HomeREFLEKSIDISKUSIPendidikan dan kekonyolan di media sosial

Pendidikan dan kekonyolan di media sosial

DISKUSI LINGKUNGAN TEKNOLOGI 0 0 likes 125 views

Saya bukanlah orang yang terlibat dalam dunia pendidikan di Indonesia. Saya juga bukan orang yang ahli dalam bidang pendidikan. Namun dengan tulisan ini saya hendak menyampaikan suatu kegelisahan pribadi mengenai dunia pendidikan Indonesia. Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi serta pengamatan saya tentang pendidikan di Indonesia. Ada pun contoh yang saya sertakan tidak merujuk langsung pada kasus secara spesifik hanya sekedar memberi gambaran bahwa peristiwa itu pernah terjadi, dan kita semua mengetahuinya.

Kata pendidikan identik dengan sekolah. Jika kita ditanya “anda sedang menempuh pendidikan dimana?” Sebagian besar dari kita akan merujuk pada sekolah atau perguruan tinggi dimana kita sedang belajar. Namun apakah di tempat kita sekolah atau kuliah, kita benar-benar dididik? Apakah yang selama ini disebut dengan institusi pendidikan, yayasan pendidikan, dan lain sebagainya, yang menggunakan kata pendidikan, benar-benar mendidik?

Baca juga : PGMI Uinsa : Pengalaman kami belajar bersama Kelas Tunas Nera Academia

Pendidikan haruslah memanusiakan manusia. Menjadikan manusia memiliki keutamaan dan memiliki kualitas dalam hidup mereka. Manusia yang berkeutamaan dan memiliki kualitas adalah manusia yang mengedepankan rasio dari pada emosi. Tindakannya haruslah di dahului oleh rasio daripada emosinya. Manusia berkeutamaan dan juga berkualitas tidak dapat bersikap secara tegas, tanpa terombang-ambing dalam keinskonsistensian. Hal tersebut dapat dimiliki atau dibentuk melalui pendidikan.

Namun apakah pendidikan di Indonesia telah mengarahkan manusia kepada keutamaan dan memiliki kualitas hidup? Marilah kita mengingat beberapa kejadian yang sempat viral atau menjadi trending di media sosial. Berikut penulis kutipkan satu kasus yang sempat menjadi viral di media sosial.[1]

“Pada 1 Februari 2018, seorang guru seni rupa bernama Ahmad Budi Cahyono meninggal dunia setelah mati batang otak. Kapolres Sampang, AKBP Budi Wardiman menggelar konferensi pers tentang kronologi meninggalnya Pak Budi agar tidak ada berita lain yang memperkeruh suasana.

Kamis, 1 Februari 2018, sekitar pukul 13.00 Pak Budi mengisi pelajaran seni melukis. Semua diberi tugas, namun MH (pelaku) tidak menghiraukan tugas tersebut. Setelah ditegur berkali-kali, MH tetap tidak menghiraukan hingga akhirnya Pak Budi menggoreskan cat ke pipinya.

Merasa tidak terima, dia pun mengeluarkan kalimat kasar. Dianggap tidak sopan, Pak Budi memukul dengan kertas absen namun berhasil ditangkis. MH langsung menghujamkan pukulan ke pelipis kanan Pak Budi yang membuatnya jatuh.

Murid lain melerai, namun lengan kiri Pak Budi terluka untuk menahan tubuh ketika jatuh. Dia sempat meminta maaf kepada Pak Budi atas apa yang telah dilakukannya. Permintaan maaf tersebut disaksikan oleh semua murid.

Pelajaran usai, Pak Budi sempat bercerita pada kepala sekolah tentang apa yang telah ia alami. Ketika pulang ke rumah, Pak Budi mengeluh pusing dan sakit kepala. Sekitar pukul 15.00 korban dibawa ke puskesmas dan dirujuk ke rumah sakit Dr. Soetomo, Surabaya.

Pihak rumah sakit menyatakan bahwa Pak Budi mati batang otak yang menyebabkan seluruh organ tubuhnya tidak berfungsi. Pada 21.40, Pak Budi meninggal dunia.”

Contoh tersebut hanya salah satu cerminan dari dunia pendidikan Indonesia. Selain kasus kekerasan tersebut ada banyak contoh kasus lain yang mencerminkan kondisi pendidikan Indonesia saat ini. Kita juga dapat mengamati bagaimana ulah dan tingkah anak sekolah dewasa ini. Mengumbar kemesraan di media sosial, terlibat kenakalan remaja, kebut-kebutan di jalan, hingga penyalah gunaan narkoba. Tentunya masih banyak contoh lain yang dapat mencerminkan kondisi pendidikan Indonesia saat ini.

Contoh-contoh kasus serta realitas yang dapat kita amati baik secara langsung maupun tidak langsung membuat penulis bertanya, “Apakah demikian tingkah dan ulah orang-orang yang terdidik? Apakah mereka benar-benar terdidik?”. Pertanyaan tersebut menjadi kegudahan penulis atau mungkin menjadi kegundahan kita semua. Dari pertanyaan itu muncul suatu keheranan dari dalam diri penulis, “Bagaimana mungkin anak-anak yang bersekolah bertingkah demikian?” “Apa yang salah dengan pendidikan di Indonesia?”

Baca juga : Khoirur Roziqin : Mendidik Manusia Indonesia Jadi Generasi Pancasilais

Di era globalisasi saat ini, dengan aliran informasi yang begitu deras dan cepat diakses, kita seolah dibuat gagap. Tak terkecuali di kalangan anak sekolah atau pelajar. Mereka telah memiliki akun media sosial dan sangat cepat dalam mengakses informasi apa pun, entah baik; entah buruk. Dari hasil mengakses berbagai macam informasi tersebut mereka cenderung keliru dalam menyikapi, dan itu yang disebut dengan gagap. Alih-alih menambah pengetahuan dan informasi yang berguna, mereka justru mengimitasi perilaku-perilaku konyol yang menjadi viral di media sosial.

Rasanya bukan pendidikan yang menjadi sumber  perilaku ‘nyleneh’ para pelajar Indonesia dewasa ini.  Pendidikan Indonesia tetap berada pada visi dan misinya untuk mendidik anak bangsa dan menjadikan mereka manusia. Namun pendidikan menemui tantangan yang cukup berat dari dampak berkembangnya teknologi informasi dewasa ini secara khusus media sosial. Media sosial, media elektronik; tontonan hiburan di televisi, turut ambil peran dalam proses imitasi perilaku pelajar saat ini. Lalu bagaimanakah dunia pendidikan merespon hal tersebut?

Baca juga : Menanggapi Meliorisme William James : Kemungkinan Buruk Kehendak Bebas

Dunia pendidikan seolah telah kehilangan karismanya untuk menarik minat pelajar. Tantangan terbesar ditemui dalam perkembangan teknologi informasi yang luar biasa berkembang pesat. Jangankan pelajar, pendidik pun kerap gagap dalam menanggapi perkembangan yang pesat tersebut. Dunia pendidikan kehilangan sosok keteladanan yang seharusnya dimiliki oleh para pengajar atau pendidik. Akhirnya para pendidik dan pelajar semua larut dalam pencarian jati diri dan terlena dalam hiruk-pikuk media sosial.

Oleh :  Andreas Ardhatama W.  Penulis lepas, tinggal di Kediri. Email : andreas.gnr@gmail.com 

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *