HomeREFLEKSINatal Di Lorong Bising Tak Bermakna
idenera

Natal Di Lorong Bising Tak Bermakna

REFLEKSI 0 2 likes 141 views

Sehari menjelang Natal, kedatangan sang Emanuel, tragedi tsunami kembali menimpa Indonesia. Tsunami menerjang Anyer, Banten dan Lampung.

Dari lubuk hati terdalam; kuucapkan turut berdukacita dalam doa bersama keluarga yang berduka dan mendoakan mereka yang terluka.

Tak perlu ribut mempertanyakan apalagi menghubungkan tragedi ini dengan segala hiruk pikuk politik. Apalagi menjadi dagangan politik. Cukup menjadi tiang peneguh yang menghibur dan menjadi tonggak penguat yang meneguhkan.

Juga tak perlu meramaikan debat kusir soal atribut natal, tak perlu juga memperdebatkan soal pantas tidak mengucapkan selamat natal. Karena natal adalah gambaran nyata keberpihakan Penyelamat pada mereka berduka dan menderita.

BACA JUGA :   Apa istimewanya Isa Al-masih ?  Toh nabi-nabi sebelum Dia bekerja sama nyatanya

Natal bukan soal atribut pun pula bukan soal ucapan tapi menyuarakan kedamaian. Natal warta gembira dari sebuah kelahiran sang Penyelamat yang tak butuh perdebatan soal atribut, soal halal haram mengucapkan selamat natal atau tidak apalagi menghubung-hubungkan sebuah tragedi dengan mencatut segala kutiban Alkitab untuk menunjukan keperkasaan agama yang diimani dan kebanggan pada Tuhannya.

Natal itu, bangkit menyuarakan kegembiraan di lorong-lorong sunyi yang diselimuti bayang-bayang ketakutan. Natal juga adalah kumandang solidaritas di ruang-ruang duka insan manusia.

Natal juga tentang menyalakan lilin kehangatan menjangkau dan mendekap dengan kasih tanpa pamrih kepada mereka yang kehilangan asa. Natal adalah paduan suara harapan yang menghibur; “jangan takut” kepada mereka yang putus asa.

BACA JUGA :   Febriansyah : Ketika mereka independen, mereka terlihat seperti alien

Natal bukan mimbar hanya untuk mereka yang terhormat melaporkan segala “kesombongan” pribadi atas keberhasilan mereka untuk menutupi kekurangan demi sebuah simpati. Tapi natal adalah untuk mereka yang suaranya tak pernah didengarkan, bahkan untuk berkeluh pun dijauhkan.

Natal bukan sekedar parodi spanduk ucapan natal dari wajah-wajah “suci” bermental Herodes yang demi sebuah suara memenangkan pertandingan di panggung demokrasi 2019, namun ada sebuah niat untuk mencari menang sendiri.

Natal adalah sebuah perjalanan, ziarah bersama mereka yang terus menjaga sumbuh kehidupan mereka, yang terus bersiaga mempertahankan suluh mereka agar tak padam dan terkulai di tengah gelombang hiruk pikuk politik yang jauh dari kata bermartabat dan bermoral.

BACA JUGA :   Sepatu

Natal adalah saat bersama Dia, menyuarakan kedamaian; “Tuhan bersamamu” di arena lorong bising tak bermakna.

Manila, 23 Desember 2018

Please share,