HomeREFLEKSISebelum Paus Fransiskus Berpesan, Pedagang Taman Sewu Lampu Cepu Telah Melakukannya
Idenera

Sebelum Paus Fransiskus Berpesan, Pedagang Taman Sewu Lampu Cepu Telah Melakukannya

REFLEKSI 0 2 likes 325 views

Taman Sewu Lampu tidak seramai biasanya. Taman yang letaknya persis di seberang Kompleks Gereja St. Willibrordus Cepu biasanya ramai oleh pengunjung angkringan dan  pedagang kaki lima kala malam. Taman yang telah dipercantik ini tampak indah dengan lampu warna-warni.

Natal memang romantis, apa lagi kala rintik hujan bersua lampu warna-warni.

Malam  Natal, 24 Desember 2018, hujan turun deras di wilayah Cepu, Blora, Jawa Tengah. Umat Katolik mulai memenuhi Gereja St. Willibrordus Cepu di Jalan Ronggolawe 46.  Tampak beberapa Polisi, anggota Banser dan Pramuka mengatur lalu-lintas.

Misa malam Natal dipimpin oleh Romo Damar Cahyadi. Dalam homilinya, Romo Damar memberikan pesan agar umat tetap menjaga dan menghidupi nilai-nilai Natal. Ia juga mengajak umat tetap bersiaga dan bersiap-siap menghadapi situasi kehidupan yang kadang paradoks dan terus berubah. Dan untuk itu, umat harus belajar dan terus belajar agar semakin dewasa dalam iman.

Taman Sewu Lampu, Kota Cepu, dipercantik dengan lampu warna-warni. Foto : Is

Pedagang Kali Lima Meliburkan Diri

Taman Sewu Lampu bagi warga Cepu atau yang sekadar berlibur termasuk lokasi favorit. Taman sepanjang tiga kilometer lebih ini jadi sentra jajanan, makanan dan angkringan. Biasanya buka mulai jam 18.00 hingga tengah malam. Gereja Katolik St. Willibrordus Cepu persis berada di seberang taman ini.

BACA JUGA :   Abigail Soesana : Empat Generasi Tionghoa dan Dilema Diskriminasi dan Cinta Tanah Air Indonesia

Saat malam Natal (24/12/2018) para pedagang bersepakat meliburkan diri. Mereka memutuskan tidak berjualan. Hal ini diungkapkan Sugiyanto, Ketua Panitia Natal 2018 Gereja Katolik Cepu.

“Natal kali ini sangat istimewa. Ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah gereja Katolik di Cepu ini. Saudara-saudara kita yang biasanya berjualan sepanjang taman Sewu Lampu meliburkan diri untuk menghormati umat Katolik yang merayakan natal,” kata Sugiyanto.

Tidak hanya itu, para pedagang tanpa sepengetahuan gereja dan Panitia Natal secara bergotong royong membersihkan halaman gereja dan taman sepanjang trotoar depan gereja. Mereka juga memberikan donasi pada gereja.

Para Pedagang juga memesan karangan bunga ucapan selamat Natal dan diletakkan di pintu masuk gereja. Karangan bunga ini cukup menonjol karena jumlahnya hanya dua. Satunya lagi dari Kapolres Blora.

“Ini membuat kami bangga dan terharu. Betapa warga Cepu terus belajar saling menghormati dan bertoleransi. Mereka menunjukannya dengan cara yang sederhana, seperti semangat Natal yang mengajarkan kesederhanaan,” lanjut Sugiyanto.

Sugiyanto, mewakili Umat Katolik Paroki Cepu mengucapkan terima kasih dan penghormatan bagi warga Cepu, khususnya Paguyuban Pedagang Taman Sewu Lampu. Ia berharap, umat katolik juga mau belajar dari para Pedagang tentang saling menghormati dan bertoleransi.

BACA JUGA :   Menanggapi Meliorisme William James : Kemungkinan Buruk Kehendak Bebas   
Tampak Anggota Banser NU berjaga-jaga dan mengatur lalu-lintas di depan Gereja Katolik Cepu di Jalan Ronggolawe no 46 Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Foto : Andre Yuris

Paus Fransiskus menyerukan “Berbagi bukan Menimbun”

Sementara itu, saat memimpin misa Malam Natal di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Paus Fransiskus menyerukan kepada masyarakat di negara maju agar menjalani kehidupan yang lebih sederhana dan tidak terlalu materialistis.

Dalam khotbahnya, Paus Fransiskus mengatakan kelahiran Kristus seharusnya dijadikan cara baru dalam menjalani hidup, yaitu “bukan dengan melahap dan menimbun, tetapi dengan berbagi dan memberi”.

“Mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah saya benar-benar membutuhkan semua materi dan segala yang rumit ini untuk hidup? Dapatkah saya menjalani kehidupan yang lebih sederhana tanpa sesuatu tambahan yang tidak perlu?” kata Paus Fransiskus.

Paus yang juga berpesan bahwa makna hidup tidak ditemukan dengan memiliki kelebihan materi. Keserakahan yang tak terpuaskan itu menandai semua sejarah manusia, bahkan hari ini, ketika secara paradoksal, beberapa di antara mereka makan dengan mewah, sementara banyak orang sulit untuk makan roti untuk bertahan hidup.

Idenera
Gereja Katolik St. Willibrordus, Jl. Ronggolawe 46 Cepu tempak dari Taman 1000 lampu. Foto : Andre Yuris

Pesan Paus dan Semangat Pedagang Kaki Lima di Taman Sewu Lampu Cepu

BACA JUGA :   Kuburan Bernama Agamamu, Adakah Pemurtadan Para Arwah ?

Sehari sebelum Paus Fransiskus berpesan “berbagilah, bukan menimbun”, Paguyuban Pedagang Taman Sewu Lampu telah melakoni itu. Mereka mungkin tidak mengenal pemimpin Gereja Katolik Roma yang bertahta di Vatikan. Namun ada relasi nilai di antara mereka. Nilai, berbagi pada sesama. Paus dan para pedangan tentu tidak berdiskusi sebelumnya tentang hal ini.

Aneh rasanya para pedagang memutuskan tidak berjualan saat hari libur. Omset mereka biasanya meningkat saat liburan. Mereka tentu akan mendapat keuntungan bila tetap buka, karena biasanya warga Cepu yang pulang kampung saat liburan natal, mengajak keluarganya makan bersama di kawasan ini.

Para pedangan tentu saja bisa memilih “menimbun” untung. Namun mereka memutuskan sebaliknya, yaitu “berbagi”. Ini tentu pilihan sadar. Pilihan yang berat namun mereka memutuskan untuk melakukannya. Mereka memutuskan untuk menyangkal dirinya untuk kebaikan orang lain dan kebaikan bersama.

“Natal memang paradoksal,” kata Romo Damar dalam homilinya. Bagaimana tidak, keagungan Tuhan ditampilkan dalam kesederhanaan yang sangat, di kandang ternak. Kesederhanaan itulah yang kemudian dirayakan dalam Natal. Sama seperti pilihan sikap Paguyuban Pedagang Sewu Lampu Cepu, paradoksal namun secara sadar mereka rayakan dalam sikap yang terang dan tegas.

Selamat Natal, Mari belajar merayakan Natal.

Hosting Unlimited Indonesia
Please share,