HomeREFLEKSIDISKUSIMendidik Kesetaraan Gender Sejak Usia Dini
idenera

Mendidik Kesetaraan Gender Sejak Usia Dini

DISKUSI KEBUDAYAAN NARASI 0 2 likes 466 views

Rumitnya mencari keadilan bagi kasus-kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan seperti kekerasanyang dialami Ibu Baiq Nuril, pemerkosaan di lingkungan pendidikan yang dialami Agni (mahasiswi UGM), dan kekerasan seksual oleh aparat yang menimpa Anindya Joediono, menggugah kesadaran bahwa kesetaraan gender masih perlu ditingkatkan dari waktu ke waktu.

Catatan tahunan KOMNAS Perempuan 2018 menunjukkan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan semakin meningkat dari 259.150 kasus di tahun 2016 menjadi 348.446 di tahun 2017. Sebagian besar kasus kekerasan terhadap perempuan yaitu sebesar 71% terjadi di ranah personal. Fakta-fakta kekerasan terhadap perempuan ini menjadi tonggak penting bagi perubahan cara berpikir dan berelasi antara perempuan dan laki-laki menuju hubungan yang lebih setara, yang bisa dimulai dari ranah paling kecil yaitu keluarga.

Akar penindasan terhadap perempuan

Kasus kekerasan seksual yang menimpa perempuan tidak terjadi begitu saja, namun memiliki akar yang panjang setua kesadaran bahwa perempuan hanyalah Liyan (the others), pelengkap bagi konstruksidiri Laki-laki. Demikian kiranya kurang lebih pemikiran Simone de Beauvoir (1908 – 1986), perempuan penulis, pemikir serta ahli teori sosial dan feminisdari Prancis, dalam karyanya The Second Sex (1949) yang menyelidiki akar-akar penindasan terhadap perempuan. Penindasan perempuan berakar dari berbagai ranah kehidupan dari tubuh hingga bahasa. Tubuh perempuan yang unik yaitu yang mengalami menstruasi setiap bulan dan memiliki rahim dianggap sebagai keterbatasan. Ini misalnya nampak dalam pandangan bahwa perempuan sangat dipengaruhi oleh hormonnya sehingga ia menjadi sangat emosional dan susah diprediksi.

BACA JUGA :   Melihat Keragaman Gender Dalam Tradisi Lengger Lanang

Pertanyaan yang muncul: Bukankah laki-laki juga dipengaruhi oleh hormon testosteronnya? Tubuh perempuan dianggap sebagai beban sedang tubuh laki-laki adalah tubuh yang normal. Dalam ranah bahasa, misalnya, kata ‘man’ hanya menunjukkan baik manusia pada umumnya maupun laki-laki tetapi bukan pada perempuan. Pada tradisi timur, perempuan dikaitkan dengan dunia bawah seperti bumi (ibu pertiwi), sedang laki-laki pada dunia atas (bapa langit-ibu bumi).

Pembedaan Sex,Gender dan Implikasi Sosial

Guna membongkar pandangan yang mendiskriminasi perempuan, perlu dikenal pembedaan sex, genderdan implikasi sosial yang ditimbulkan dari gender. Sex atau jenis kelamin ialah pembedaan berdasarkan hal-hal biologis seperti perempuan memiliki vagina, rahim dan payudara, sedang laki-laki memiliki penis, testis dan jakun. Perbedaan sex ini merupakan bawaan. Di sisi lain, gender ialah konstruksi sosial atau kultural yang dilekatkan pada perempuan atau laki-laki misalnya, perempuan itu lebih mengandalkan perasaan atau kurang rasional, sedang laki-laki rasional.

Salah satu ciri gender ialah konstruk sosial/kultural tersebut bisa berbeda atau dipertukarkan dari waktu ke waktu dan tempat ke tempat yang lain. Katakanlah,Ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani tentu tidak bisa dikatakan perempuan yang melulu mengandalkan perasaan sebab beliau mesti rasional dalam memutuskan banyak persoalan terkait keuangan negara. Artinya, perempuan bisa saja rasional dan laki-laki bisa saja sangat emosional.

BACA JUGA :   Gerakan Sosial Baru dan Upaya Literasi Ekologi

Perbedaan gender menjadi problem ketika menghasilkan ketidakadilan atau ketimpangan sosial.Misalnya, dari anggapan perempuan kurang rasional dan akan bekerja di ranah domestik (rumah tangga), muncul keputusan bila ada kesusahan ekonomi pada keluarga biasanya anak perempuan yang cenderung dikorbankan untuk tidak meneruskan sekolah dibandingkan dengan anak laki-laki.

Pendidikan kesetaraan gender sejak dini

Mengutip riset yang dilakukan kantor berita CNN (2017) bahwa anak-anak berusia 2 hingga 6 tahun mempelajari stereotipe perempuan dan laki-laki melalui permainan,ketrampilan dan kegiatan yang terkait masing-masing gender. Anak berusia 7 hingga 10 tahun sudah mulai melekatkan kualitas tertentu kepada perempuan dan laki-laki seperti laki-laki agresif dan perempuan emosional.

Berdasarkan riset ini, kita dapat mengantisipasi atau setidaknya meminimalisir kemungkinan terjadinya kekerasan seksual terhadap perempuan di masa mendatang melalui pendidikan kesetaraan gender sejak usia dini. Kunci dari pendidikan kesadaran kesetaraan gender ini ialah memberikan kesempatan yang sama baik bagi anak perempuan maupun laki-laki.

Untuk anak usia 0-2 tahun, orang tua bisa mulai dari memberi kesempatan pada anak-anaknya untuk bermain semua jenis mainan, misalnya anak perempuan tidak ada salahnya bermain mobil-mobilan karena akan mengasah motorik kasar maupun halus mereka. Di samping permainan, anak usia 5 tahun ke atas perlu diberi kesempatan mengembangkan berbagai jenis ketrampilan tanpa harus terbatasi pembagian gender tradisional.

BACA JUGA :   Apakah Tujuan Kita Belajar Filsafat ?

Sebagai contoh, baik untuk mengajari anak laki-laki memasak, sebab kelak ketika mereka dewasa, ketrampilan memasak akan dibutuhkan untuk bertahan hidup, terlebih bila mereka hidup di perantauan.Orang tua juga bisa mengenalkan kepada anak orang-orang hebat di sekitarnya baik perempuan maupun laki-laki, misalnya, “lihat Ibu dokter tetangga kita, hebat ya, bisa mengobati banyak orang” atau “lihat ayahmu hebat ya, pandai memasak dan merawat kebun”.

Bahasa sangat berpengaruh pada pendidikan untuk anak-anak. Kekerasan dalam bahasa adalah pintu masuk bagi kekerasan lain yang lebih serius seperti kekerasan fisik, maka hendaknya orang yang lebih tua tidak membuat candaan yang merendahkan jenis kelamin lain dan tidak memarahi anak dengan melekatkan sifat buruk kepada jenis kelamin tertentu, misalnya tidak berkata pada anak laki-laki “kamu jangan cerewet atau cengeng, nanti pakai rok seperti perempuan lho”. Juga, sifat baik tertentu seperti rajin dan rapi tidak perlu dilekatkan hanya padaperempuan  saja dengan mengatakan “ayo kamu kan perempuan, harus rapi dong.” Anak laki-laki juga membutuhkan kerapian untuk mengorganisir hidupnya kelak.

Akhirnya, mengenai kekerasan seksual, kita tidak hanya bisa bertindak sebagai pemadam kebakaran yang bertindak seusai terjadi persoalan, namun juga bisa mencegah tindak kekerasan seksual sejak usia sedini mungkin.

Anastasia Jessica Adinda S. (full time mom and lecturer)

Please share,