HomeREFLEKSISASTRACERITA PENDEKTak Ada Entah di Antah Berantah

Tak Ada Entah di Antah Berantah

0 share

Dua orang, … Mmm, sebentar. Mungkin lebih tepat jika kusebut karakter saja. Kau lihat ini? Baru akan kumulai sudah bikin pening. Ehem! Tapi bukan itu maksudku.

Begini, aku hendak cerita tentang dua orang – ah, lagi-lagi – karakter maksudku, di dunia Antah-Berantah. Dua karakter ini sedang berdebat, bahkan sejak dalam rencana kehadirannya. Tentu ini sangat berbeda dengan dunia yang kau hidupi sekarang, sangat sedikit perdebatan di sana ‘kan, bahkan untuk yang menentukan hidup-matimu sendiri.

Di sini, di dunia Antah-Berantah, kehadiran karakter harus ada alasan keberadaannya, raison d etre-nya, katanya. Maka, aku yang tidak berbakat menulis, dan juga malas belajar ini, tentu harus guling-koming menemukan, apalagi menciptakan, karakter yang hendak ada di dunia Antah-Berantah ini.

Berbeda dengan duniamu, ‘kan? Korupsi, bahkan untuk mengakhiri kehidupan saja tidak diperlukan alasan. Tetapi kalaupun tidak ada, itu bisa diada-adakan menjadi ada, meskipun tetap tidak masuk akal juga.

BACA JUGA :   Luthfi Meutia : Wanita sering menjadi korban kekuasaan

Orang-orang di duniamu bebas melenggang ke luar masuk ruang apa pun yang dikehendakinya, termasuk imajinasi. Alasan, apalagi rasional, itu milik dunia Antah-Berantah. Tetapi untungnya, aku tidak hidup di dunia Antah Berantah. Jadi, ya, selamat bertemu dengan dua karakter ini. Begini kisahnya.

Suatu ketika –jika  ini memang penting– di dunia Antah Berantah, dua karakter bertemu  saling bicara hal yang bagi mereka penting dibicarakan.

@: Ah, sial! Aku ada di dunia Antah Berantah. Kenapa sih?

%: Hloh, aku juga termasuk di dunia Antah Berantah. Dasar sial!

@: Ada yang tahukah?

%: Ini pasti karena kita ditulis oleh penulis!

@: Kuanggap pernyataanmu itu pendapat, bukan fakta. Tetapi jika pun pendapatmu benar, mengapa penulis hadirkan kita di dunia Antah Berantah?

%: Mana kutahu. Tapi kau juga harus ingat bahwa penulis tidak terikat dengan aturan dunia Antah-Berantah yang harus rasional. Penulis bebas saja, bisa memasukkan A atau B atau C atau bahkan yang tidak kita kenal.

BACA JUGA :   James Kennedy : NKRI yang unik dan beragam

@: Brengsek betul si penulis ini. Kau juga harus ingat, aku berkata ‘brengsek’ dengan ukuran Antah Berantah. Yang tidak rasional, ya brengsek. Ugal-ugalan, sewenang-wenang. Ingat, aku berkata dengan ukuran Antah-Berantah. Kalau dengan ukuran penulis, mungkin ya berbeda lagi. Tapi mungkin juga sama. Mana kutahu.

%: Aku akan mengalihkan pembicaraan saja. Kenapa pembicaraan tentang alasan kehadiran kita tak perlu dilanjutkan? Ya, karena kita tidak mungkin tahu juga. Itu yang tahu, mungkin, si penulisnya. Tapi si penulis ini juga belum tentu tahu juga alasan dirinya menghadirkan kita di Antah Berantah. Jadi, ya, karena tak mungkin kita tahu alasan kita berada, apakah berfaedah untuk dilanjutkan? Lebih baik kita bicara tentang yang lain.

BACA JUGA :   Febriansyah : Ketika mereka independen, mereka terlihat seperti alien

@: Ya. Aku sepakat dengan pendapatmu. Itu lebih masuk akal di Antah Berantah. Kau punya usul topik pembicaraan yang lebih penting untuk dibahas?

%: Sebentar …

@: Ah, aku ada ide!

%: Apa itu?

@: Kudengar kau tadi berkata ‘sial’ di awal percakapan. Tepat setelah dirimu dihadirkan di Antah Berantah.

%: Betul. Dari mana kau tahu?

@: Aku kan hadir lebih dulu. Kau tahu, aku juga katakan hal yang sama. Kita sial telah dihadirkan di Antah-Berantah. Semua harus rasional. Sedang di dunia penulis, dia sewenang-wenang. Ingat, sewenang-wenang dalam ukuran Antah Berantah.

%: Jadi, apa yang harus kita lakukan?

@: Kita lawan!

%: Lawan bagaimana?

….

%: Kau di mana? Woiii! Ah, Sial!

Akhirnya, karakter @ kuhilangkan. Tak perlu alasan, kalaupun ada ya itu karena @ hendak melawan. Ttd. Penulis. J

070720

Sudah dibaca 1 , Hari ini 1 

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *