HomeREFLEKSIDISKUSIRobert M. Sapolsky : Ketimpangan Ekonomi Menyakiti Tubuh Dan Otak Kita

Robert M. Sapolsky : Ketimpangan Ekonomi Menyakiti Tubuh Dan Otak Kita

DISKUSI LINGKUNGAN NARASI 0 0 likes 63 views

Ketimpangan pendapatan dalam suatu masyarakat menciptakan stres sosial dan psikologis yang konstan bagi orang miskin serta merusak tubuh dan otak manusia.

 

Ketidaksetaraan dapat merugikan ekonomi, masyarakat, dan bahkan tubuh kita. Dalam sebuah artikel di Scientific American, Robert M. Sapolsky dari Universitas Stanford menunjukkan betapa ketidaksetaraan merusak hasil kesehatan. Ini mengacu pada beberapa penelitian medis sebelumnya.

Dia mencatat bahwa di seluruh dunia kesenjangan yang semakin lebar antara si kaya dan si miskin telah menghasilkan masalah kesehatan dan sosial yang lebih besar. Satu studi menunjukkan bahwa karena ketidaksetaraan telah meningkat di negara-negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development-merupakan sebuah organisasi internasional dengan tiga puluh negara yang menerima prinsip demokrasi perwakilan dan ekonomi pasar bebas) indeks kesehatan gabungan, yang menangkap harapan hidup, kematian bayi dan berbagai masalah kesehatan lainnya, telah menjadi lebih buruk. Tren ini bahkan terjadi di negara-negara dengan layanan kesehatan universal, sebuah sistem yang dirancang untuk menyamakan pelayanan kesehatan.

Baca juga : Kampung Pelangi, upaya penataan oleh Pemerintah Kota Surabaya

Menurut Sapolsky, sementara kemiskinan itu sendiri merugikan kesehatan, kemiskinan di antara banyak (ketidaksetaraan) lebih merugikan kesehatan. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kehidupan di masyarakat dengan kesenjangan antara kaya dan miskin menciptakan stres sosial dan psikologis yang konstan bagi orang miskin dan  mempengaruhi tubuh dan otak mereka.

Sebagai contoh, penelitian telah menunjukkan bahwa  stres yang disebabkan ketidaksetaraan mempengaruhi korteks prefrontal otak,  ini bagian otak yang berperan penting  untuk perencanaan jangka panjang dan kontrol impuls. Ini membuat orang lebih impulsif dan cenderung tidak memilih kesehatan jangka panjang daripada kesenangan langsung.

Ini menjelaskan mengapa orang yang sedang stres cenderung minum dan merokok lebih banyak.

Efek umum lain dari stres adalah peradangan kronis di tubuh manusia yang merusak molekul dan meningkatkan risiko penyakit jantung. Stres oleh keadaan sosial juga dapat memiliki efek yang lebih mengakar dengan mempengaruhi DNA manusia, membasahi kromosom dan menyebabkan penuaan dini.

Baca juga : Wahyu Mahatara : Struktur sosial dan sejarah bangsa dipengaruhi oleh kondisi ekonomi

Bagi Sapolsky, bukti yang menghubungkan ketidaksetaraan dengan kesehatan cukup kuat dan harus mendapat  perhatian serius pemerintah. Saat ini Indonesai masih bergulat dengan masalah ketidaksetaraannya.

Sumber : www.livemint.com

 

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *