HomeREFLEKSISASTRACERITA PENDEKNarno dan Kegelisahan Ekologis Pengarang
Tanggapan Untuk Narno

Narno dan Kegelisahan Ekologis Pengarang

0 133 views share

Membaca Narno, cerpen karya Thomas Satriya di Idenera.com membuat saya membayangkan bagaimana nelayan tambak menyambung hidup mereka. Sejauh saya tahu, nelayan tambak adalah anomali dari kehidupan nelayan yang umumnya dicirikan sebagai kehidupan yang serba kekurangan.

Mereka bertahan hidup dari hasil laut. Meski untung-untungan, kalau mereka bisa menjadi seorang nelayan tambak, sekurang-kurangnya ia memiliki pilihan penghasilan lain selain dari hasil laut yang sangat menggantungkan diri pada alam lautan.

Bahwa kegiatan pertambakan itu pelan-pelan menyebabkan kerusakan lingkungan di sekitar pantai, para ahli kelautan juga telah banyak menyampaikan. Oleh karena itu, cerpen berjudul Narno yang ingin mengangkat tema tentang kerusakan alam yang disebabkan oleh para petambak itu pada dasarnya bukan kisah baru. Meskipun, dalam perjalanan seni yang merupakan anak zaman, hal-hal yang tidak baru tetap akan relevan untuk disuarakan bila itu memang dianggap penting oleh sang seniman.

BACA JUGA :   Kegilaan Hidup dalam Veronika Decide to Die

Saat saya mencoba membaca apa yang ada dalam pikiran Narno, saya melihat bahwa Narno bukanlah seorang nelayan tambak biasa. Meski barangkali ia tidak lepas dari stereotipe nelayan yang sering diidentikkan sebagai orang-orang yang tidak berpendidikan tinggi, Narno tetaplah seorang yang berpengetahuan. Sekurang-kurangnya, ia mampu merefleksikan kisah kerusakan alam yang terjadi di tambak kampung sebelah dan mampu menarasikannya pada tetangg-tetangganya sehingga pemilik tambak di kampungnya merasa gerah dan terganggu, takut kalau para pekerjanya berhenti karena tahu bahwa aktivitas pertambakan itu merusak alam sekitar pantai.

Tapi, betulkan kisah Narno ini membuat para petambak mengalami kegelisahan ekologis sebagaimana disampaikan pengarang?

Saya justru membayangkan bahwa pengetahuan narno tentang kerusakan alam pantai itu adalah pengetahuan biasa yang mudah dipahami oleh para petambak pada umumnya, kawan seprofesi Narno. Tanpa pengamatan yang sangat rigid dan ilmiah pun, kerusakan alam yang disebabkan oleh petambak itu bisa dipahami.

BACA JUGA :   Jujur saja Tentang Demo

Tapi apakah mereka gelisah? Saya berpikir, mungkin kawan-kawan nelayan ini pernah gelisah. Akan tetapi kegelisahan mereka, kalaupun pernah singgah dalam pikiran, akan segera lenyap oleh kegelisahan karena dikejar-kejar anaknya yang membutuhkan uang sekolah, uang jajan dan uang untuk gaya hidup mereka. Kegelisahan mereka ini juga segera lenyap ketika mereka tahu bahwa setiap hari, ia dan keluarganya tidak bisa makan air laut yang tumbuh indah secara alami. Belum lagi pikirannya barangkali juga telah menggelisahkan kemampuan tetangga membeli lemari dan TV baru yang belum mampu dibelinya untuk membuatnya merasa bisa berbaur dengan mereka.

Berhadapan dengan alam dan sistem hidup bersama yang mengkondisikan mereka, kalau mereka mau berpikir lebih jauh, saya kira, mereka tentu akan memilih untuk tetap menjadi petambak dengan argumentasi bahwa: “Alam pantai masih akan rusak bertahun-tahun lagi kalau kami jadikan tambak sembari kami mendapatkan untung kecil-kecilan dari usaha di sana. Tapi alam akan hancur kalau tambak ini dibeli oleh pemilik modal besar yang memiliki visi ‘perkembangan’ kota dan ‘kemajuan’ industri properti dunia. Mereka menamakan itu perkembangan daerah pantai yang semakin maju karena berubah menjadi daerah industri wisata yang menguntungkan banyak orang (baca=orang kaya), pengentasan kemiskinan karena memang kemudian orang miskin tidak ada di daerah yang menjadi “mantan tambak” tersebut.”

BACA JUGA :   Membenci Kasih Sayang dan Memuja Perang

Namun, bahwa Narno gelisah, ini tetap saja merupakan cermin kegelisahan orang orang miskin yang pada saat sekolah, mereka ini diajari bahwa nenek moyang mereka pernah mewakili mereka, keturunannya, untuk bersepakat membangun sistem hidup bersama demi kesejahteraan bersama.

Nama kesepakatan itu konstitusi dan nama organisasi itu negara. Dan, sampai hari ini, negara masih sibuk dengan berbagai urusan sehingga belum sempat mengatur dengan serius nasib orang miskin. Bahkan, kadangkala, negara akan merasa sangat berterima kasih pada pemodal, sesama warga negara atau warga negara tetangga yang datang untuk membantu mengatasi kemiskinan dengan menyingkirkan orang miskin, seperti Narno.

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *