HomeREFLEKSISASTRACERITA PENDEKPagi Jadi Pengasuh, Malam Jadi Pe-nulis

Pagi Jadi Pengasuh, Malam Jadi Pe-nulis

0 47 views share

Tulisan ini ditulis pada malam hari saat aku udah kelar jadi pengasuh. Karna pagi hari aku jadi pengasuh dan malam hari aku jadi penulis. Aku merasa sedikit bingung, menganggap ini rutinitas atau apa? Tapi bagiku ini passionate. Sebuah gairah yang sampai detik ini enggak pernah luntur sih.

Sebenarnya udah lama sih aku menyadari bahwa aku menyukai anak kecil. Maksudnya, senang sama anak kecil. Ya kaya kata teman-temanku, aku ini termasuk penyayang anak kecil. Di mataku, aku lebih mudah kasihan dan merasa sangat hibah dengan anak kecil ketimbang orang dewasa. Apalagi orang dewasanya kaya teman-temanku yang rata-rata nyebelin banget sih. Hahaha…

Tak jarang bentuk ekspresiku sebagai penyayang anak kecil, aku suka memberi hadiah. Contohnya, ya saat ulang tahun anak dari teman sebayaku atau anak dari temanku yang umurnya lebih tua dari aku. Apalagi saat aku jalan dengan temanku dan kebetulan dia bawa anaknya, aku sengaja bawa anaknya jajan. Selain aku senang jajan juga, ya karna aku begitu sayang sama anak kecil.

Tapi kadang aku tersadar dikondisi tertentu. Misalnya, ya aku enggak bisa seramah ini ke semua anak kecil atau ke orang-orang yang memiliki anak kecil. Boleh sih ramah tapi jangan sampai membuat mereka merasa aneh aja. Atau mungkin ini pikiran liarku saja. Kadang aku berpikir aku takut disangka pedofil sama orang-orang hanya karna aku senang membawa anak kecil jajan, kadang terlihat sok akrab hanya karna dia menggemaskan yang membuat aku tidak bisa menahan bibirku untuk berkata hai sambil bertanya siapa namanya.

BACA JUGA :   Goresan Tinta Kamar 23

Ketakutanku itulah yang membuat aku terlihat biasa aja sampai sekarang. Ya, takut dikira pedofil karna terlalu cepat akrab dengan anak kecil.

Ku tunggu sampai aku punya keponakan nanti, gumamku dalam hati. Ku tunggu terus kaya menunggu jodoh. Eaaaaa….

Karna kalau nanti aku udah punya keponakan, aku pikir akan terlihat sangat wajar sekali bila aku terlihat sering membawa keponakanku jajan dan jalan-jalan. Kebetulan pula aku tipe orang yang sangat ekspresif. Jadi tidak akan mungkin aku bisa membendung kebahagiaanku saat memiliki keponakan.

Dan itulah yang terjadi padaku sekarang setelah dia hadir. Noel, keponakanku.

Untuk beberapa bulan ini aku diminta dan bahkan sengaja menawarkan diri untuk mengurus keponakanku yang rumahnya terbilang jauh sih dengan rumahku. Tapi kalau udah sayang, jarak sejauh apapun pasti ditempuh. Pasti kamu juga begitu kan pas lagi ngejar gebetanmu? Hahahaha…

BACA JUGA :   Suatu Pagi di Musim Semi

Kedua orangtua keponakanku yang tidak lain adalah kakak kandungku dan abang iparku, kebetulan mereka berdua sama-sama bekerja. Jadi memang agak sedikit sulit sih mengurus anak sambil bekerja begitu. Itu mengapa perlu kehadiran orang-orang yang berniat membantu dengan hati yang tulus. Eaaaa…

Di satu sisi ya aku merasa senang. Karna bulan Maret adalah bulan spesial, bulan kelahiranku. Ehemm! Lagi ngodein nih kali aja ada yang mau kasih hadiah. Hahaha…

Aku senang karna aku akan menghabiskan bulan spesial itu bersama keponakanku yang memang belum bisa apa-apa sih. Tapi aku udah senang kok hanya melihat dia tidur nyenyak dari depan pintu kamarnya.

Hari demi hari ku lalui, sampai detik ini menjadi pengasuh itu memang tidak mudah. Memang berat sih tapi bukan berarti tidak bisa dilakoni. Kehadiran keponakanku membuatku semakin dan semakin belajar ilmu parenting, bagaimana menghadapi bayi maupun anak kecil. Dibutuhkan kesabaran level dewa disaat mereka rewelnya minta ampun. Perlunya sikap sigap dan cekatan disaat mereka rewel karna haus minta susu tapi di waktu yang bersamaan kita harus mengganti popoknya yang udah penuh dengan ‘bubur’. Hahaha…

BACA JUGA :   Ditulis Oleh (Bukan) Calon Tante

Bayi hanya bisa menangis, menangis dan menangis. Pertanyaannya, apa bedanya dia menangis minta mimik cucu, minta diganti popok, minta dimanja atau diberi perhatian, sedang merasa takut, apa bedanya? Mereka menangis dengan satu nada, fa. Terdengar seperti itu suara keponakanku, F sama dengan Do. Hehehe…

Saat malam hari tiba aku layaknya seorang satpam, berganti shift dengan kedua orangtuanya. Tugasku selesai menjadi pengasuh, tapi shift selanjutnya sudah menanti. Yaitu menjadi penulis. Sama halnya dengan menjadi pengasuh, menjadi penulis pun bagian dari passionate.

Aku heran kenapa semua ini terasa begitu menyenangkan? Padahal orang lain bilang itu pasti melelahkan sekali. Mengurus anak bukan pekerjaan yang mudah. Lebih milih kerja dan lembur di kantor ketimbang mengurus anak kecil.

Padahal kamu belum rasain. Cobain deh, rasanya… Ahh! Mantap! Hahahaha…

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *