HomeREFLEKSIDISKUSIGotong Royong Sebagai Relevansi Konsep Sosialitas Driyarkara

Gotong Royong Sebagai Relevansi Konsep Sosialitas Driyarkara

0 share

Setiap buah pemikiran yang dihasilkan oleh seorang pemikir pasti memiliki manfaat bagi kehidupan masyarakat. Pemikiran itu akan terasa lebih bermanfaat apabila mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, pada bagian  ini penulis akan mencoba menguraikan relevansi pemikiran Driyarkara mengenai konsep sosialitasnya dalam situasi kehidupan masyarakat Indonesia.

Gotong Royong dalam konsep Sosialitas

Budaya gotong-royong merupakan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang turun-temurun, bahkan menjadi kekuatan masyarakat Indonesia dalam melawan penjajahan dan mencapai kemerdekaan. Gotong-royong merupakan jati diri bangsa yang tidak boleh dibiarkan pudar begitu saja oleh perkembangan zaman. Gotong-royong diharapkan dapat mendarah daging dalam jiwa generasi-generasi penerus bangsa untuk menjaga keutuhan Bangsa Indonesia.

Baca juga : Kritis itu Haram, Tugas Mahasiswa Itu Lulus Secepatnya

Dalam pidato yang disampaikan di hadapan anggota BPUPK, Soekarno mengatakan bahwa gotong royong merupakan perasan dari Pancasila. Hal ini nampak dalam ungkapan Soekarno sendiri bahwa: jika saya peras yang lima menjadi tiga, dan tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satukan perkataan indonesia yang asli, yaitu kata gotong royong. Dalam hal ini Soekarno berpendapat, hal yang mendasar dari Gotong royong sebagai perasan Pancasila adalah kerja sama karena hidup bersama. Berkenaan dengan kerja sama dalam gotong royong tersebut, menurut penulis bahwa kerja sama dalam gotong tidak terjadi begitu saja, tetapi karena didorong oleh suatu kesadaran dalam diri manusia, bahwa sebagai persona ia senantiasa berada bersama dengan persona lain. Dalam ada bersama tersebut manusia saling bekerjasama satu, sehingga bisa membangun kehidupan yang lebih baik, demi kesejahteraan bersama.

Memang harus diakui bahwa gotong royong merupakan suatu warisan budaya yang telah lama dihidupi dan berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia dan sudah menjadi salah satu kekhasan bangsa Indonesia. Gotong royong sangat mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, kerja sama, tolong menmolong dan sebagainya dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam gotong royong terdapat nilai-nilai kekeluargaan, musyawarah dan mufakat, keadilan, toleransi, serta ketuhanan, yang merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia. Gotong royong menyadarkan manusia untuk melepaskan egoisme atau sikap individualis dan mengutamakan kepentingan bersama.

BACA JUGA :   Driyarkara : Cinta Kasih Sebagai Dasar Kesatuan Dalam Sosialitas

Baca juga : Driyarkara : Cinta Kasih Sebagai Dasar Kesatuan Dalam Sosialitas

Sebagai contoh, penulis mengambil kegiatan gotong royong dalam kehidupan masyarakat suku Lio, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Gotong royong dalam masyarakat suku Lio, memiliki makna yang sangat dalam untuk membangun masyarakat yang adil dan sejahtera. Hal ini tampak dalam ungkapan masyarakat Lio yang menggambarkan pola kerja atau gotong royong: “ mai sai kita ndawi lima, kema sama, boka ki bere ae, wora sai sa wiwi nunu sai sa lema we tau senggu nua ola kita”, artinya, mari kita bergandeng tangan, untuk membangun kerja sama, satu hati, satu suara, kita bangun tekad untuk hidup yang sejahtera. Ungkapan tersebut menjadi semangat bagi masyarakat Lio untuk menjaga dan melestarikan budaya gotong royong tersebut.

Gotong royong dalam kehidupan masyarakat Lio, terlaksana dalam berbagai bentuk kegiatan. Salah satunya adalah dalam kegiatan wurumana. Wurumana adalah suatu bentuk kerjasama dalam suku Lio, untuk membangun persaudaraan dan hubungan kekeluargaan. Kegiatan tersebut, mendorong masyarakat untuk saling membantu dalam berbagai kepentingan baik berupa uang, barang atau tenaga. Sistem wurumana ini sudah membudaya dalam masyarakat Lio pada umumnya sejak zaman dahulu kala. Lewat hal tersebut, masyarakat Lio dapat mempererat tali persaudaraan dan jalinan kekeluargaan yang tidak akan terlakang oleh waktu. Hingga sekarang tradisi ini masih dihidupi dan dilestarikan oleh masyarat Lio sendiri ditengah era globalisasi. Wurumana tersebut tidak memandang perbedaan, baik agama, suku atau apa pun. Semuanya dipandang sama, sebagai satu saudara, satu keluarga, sehingga wurumana mampu menjaga keharmonisan dalam kehidupan masyarakat.

BACA JUGA :   Thomas Aquinas : Persahabatan sebagai bentuk tertinggi relasi manusia

Namun harus disadari bahwa semangat gotong royong sebagai salah satu budaya bangsa sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia dewasa ini, terutama masyarakat kota. Gotong royong sudah menjadi sesuatu yang langkah bagi masyarakat Indonesia, terutama masyarakat di perkotaan. Nilai kebersamaan sudah digeser oleh paham individual yang lebih mementingkan ego pribadi. Dari persoalan ini, maka sosialitas Driyarkara sangat relevan dalam kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan pudarnya nilai gotong royong. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa nilai gotong royong tersebut perlu dihidupkan kembali. Sebab lewat kegiatan gotong royong, manusia sebagai persona dapat membangun interaksi dengan berkomunikasi untuk membangun tali persaudaraan dengan penuh cinta kasih. Dalam suasana persaudaraan, manusia akan menyadari diri bahwa mereka saling membutuhkan satu sama sama lain.

Dalam kegiatan gotong royong, masyarakat juga disadarkan bahwa ia adalah persona yang senantiasa ada bersama dengan yang lain. Dengan demikian, sesama yang lain adalah subjek yang saling melengkapi. Sesama adalah rekan atau kawan yang bersama-sama dengan kita dalam membangun kehidupan untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Dalam gotong royong kita harus bisa melepaskan ego pribadi kita, dan mengedepankan kehidupan bersama dalam semangat cinta kasih. Masyarakat manapun yang menghidupkan dan menerapkan prinsip gotong royong akan mampu menciptakan kehidupan bersama yang lebih baik, rukun dan damai.

Baca juga : Driyarkara : Ada Bersama Sebagai Titik Tolak Sosialitas

Namun tidak dapat disangkal bahwa dalam gotong royong pun terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan. Misalnya, dalam suatu kegiatan gotong royong ada suatu keluarga yang tidak sempat hadir karena suatu alasan tertentu. Hal tersebut bisa menjadi suatu persoalan tersendiri dalam kegiatan gotong royong. Bisa terjadi bahwa yang berhalangan tersebut akan dinilai negatif oleh sesamanya, misalnya dinilai egois atau tidak menghargai kebersamaan, tidak peduli dengan hidup bersama dan sebagainya. Jika hal seperti ini dibiarkan secara terus menerus, maka akan menjadi salah satu faktor pemicu putusnya hubungan persaudaraan dalam bersama dalam masyarakat.

BACA JUGA :   Mabuk Bentuk: Antara Komodifikasi dan Radikalisasi Jilbab

Di sinilah pentingnya komunikasi dan keterbukaan untuk saling memahami satu sama lain. Dalam komunikasi kita dapat menjelaskan bahwa dalam hidup bersama perlu ada tanggungjawab yang kita pikul, yaitu tanggungjawab untuk menjaga kesatuan atau keharmonisan dalam masyarakat. Apabila ada hal-hal yang kurang dalam hidup bersama, misalnya dalam bergotong royong, kita perlu membuka ruang komunikasi dan tidak langsung menghakimi sesama kita. Sebab hal penting dalam gotong royong adalah sikap tulus tanpa pamrih dalam menolong sesama.

 

* Oleh : Adrianus Aloysius Mite Lamba, Mahasiswa Fakultas filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Pernah dimuat di Jurnal Wiweka 2016, atas kerjasama dengan www.idenera.com diterbitkan kembali agar bisa jadi bahan diskusi.

** Footnote dengan sengaja kami tidak cantumkan agar kita berusaha mencari dan membaca buku-buku terkait. Postingan ini sebagai pembuka diskusi.  Seri Pemikiran Tokoh : Driyarkara, akan diposting dalam 7 seri tulisan. 

Daftar bacaan :
SUDIARJA, dkk. (eds), Karya Lengkap Driyarkara
MOHAMAD INDRA, Peran Driyarkara terhadap Bangsa: Sebuah Tinjauan Umum terhadap Pemikirannya, FIB UI, Jakarta, 2009, 22.
MUDJI SUTRISNO, Driyarkara. Dialog-Dialog Panjang Bersama Penulis, Obor, Jakarta, 2000

Sudah dibaca 8 , Hari ini 1 

Please share,