HomeREFLEKSIDISKUSI“Nunduk” dan Sejarah yang Bukan dari Ruang Kosong

“Nunduk” dan Sejarah yang Bukan dari Ruang Kosong

DISKUSI FILSAFAT KEBUDAYAAN SEJARAH 0 0 likes 144 views

Manusia adalah mahluk menyejarah. Ini teori umum dalam Filsafat Sejarah. Sejarah (“historia”) merupakan kata Bahasa Yunani yang berarti “belajar dengan penyelidikan” (learning by inquiry).

Manusia sebagai “yang berada dalam dunia”–(istilah Martin Heidegger)– merupakan pencipta sejarahnya. Manusia dan dunia –seperti dikutip dari Gabriel Marcel– “saling memberi dan menerima.” “Manusia menghuni, memperindah, merawat dan mengubah dunia menjadi kebudayaan dan peradaban,” kata Marcel.

Sejarah: Temporal dan Abstrak

Relasi manusia dengan dunia-nya melahirkan sejarah. Manusia menciptakan sejarahnya sekaligus merekam keterhubungan dan asosiasinya dengan dunia melalui kesadaran. Sejarah akan dipahami sebagai sejarah sejauh mendeskripsikan relasi manusia dengan dunianya.[i]

Sejarah bersifat temporal, namun di sisi lain sejarah sifatnya abstrak. Sejarah dan waktu menjadi kata kunci untuk menghubungkan manusia dengan dunianya.

Sejarah kemudian tidak bisa disempitkan sebagai “yang tertulis,”–mengutip Martin Heidegger– sebab datum purba untuk melihat hubungan manusia dengan dunianya adalah historisitas otentik, sebuah faktum kemengadaan.

Kemengadaan itu terkait dengan waktu di mana ada masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Manusia menggunakan presensnya untuk mengenang masa lalu dan merencanakan masa depan.

Darimanakah saya berasal? Dan bagaimana keterhubungan faktum primordial itu “yang presens”? Menjawab pertanyaan itu, saya mencoba menelusuri jejak primordial saya, meski usaha ini hanya merujuk pada tradisi lisan dan sumber tertulis yang terbatas.

Dalam Tradisi Manggarai, Nusa Tenggara Timur, usaha ini dinamakan “Nunduk” atau penelusuran silsilah. Sumber Nunduk bisa berbentuk tradisi lisan atau juga catatan lepas.

Foto Fian Roger.

Acara Penti di Beo Ruteng, dimana semua sanak saudara berkumpul. Foto : Fian Roger

Nunduk: History atau Story?

Saya lahir di Kampung Ruteng pada 10 Juli 1987. Orang tua saya berasal dari dua suku yang berbeda. Ayah berasal dari suku Runtu di  Manggarai Tengah, sedang Ibu berasal dari suku Kuleng di Manggarai Timur.

Berikut hasil penelusuran silsilah dari garis keturunan Ayah yang diperoleh dari informan keluarga;

Kakek saya pada tingkat ketujuh bernama Koret. Koret menikahi Dima yang kemudian melahirkan seorang anak yang bernama Koret 2 ( missing name). Istri Koret 2 tidak diketahui. Perkawinan Koret dengan seorang wanita anonimus melahirkan Dende.

Dende lalu menikahi Rum dan memperanakan Selek. Selek menikahi Amul dan melahirkan kakek saya, Paulus. Paulus menikahi Elisabeth yang kemudian memperanakan lima bersaudara termasuk ayah saya.

Keluarga kami merupakan bagian dari Suku Runtu yang mendiami sebuah kampung yang menjadi asal nama kota administrasi Kabupaten Manggarai yaitu kampung Ruteng. Kampung Ruteng dihuni dua suku besar yaitu Ata Ruteng dan Ata Runtu (ata: orang).

Konon, Kaum Ruteng berasal dari Minangkabau (Sumatera Barat). Leluhur mereka terdiri dari Nggoang (yang memperanakan Orang Ruteng), Roang yang memperanakan orang Pitak dan Wulang yang memperanakan orang Leda.

Leluhur yang dikisahkan berasal dari Minangkabau itu datang melalui Sulawesi, menyusur Bima, dan akhirnya berlabuh di Warloka, Manggarai Barat,  bersama dengan leluhur orang Todo di Satar Mese.

Setiba di Nte’er dan Pela, leluhur Orang Todo berpisah dengan leluhur orang Ruteng yang melanjutkan perjalanan menuju ke arah timur, dan kemudian menetap di Ndosor yakni wilayah pegunungan pada bagian selatan Ruteng, yang sampai sekarang disebut Poco Nenu (bukit Nenu).[ii]

Sumber tradisi lisan menuturkan, leluhur Kaum Runtu bernama Sawu, konon ia juga berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Cerita berbungkus mitos ini belum dibuktikan secara arkeologis. Setibanya di Manggarai, Sawu berdiam di wilayah pegunungan Mando Sawu (pegunungan di atas daerah Mano).

Sawu memiliki seorang Putera yang bernama Sawu Sa dan seorang anak perempuan yang bernama Riwe. Dikisahkan, Orang Runtu dan Ruteng membangun kampung dan menempati lokasi yang sama dan mereka namakan Beo.[iii]

Ibu saya berasal dari suku Kuleng. Informasi mengenai sejarah suku ini tidak begitu saya kenal karena keterbatasan sumber. Suku ini mendiami sebagian wilayah di bawah Poco Ranaka. Kampung itu bernama Bajar. Bajar terletak sekitar 5 km dari Mano yang merupakan ibu kota kecamatan Poco Ranaka, Manggarai Timur.

Ibu saya merupakan anak ke-4 dari lima bersaudara/i. Tradisi oral dari lingkungan keluarga menyebutkan, Selek  menikah dengan seseorang dan melahirkan Welet. Welet  menikah dengan seseorang wanita,  lalu  lahirlah Mende. Mende menikahi Sesem dan melahirkan Worong. Worong menikah dengan seorang wanita dan melahirkan Ndata. Ndata menikah dengan Gombor sehingga lahirlah Kanar. Kanar menikahi Gunggus lalu lahirlah Ibu saya.[iv]

Dari gaya “Nunduk Manggarai” tampak bahwa kental aspek penuturan (story)  dalam sejarah silsilah (history). Dan sejarah kemudian menjadi “his” “story”, ceritanya, cerita laki-laki, sebab dalam penelusuran genealogis, garis keturunan para laki-laki sangat dominan. Jarang penuturan silsilah menekan aspek “her” “story” kecuali dalam tradisi-tradisi matrilineal.

Foto Fian Roger.

Mbata, musik tradisional Manggarai biasa dimainkan dalam upacara adat. Alat musik yang dipakai dalam mbata, hanya gong dan gendang. Foto : Fian Roger

Horison

Nunduk seperti dikisahkan di atas merupakan upaya menemukan horison antara masa lalu dan masa depan melalui masa sekarang, sebab manusia “menciptakan” masa depannya melalui masa lalu dan masa sekarang.

Horison terkait dengan cara seseorang melihat kemengadaannya dalam dunia. Dengan horison ini, manusia menemukan nilai-nilai dalam hidupnya yang terdapat dalam jejak-jejak kebudayaan, tradisi dan peradaban di sekitarnya.

Dengannya sejarah, tidak saja terkait dengan perubahan waktu, melainkan lebih sebagai ziarah kesadaran manusia. Ziarah itu kemudian mewujudkan diri dalam perkembangan dan kontinuitas menuju masa depan yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan.

Karena masa depan adalah kumpulan kemungkinan-kemungkinan. Maka, secara eksistensial tiap orang bertugas merawat historisitasnya, menjadi pengembala ada-nya sendiri untuk masa depan yang lebih baik.

Historitas manusia kemudian bermakna sebagai tanggung jawab yang berkelanjutan untuk menjadikan dunia layak huni bagi dirinya sendiri dan seluruh umat manusia.

Mengutip Rudolf Bultman, kita bukan pencatat sejarah (Geschicte), di mana semua momen ditangkap dan dicatat, melainkan kita adalah pencipta makna sejarah (Historie), di mana manusia terlibat dalam rangkaian peristiwa yang bermakna dan bernilai bagi kemengaadaannya.

Karena manusia tidak bisa membatalkan masa lalu, maka yang dilakukan adalah memberi makna pada peristiwa-peristiwa yang masih telanjang dalam hidupnya (historie). Itu berarti, sejarah tidak tertinggal sebagai waktu, peristiwa dan perubahan, melainkan upaya manusia untuk memahami dan menafsir peristiwa hidupnya.

Hemat saya, tradisi Nunduk sebagai penelusuran historis atas keberadaan seseorang, memberi makna, bahwa tidak ada peristiwa tunggal dalam kehidupan manusia karena selalu berkaitan dengan gerak peradaban, tradisi, kebudayaan yang ada di sekitarnya. Dengan “Nunduk,” saya yakin tidak ada seorang pun yang lahir dari ruang hampa sejarah. Kebijaksanaan Orang Manggarai mengatakan, “toe bengkar one mai belang, bok one mai betong,” yang bermakna tiap orang memiliki sumber dan keberakarannya dalam sejarah.

 

[i] Rafael Ray Borja dalam “Man; A Historical Being,” Prezzi: 2018.

[ii] Anselmus Baru, Menyimak Nilai Kebersamaan Dalam Mbaru Niang Ruteng (Skripsi), FFA: Unwira, 2004, hlm. 19.

[iii] Robert Syukur, (dikutip Anselmus Baru) Adak Penti Compang Ruteng: Sebuah Simbol Ziarah Pencarian Diri Orang Ruteng, (manuskrip, 2003), hlm. 12.

[iv] Informan: Man Klemens. Wawancara tanggal 15 Oktober 2010.

Please share,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *