HomeAKSIPGMI Uinsa : Pengalaman kami belajar bersama Kelas Tunas Nera Academia

PGMI Uinsa : Pengalaman kami belajar bersama Kelas Tunas Nera Academia

AKSI KOMUNITAS MITRA KARYA WARGA 0 0 likes 195 views

Nih kami mau cerita ya pengalaman kami belajar bersama Kelas Tunas Nera Academia

Melakukan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan? Rasanya sangat sulit dibayangkan di jaman sekarang ini. Eits tunggu dulu, kata siapa sulit? Hemm,  masih ada kok orang-orang yang senang membantu sesama tanpa dibayar. Mereka bergabung di Lembaga Belajar Sosial NERA ACADEMIA.

Nera Academia dengan program Kelas Tunas menjadi relawan mengajar di Rusunawa Jemundo Sidoarjo.  Nera Academia sudah berdiri cukup lama, salah satu tujuan mereka adalah jadi wadah yang memberi kesempatan untuk semua orang belajar dan menyalurkan pemikiran mereka.

Baca juga : Kelas Tunas Nera Academia : Semangat Kartini di Rusun Jemundo

Nera Academia sudah menjadi relawan pengajar di Rusunanwa Jemundo selama tiga tahun dan masih terus berlansung hingga saat ini melalui program yang mereka namakan Kelas Tunas. Melalui Kelas Tunas, kita menghadapi tantangan  belajar yang berbeda, salah satunya membantu orang yang lebih membutuhkan tanpa memandang ras, suku dan agama.

Suasana belajar Kelas Tunas Nera Academia di Rusunawa Jemundo. Foto : Dok Nera Academia

Jadi, toleransinya kental banget gitu. Like deh pokoknyaa….

Nah, Rusunawa Jemundo merupakan tempat tinggal sementara komunitas Syiah Sampang Madura yang dipindahkan secara paksa ke Sidoarjo. Akibat pengusiran paksa tersebut, anak-anak mereka sulit untuk meneruskan  sekolah di sekolah formal  pada awal kepindahnya. Pendidikan mereka pun terhambat di 2-3 tahun pertama. Baru 3 tahun terakhir mereka bisa masuk sekolah formal. Hal ini membuat mereka ketinggalan dalam hal penguasaan materi belajar, termasuk yang paling sederhana baca, hitung dan tulis. Belum lagi masalah sosial ekonomi dan masih banyak permasalahan lainya.

Oh ya.. mereka  sudah 6 tahun mengungsi, sedih banget kan?..

Dari cerita kakak-kakak Nera Academia,  bahwa baru 3 tahun terakhir ini mereka bisa belajar di sekolah formal bersama anak-anak lainya di sekitar Jemundo Sidoarjo. Disini anak-anak menjadi korban.  Pendidikan sebagai modal bagi anak-anak menjadi lebih baik dan membawa mereka ke masa depan yang lebih cerah rasanya  masih sulit terwujud dan sulit dirasakan kalau melihat realita yang terjadi. Banyak hal yang membuat kami berpikir seperti itu karena, banyak dari mereka yang masih mendapatkan intimidasi dan diskriminasi dari orang-orang diluar sana.

Baca juga : 5 tahun tragedi Syiah Sampang dan Janji- janji Politikus

Kami mengutip pepatah yang berbunyi “Semua manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk mengubah hidup orang lain. Memberi adalah salah satu kemampuan itu. Mari bersama-sama mewujudkan mimpi anak-anak disudut negeri untuk mendapatkan pendidikan yang layak.” Itulah yang jadi alasan saya dan kelompok memilih Nera Academia untuk membimbing kami dalam melakukan tugas kuliah kami.

Melalui Kelas Tunas Nera Academia kami belajar banyak hal, salah satunya yaitu kami tertantang ingin mengetahui secara langsung karakteristik anak-anak rusunawa dan cara belajar mereka. Hal ini menjadi ketertarikan tersendiri buat kami karena mampu menjadi implementasi nyata bagi kami yang sedang belajar di Fakultas Pendidikan untuk berbagi pengalaman bersama mereka.

Mengalami dan berjumpa secara langsung adik-adik di Jemundo

Sebelum kami terjun lapangan bersama Nera Academia, kami bertemu untuk saling mengenal dan menceritakan tujuan kami kepada pihak komunitas tersebut. Kami berbincang-bincang dan mendapatkan cerita banyak mengenai kelas Tunas dan kami berpikir  “Wah ini menjadi tantangan baru buat kami untuk terjun lapangan dengan kondisi yang berbeda dari yang biasa kami kunjungi di sekolah-sekolah”. Kami sangat senang karena  Nera Academia menerima kami dengan senang hati untuk belajar dengan mereka.

Minggu, 6 Mei 2018 pertama kali kami mengikuti kegiatan Kelas Tunas yang sudah dilakukan Komunitas Belajar Sosial Nera Academia secara rutin pada setiap sabtu dan minggu di Rusunawa Jemundo, di kompleks Pasar Puspa Agro  Sidoarjo. Disana kami diajak untuk melihat, merasakan, dan mengalami langsung proses belajar bersama adik-adik penghuni Rusunawa Jemundo Sidoarjo. Kesan pertama saat kami terlibat langsung di Kelas Tunas adalah salut melihat minat dan respon positif dari anak-anak penghuni rusunawa itu sendiri. Kami menangkap sinyal positif yang memancar di wajah para anak-anak tersebut dan tak ada kesan dipaksa ataupun terpaksa.

Pada hari minggu sekitar jam 11.00 kami bertemu dengan relawan Nera Academia di depan Rusunawa Jemundo. Hari ini kami diberi kesempatan untuk langsung bertemu langsung dengan anak-anak. Kami pun mengelompok anak-anak sesuai dengan kelas yang sudah dibagi sebelumnya. Kelas-kelas yang kami asuh mulai dari Paud hingga kelas V SD. Tiap kelas ada 2-3 orang untuk belajar bersama anak-anak dan tiap-tiap kelas yang dipegang pasti memiliki pengalaman yang berbeda-beda.

Dari hasil observasi kami pertama di hari Minggu, 6 Mei 2018, kami mencoba mengevaluasi dan kami bicarakan secara kelompok untuk menyusun strategi, media dan rencana lain untuk mengatasi atau memberi solusi yang terjadi pada realita yang sudah kita lihat. Setelah diskusi kami mencoba mengkomunikasikan dengan Nera Academia untuk memberikan saran dan masukan dari kegiatan-kegiatan yang akan kami lakukan pada hari Sabtu dan Minggu pada pertemuan  berikutnya.

Kamis, 10 Mei 2018 kami bertemu dengan relawan Nera Academia di Sanggar Merah Merdeka. Kami bersama-sama membicarakan rencana kegiatan yang akan kita lakukan pada hari Sabtu dan Minggu. Kami berterima kasih pada kakak-kakak Nera Academia yang sudah menjamu kedatangan kami dengan baik, banyak memberi masukan dan saran terhadap rencana kerja yang akan kami jalankan untuk kelas tunas. Dari hasil pertemuan tersebut kami sepakati pada hari Sabtu kami mengajarkan membaca dan menullis untuk semua (PAUD, TK , Kelas 1 -5 SD), dan pada hari Minggunya kami sepakati untuk belajar membuat ketrampilan dengan menggunakan kertas origami.

Anak-anak mencoba kincir angin dari kertas origami, ini merupakan salah satu proses keratif di Kelas Tunas Nera Academia bersama Mahasiswa PGMI Uinsa. Foto : Dok. Nera Academia

Sabtu,11 Mei 2018, kami bertemu kedua kalinya dengan anak-anak penghuni Rusunawa Jemundo.  Seperti yang sudah kami jadwalkan pada hari Sabtu,  hari ini akan mengajar membaca dan menulis dengan menggunakan strategi dan model pembelajaran dengan menggunakan media gambar-gambar untuk memberikan cara belajar yang baru.  Pada hari Sabtu ini, pengalaman Uswatun dan Fida mendapat bagian memegang anak PAUD dan TK, disini kita mengajari huruf abjad dengan memperkenalkan menggunakan media gambar.  Semisal gambar benda yang diawali dengan huruf R kita tunjukkan gambar rumah kemudian anak diminta menuliskan huruf R di kertas yang sudah kami bagikan kepada mereka dan siapa yang sudah bisa menuliskan dengan cepat kita beri bintang disetiap kertas mereka selain itu, mereka juga menebak gambar yang ditunjukkan.

Dengan menggunakan media gambar ini kami berharap mereka bisa lebih paham tentang huruf abjad terutama penulisan dari masing-masing huruf abjad yang sudah mereka hafal dan urutannya. Tetapi ada yang membuat kita terenyuh dari ucapan salah satu anak, ketika kita sampai pada huruf “R” dan kita menunjukkan gambar rumah, salah satu dari mereka ada yang berbicara  Kak itu kayak rumahku dulu kak sebelum dibakar orang”. Kalau boleh jujur kami ingin menangis mendengar ucapan salah satu anak di Jemundo itu, tetapi kami mencoba mengalihkan pembicaraan mereka dengan meneruskan pembelajaran.

Namun yang namanya ingatan masa lalu tentu tidak bisa lepas begitu saja. Kami mencoba  untuk menghindari topic yang membuat mereka mengingat apa yang mereka alami sebelum pindah di rusunawa. Nyatanya memang sudah peristiwa kelam itu berdampak cukup dalam  bagi mereka. Satu hal lagi yang bikin kami terharu, cita-cita mereka berbeda dengan anak-anak lainya yang pernah kami temui. Cita-cita mereka sederhana “kami ingin pulang kampung” kata mereka dengan polos. Betapa sedihnya kami mendengar hal itu. Tapi, kami yakin dengan bantuan Lembaga Belajar Sosial Nera Academia, anak-anak disana akan belajar banyak hal agar mereka tangguh dalam mencapai cita-citanya.

Lagi-lagi kami mendapatkan pengalaman penting saat melakukan proses pembelajaran.

Mungkin hal ini sudah biasa kami rasakan sebagai calon pendidik seperti halnya pada awal pembelajaran anak-anak masih bisa dikendalikan tapi di tengah-tengah pembelajaran ada anak yang nangis dan mulai menganggu teman-teman yang lain jadi kami agak kesulitan. Kami dibantu beberapa relawan Nera Academia sehingga kami bisa  menangani anak-anak yang sulit untuk dikendalikan. Dan diakhir pertemuan tidak lupa kami melakukan evaluasi dari pembelajaran yang sudah kita ajarkan selama kelas tunas pada hari itu, kami juga memutuskan pada hari minggu akan mengajarkan anak-anak di Rusunawa Jemundo membuat kincir angin dari kertas origami.

Minggu, 12 Mei 2018,  kami menuju Rusunawa Jemundo untuk ketiga kalinya sekaligus untuk yang terakhir. Kegiatan kami hari Minggu, bersama anak-anak belajar membuat kincir angin dari kertas origami, dan perlengkapan yang diperlukan kami sudah siapkan semua agar memudahkan anak membuat kincir angin. Alasan kita memilh kincir angin  karena selama kita mengikuti Kelas Tunas disana anginnya sangat kencang jadi, kita memilih kincir angin supaya mereka bisa memanfaatkan angin yang ada supaya kincir angin yang mereka buat bisa berputar.

Pertama kami seperti biasa membagi kelompok untuk menangani mereka kemudian kita membagi peralatan yang diperlukan masing-masing anak untuk membuat kincir angin. Setelah itu membuat bersama-sama dengan anak-anak. Karena pembuatan kincir angin menggunakan  jarum, kami  putuskan untuk pemasangan jarum dilakukan relawan anak-anak tinggal melipat kertas dan membuat tiang dati sedotan plastik.

Ketika sudah jadi semua dan banyak yang sudah bisa berputar ada  beberapa anak yang ingin membuat kincir angin dua bahkan lebih, sehingga anak yang  hanya memiliki satu kincir angin iri dan ikut-ikutan mau membuat dua .  Akhirnya kami berinisiatif mengumpulkan semua kincir angin dan membagi untuk satu orang anak hanya punya satu kincir angin tidak lebih.  Meskipun dari mereka  ada yang ngambek karena mereka merasa membuat dua tapi kok hanya dibagi satu, kami mencoba menjelaskan supaya mereka bisa menanamkan sikap berbagi kepada temanya yang tidak kincir angin karena kertas origaminya sudah habis.

Di hari Sabtu dan Minggu itu, kami menambahkan atau menyelipkan beberapa ice breaking untuk menambah semangat belajar mereka. Anak-anak disana suka sekali menyanyi dan kami selalu memberi kesempatan kepada mereka untuk bernyanyi. Kami memberikan kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan bakatnya menyanyi lagu nasional dan lagu daerah. Kami kagum melihat mereka semangat dalam menyanyikan lagu-lagu Nasional dan lagu daerah.

Waktu perpisahan sudah tiba, kami mengajak mereka untuk bernyanyi secara bersama-sama dan meminta mereka untuk menirukan gerakan yang kami ajarkan, mereka terlihat senang dan sebelum kami pamit pulang kami membagikan bingkisan sederhana sebagai penghargaan kepada mereka semua karena memiliki semangat belajar. Kami membagikan pensil dan penghapus kepada anak-anak agar bisa digunakan untuk belajar.

Fida, Uswatun, Senandung, Iin, Roiha, Zakiya,Teti dan Ida, Mahasiswa PGMI UINSA Surabaya saat belajar bersama Kelas Tunas Nera Academia.  Foto: Dok. Nera Academia

Pengalaman kami selama belajar bersama kelas Tunas di Rusunawa Jemundo Sidoarjo, pertama mengajarkan kami agar pandai bersyukur ketika masih mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang benar-benar layak. Kedua: harus memiliki rasa toleransi yang tinggi dengan orang yang ada di sekitar. Ketiga:  Kami harus berpikir,  mungkin boleh jadi kita mengetahui latar belakang mereka, mengetahui cara hidup mereka sehari-hari namun itu tidak membuat kita bertindak diskriminatif dan mengintimidasi mereka. Keempat : sebagai orang muda tugas kita untuk merangkul, dan bersama mereka mengukir sebuah impian besar yang nantinya akan menjadi nyata. Mereka adalah warga negara Indonesia yang juga menjadi penerus generasi bangsa ini. Oleh karena itu, mereka berhak mendapatkan kesempatan untuk meraih mimpinya.

Baca juga : Rekrutmen Relawan Kelas Tunas, Program pendampingan anak-anak oleh Nera Academia

Anggota kelompok berterima kasih untuk para relawan Nera Academia sudah mau meluangkan waktunya untuk anak-anak di rusunawa tersebut.  Kami benar-benar kagum dengan semua kakak-kakak yang ada di Nera Academia yang memiliki jiwa tulus mengajar karena kalian memberi pelajaran penting dalam hidup bersama yaitu berbagi.  Berbagi  itu tidak memandang agama, membantu siapapun yang membutuhkan terlepas apaun agamanya. Semoga kedepanya  semakin banyak yang ikut bergabung menjadi relawan seperti kakak-kakaknya yang ada di Nera Academia.

Oleh : Fida, Uswatun, Senandung, Iin, Roiha, Zakiya,Teti dan Ida, Mahasiswa PGMI UINSA Surabaya. Di edit seperlunya oleh editor. 

 

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *