HomeNARASIKEBUDAYAANPerempuan-perempuan Kendeng Penjaga Bumi
Perempuan

Perempuan-perempuan Kendeng Penjaga Bumi

0 996 views share

Gunung niku nggih sampun lestari, gak ada semen iku pun sejahtera…nah mangkih nek wonten semen, terutama sumber mata air niku mati… kulo niki ngeling anak cucuku besuk

(“Gunung itu sudah lestari, tidak ada semen itu sudah sejahtera..nah nanti kalau ada (pabrik) semen, terutama sumber mata air itu mati…saya ini ingat anak cucuku besok”)

Rib Ambarwati-Warga Penggunungan kendeng (dalam #dipasungsemen, dokumentasi Watchdoc).

Perempuan dan alam: Belajar dari Perempuan-perempuan Kendeng

Bulan April 2016 yang lalu, tujuh perempuan kendeng memasung kakinya dengan semen sebagai aksi menolak pendidirian pabrik semen di desa mereka. Bagi mereka, ‘lebih sakit ada pabrik semen, daripada kaki mereka yang dipasung’. Bayangkan, lebih dari 12 jam dengan kaki tak bisa bergerak karena terpasung! Duduk, tidur, ganti baju, bahkan (mungkin) ke kamar mandi, semua dalam keadaan kaki tersemen. Namun itu belum seberapa, kata salah seorang ibu dari Kendeng ini, bila dibandingkan dengan berdirinya pabrik semen di kawasan pegunungan Kendeng yang merusak mata air dan  artinya juga mematikan keberlanjutan sawah-sawah serta ternak mereka. Kekhawatiran ibu-ibu ini bukan semata-mata karena surutnya penghasilan saat ini tetapi terlebih karena masa depan generasi yang akan datang.

Mengapa ibu-ibu kendeng ini bersikeras mempertahankan mata air, sawah dan tanah mereka? Mengapa tak memilih menukarnya dengan puluhan juta rupiah saja (baca: menjualnya), toh, uang hasil penjualan bisa digunakan untuk biaya anak sekolah?  Apakah ini hanya semacam kejut budaya (cultural shock) dari agraris menuju era industrial? Jawabnya: Tentu Tidak! Alam, bagi Ibu-ibu ini, jauh  lebih bernilai dari puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Uang bisa habis dalam lima, sepuluh, dua puluh tahun, atau jangka waktu tertentu, tapi alam bisa bertahan lebih lama hingga anak cucu mereka, bila terus diolah dengan baik.

Sedulur-sedulur dari kendeng menggantungkan hidup mereka pada pertanian dan peternakan bukan berdagang atau menjadi buruh pabrik. Bagi mereka, pekerjaan yang mulia bukan dengan menarik untung sebesar-besarnya. Bekerja sebagai buruh pabrik juga bukan pilihan, salah satunya kerena pekerjaan tersebut tidak bisa diwariskan ke anak-cucu mereka. Sedang, bertani dan beternak tidak mengenal batas umur dan bisa diteruskan oleh anak-cucu mereka.

‘Nilai kehidupan’ membuat perempuan dekat dengan alam. Pada banyak kebudayaan, perempuan berperan besar dalam mempertahankan kehidupan. Membesarkan anak dengan makanan yang bergizi, memberikan pakaian yang layak serta lingkungan yang bersih menjadi tugas perempuan. Tidak heran bila perempuan menjadi begitu peduli pada elemen-elemen alam seperti tanah, air, udara, bumi, dst.

Bukan bermaksud untuk semata-mata mengafirmasi bahwa alam identik dengan perempuan dan semakin memperuncing dikotomi tugas perempuan dan laki-laki dalam perawatan lingkungan, melainkan ingin menyatakan bahwa dikotomi peran perempuan dan laki-laki perlu dileburkan. Tugas merawat bumi adalah tugas semua manusia baik perempuan maupun laki-laki.

Ecofeminisme

Relasi perempuan dan alam menjadi kajian dalam ecofeminisme. Ecofeminisme ialah gerakan/kajian untuk melestarikan alam dengan basis pembebasan perempuan. Asumsi dasar dalam gerakan ini ialah penindasan terhadap alam dapat dihapuskan bila penindasan terhadap perempuan juga dihapuskan.

Mengapa alam dihubungkan dengan perempuan? Perempuan dan alam sering diasosiasikan satu sama lain karena peran perempuan dalam reproduksi yaitu hamil dan melahirkan. Ada anggapan bahwa peran ini membuat perempuan lebih dekat dengan alam. Peran perempuan untuk melahirkan sering dikaitkan dengan peran untuk menjaga kesehatan baik diri maupun si bayi. Dengan menyediakan makanan, pakaian dan tempat tinggal yang layak, udara yang bersih, maka kesehatan akan terjaga.

Alasan lain perempuan sering diasosiasikan dengan alam ialah karena keduanya dianggap sama-sama dapat dieksploitasi. Perempuan tidak diberi kesempatan untuk mendefinisikan diri dan memperlakukan tubuhnya secara bebas. Masyarakat yang patriarkis menentukan seperti ‘apa sifat perempuan yang seharusnya’ dan ‘bagaimana cara berpakaian yang layak bagi ‘perempuan baik-baik’’. Tubuh perempuan lebih banyak dieksplotasi untuk kepentingan penumpukan modal sebagaimana alam yang dikeruk dalam hingga ke inti bumi demi kepentingan para pemodal.  Sedang, laki-laki sering dihubungkan dengan budaya/kultur sebab manusia bersifat aktif mengolah alam, seperti sifat laki-laki yang dianggap aktif.

Saya memilih untuk meleburkan dikotomi perempuan-alam/laki-laki-kultur tersebut. Perawatan dan kepedulian bukan sifat kodrat milik perempuan saja tapi lebih merupakan bentukan lingkungan. Pembagian kerja bagi perempuan dan laki-laki dalam merawat bumi perlu terus diusahakan mulai dari pembagian kerja dalam ranah domestik seperti memasak, mengasuh anak dan membersihkan lingkungan. Tugas merawat bumi merupakan tugas bersama manusia.

Kembali pada perempuan-perempuan dari kendeng, setidaknya ada tiga hal yang bisa dipelajari dari mereka. Pertama, alam bukan hanya untuk ditukar dengan sejumlah uang yang bernilai tinggi, melainkan dipertahankan keberlanjutannya. Kedua, usaha untuk merawat bumi yang dilakukan secara berkomunitas akan memiliki kekuatan yang lebih besar. Ketiga, tanah, udara, air dan seluruh isi alam adalah milik rakyat dan sedapat mungkin dipertahankan dengan prinsip semua berkecukupan, bukan yang satu berkelebihan dan yang lain berkekurangan.[2]

[1] PUTNAM TONG, Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis, Aquarini Priyatna Prabasmoro (Penerjemah), Jalasutra, Yogyakarta, 2006, 392

[2] Diinspirasi dari tawaran perspektif subsisten yang bersifat transformatif dari Maria Mies dan Vandana Shiva untuk menghentikan praktik dan sistem yang mengancam kelansungan hidup bumi. Mereka sering digolongkan dalam pemikir ekofeminis sosialis-transformatif. (PUTNAM TONG, Feminist Thought,… 395-396).

Oleh: Anastasia Jessica A.S. Dosen Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Foto : www.konde.co (http://www.konde.co/2016/04/aksi-kartini-kendeng-melawan-bengggu.html)

Please share,
BACA JUGA :   Pancasila Sebagai Landasan Rasionalitas (Baru) Masyarakat Pascasekular