5 0

Selamat Datang di Neraka: Fakta Pahit yang Tak Terelakkan

Meski sudah diingatkan sedari halaman pertama untuk tidak baper, namun daging buku terbitan Boenga Ketjil ini justru mampu membuat siapapun bergidik dan emosi. Mengangkat isu pemerkosaan, “Neraka” hadir mewakili suara lirih dari korban yang mungkin enggan untuk kita dengar.

Kumpulan puisi “Neraka” memaksa kita untuk berdiri pada sepatu korban. Buku racikan Andreas Wicaksono ini, berhasil mengemas hal yang paling sering terlupakan oleh kita sebagai manusia, yakni kemanusiaan yang hilang, ketika dihadapkan dengan kekuasaan. Lasmi, tokoh utama pada buku berisi 18 halaman itu, terus mengantarkan mata dan hati pembaca pada ketidak berdayaan.

Konflik yang dihadirkan bukan lagi permasalahan sakit hati. “Neraka” menarik kita untuk melihat fakta bahwa ketidakadilan masih ada dan perlindungan pada korban pemerkosaan sangat semu. Sempitnya akses keadilan pada banyak kasus adalah cerminan yang bisa kita jumpai pada setiap bait buku berukuran 14×21 cm ini.

Ada bagian menarik yang tak pernah saya dapatkan saat membaca sajak Andreas, pemilihan diksi yang sederhana tapi menusuk tersebut layaknya dua mata pisau. Menyadarkan juga memilukan. Salah satu bagian yang menjadi highlight saya adalah puisi dengan judul ‘Perempuan Neraka’.

Perempuan selalu dianggap sebagai objek, posisi tidak menguntungkan itu kerap mengantarkan perempuan pada dehumanisasi. Banyak orang yang masih menganggap perempuan bukan bagian dari masyarakat dan bukan manusia seutuhnya. Karenanya jika perempuan mengalami hal di luar ekspektasi masyarakat, sudah dapat dipastikan ia akan mendapat stigma buruk.

BACA JUGA :   MARI KUBUNUH KAU

Pada bagian ‘Perempuan Neraka’ Andreas berhasil membawa kenyataan pahit ini. Dalam tragedi pemerkosaan, perempuan sering dilimpahi dosa, sumber godaan dan pantas untuk ‘disalahkan’, jelas tergambar pada tiap sajak liarnya. Kita tak bisa mengelak jika pelaku diskriminasi itu juga datang dari sesama perempuan.

Pola pikir patriarkis tentu tak hanya menjangkit laki-laki. Hal ini diperparah dengan kondisi masyarakat kita yang kerap meletakkan perempuan untuk bersaing satu sama lain.

Perempuan seakan memiliki urgensitas untuk di-validasi keberadaannya oleh lelaki. Itulah yang dialami Bu Dim, karakter antagonis istri muda Pak RW itu tersayat hebat ketika mengetahui suaminya telah memperkosa Lasmi. Ia kehilangan validasi karena suaminya ‘tergoda’ oleh Lasmi.

Walau Bu Dim juga terjebak dalam pernikahan yang memilukan, namun dirinya juga tak bisa melihat Lasmi sebagai korban. 

Kenyataan bahwa perempuan masih terjebak dengan validasi dan kacamata patriarki harus kita akui. Andreas berhasil melihat kenyataan itu, akan tetapi ia gagal menghadirkan harapan baru. Ia terpaku dengan api yang membakar, padahal api juga cahaya.

BACA JUGA :   Febriansyah : Ketika mereka independen, mereka terlihat seperti alien

Kegusaran-nya terhadap kenyataan bagaimana masyarakat memperlakukan korban bisa dengan mudah kita tangkap. Namun ia lupa jika tiap perempuan yang tertindas adalah perempuan yang melawan. Perlawanan Lasmi mungkin sengaja tak ditonjolkan, hingga pembaca sampai pada bab terakhir.

Pada bab ‘Lasmi Surga’ Lasmi lebih digambarkan pada manusia yang tak bisa berbuat apapun. Cenderung pasrah pada keadaan, padahal di bab sebelumnya Lasmi tak ubahnya perempuan yang melawan. Ia marah dan kecewa, sambil terus berjuang untuk dapat menghidupi dirinya dan anak-anaknya.

Karakter itu seperti menguap di akhir bab. Memasrahkan diri pada keadaan dan Tuhan. Saya pribadi menyesali api perjuangan Lasmi yang tiba-tiba dimatikan oleh penulis.

Padahal saya berharap ending kisah Lasmi bisa membawa semangat baru untuk melawan ketidakadilan. Mungkin saja, penulis memang sengaja menggunakan anti klimaks sebagai penutup. Walaupun begitu, buku ini masih harus masuk dalam list belanja bulanan, agar kita tahu bagaimana memperlakukan korban dengan baik, tanpa harus menjadi korban.

“Neraka” seperti judulnya, ia adalah api kemarahan. Ia mampu mengusik jiwa-jiwa patriarkis yang kebetulan membaca buku ini. Saya menyarankan pembaca untuk mempersiapkan mental sebelum membuka lembar demi lembar percikan apinya.

Penulis : Reka Kajaksana, Aktivis dan Editor empuan.id

Please share,
idenera

IDENERA, membuka kesempatan bagi siapapun menjadi kontributor. Tulisan dikirim ke : editor@idenera.com dan dapatkan 1 buku tiap bulannya bila terpilih oleh editor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow Me