleh hiruk-pikuk media yang banyak tumbuh. Padahal tubuh perempuan di media seperti halnya alas kaki dunia. Tubuh yang sudah bekerja keras, namun seringkali tak dihargai.

Para perempuan pekerjaan media misalnya, banyak mendapatkan penilaian atas tubuhnya: perempuan yang bertubuh kurus selalu dianggap paling laku dibanding yang bertubuh gemuk. Yang berambut lurus selalu dianggap lebih laku dibandingkan yang berambut keriting. Padahal baik yang kurus maupun gemuk, yang rambut pendek maupun panjang sejatinya tak pernah lepas dari penilaian industri.

Konstruksi budaya inilah yang kemudian menjadikan orang-orang terbiasa melakukan penilaian terhadap tubuh perempuan. Konstruksi ini juga menyebabkan tubuh perempuan menjadi korban kekerasan seksual, dilecehkan, dianggap sensasional. Kondisi ini kemudian merambah dengan adanya kebijakan yang mengatur tubuh-tubuh perempuan di media.

“More Than Work” adalah film yang bercerita tentang bagaimana kondisi perempuan di media. Bagaimana perubahan media baru, konten media yang banyak diperbincangkan saat ini, jarang membicarakan tentang potret perempuan di media. Juga jarang membicarakan persoalan yang menimpa pekerja-pekerja perempuan di media. Film ini banyak menceritakan kisah potret buram perempuan di Indonesia.

BACA JUGA :   Kaum Muda Memang Bukan Generasi Penerus Bangsa

“Film dokumenter ini memang diproduksi untuk menjadi film yang bisa menjadi bagian dari kampanye agar tubuh perempuan dihargai, lebih-lebih tubuh para pekerja perempuan di media,” ujar Luviana, sutradara film ini.

Film berkisah tentang Dhiar, perempuan pekerja media di Jakarta yang mendapatkan kekerasan seksual dari atasannya. Dhiar selama 5 tahun berjuang untuk menuntaskan kasusnya hingga ke pengadilan.

Kisah kedua adalah kisah Kumalasari, seorang artis yang harus menghabiskan uangnya karena ia selalu dibully hanya karena tubuhnya yang gemuk. Untuk mendapatkan peran utama di sebuah sinteron televisi ternyata tak mudah, para perempuan harus berjuang menjadi sesuatu yang dimaui industri media.

BACA JUGA :   Perempuan-perempuan Kendeng Penjaga Bumi

Kisah lain menimpa para pekerja minoritas seksual yang tak boleh muncul di televisi karena pilihan seksualnya.

Film produksi Konde Production ini dilaunching di Jakarta pada 15 Juni 2019. Film yang mendapatkan dukungan dari Cipta Media Ekspresi, Ford Foundation dan Wikimedia ini selanjutnya akan diputar secara berkeliling.

“Hingga saat ini sudah ada kurang lebih 50 permintaan pemutaran di universitas, organisasi masyarakat sipil, serikat-serikat  buruh dan di kalangan anak-anak muda. Rata-rata mereka  memutar di universitas, di serikat, kelompok studi, kedai, café atau co working space yang mereka kelola di Jabodetabek, Solo, Pontianak, Yogyakarta, Malang, Tulungagung, Makassar, Kupang, Surabaya, Medan, Bali, Bandung, Aceh, Purwokerto. Ini menunjukkan antuasiasme dari kalangan muda, buruh, perempuan dan masyarakat umum yang ingin tahu seluk-beluk tentang media dan bagaimana dinamika yang terjadi pada para pekerja perempuan disana,” ujar Luviana.

Produksi: Konde Production (2019). Sutradara: Luviana, Produser: Luviana, Ani Ema Susanti. Cameraperson: Ipung Purwono, Asmuni, Ani Ema Susanti. Riset: Luviana. Editor: Aris Tyo Nugros. Networking: Rini Susanti

Bagi yang mau melakukan screening dan diskusi sila kontak: 0816-4809-844 . Email : morethanworkfilm@gmail.com. IG: morethanworkfilm. Trailler More Than Work : https://www.youtube.com/watch?v=o23G752aH-E&t=2s

Bagi teman-teman di Surabaya dan sekitarnya yang mau ikutan screening dan diskusi More Than Work, bisa cek link ini : https://www.facebook.com/idenera/photos/a.475544892829287/841956109521495/?type=3&theater

Please share,