HomeREFLEKSIDISKUSIDriyarkara : Ada Bersama Sebagai Titik Tolak Sosialitas

Driyarkara : Ada Bersama Sebagai Titik Tolak Sosialitas

DISKUSI FILSAFAT KEBUDAYAAN REFLEKSI 0 0 likes 139 views

Pada bab sebelumnya, penulis telah membahahas mengenai faktor-faktor yang melatarbelakangi Driyarkara dalam merenungkan konsep sosialitasnya, serta gagasan utama dalam pemikiran Driyarkara. Pada bagian ini, penulis akan mulai membahas inti konsep sosialitas menurut Driyarkara.

Ada Bersama Sebagai Titik Tolak Sosialitas

Dalam uraian sebelumnya mengenai gagasan utama dalam pemikiran Driyarkara, telah dikatakan bahwa yang menjadi inti dari pemikiran Driyarkara adalah manusia. Berkenaan dengan konsep tentang manusia, Driyarkara memandang manusia adalah sebagai persona. Dari uraian tentang persona, dapat dikatakan bahwa manusia senantiasa ada bersama dengan yang lain. Ia tidak tinggal dan hidup sendirian saja. Sebaliknya, ia selalu berada bersama dan berhubungan dengan orang-orang atau realitas di sekitarnya.

Sebelumnya baca : Merunut Konsep Sosialitas dari Platon hingga Driyarkara

Manusia sebagai ada bersama yang lain merupakan titik tolak Driyarkara memikirkan sosialitas manusia. Manusia baru dapat mengalami dirinya sebagai aku ketika berhadapan dengan engakau. Hubungan aku-engkau ini membawa manusia pada kesatuan dengan yang lain. Dengan demikian, cara berada manusia disebut sebagai berada bersama. Karena berada bersama sebagai struktur berada manusia, maka pekerjaan manusia harus berupa kerja sama, sebagaimana yang dihayati dalam berholobis kuntul baris. Berholobis kuntul baris merupakan suatu ungkapan dalam masyarakat Jawa yang menunjukkan pada semangat untuk bahu membahu, bekerja sama untuk membangun hidup yang lebih baik. Dalam kerja sama manusia mengalami kerbersamaan, sehingga sesuatu yang berat bisa menjadi sesuatu yang mudah. Selain bekerja sama, manusia juga dapat mengembangkan diri, membangun kebudayaan, sehingga kehidupan manusia itu terus berlangsung.

Dalam berada bersama, manusia tidak hanya mengalami kesatuannya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan alam jasmani yang ada di sekitanya. Bagi Driyarkara, berada itu bukan sesuatu yang pasif, melainkan sesuatu yang aktif. Ada yang aktif, oleh Driyarkara dibahasakan dengan mengada. Ada yang aktif adalah ada yang mengada. Hal ini berarti manusia tidak hanya menerima apa yang terdapat di alam, tetapi turut mengadakan apa yang tidak ada di alam. Manusia ikut menjaga, memelihara, mengatur dan merawat alam sehingga menjadi lebih baik. Berhadapan dengan sesama manusia, mereka saling menolong, melindungi, menghormati, menyayangi, dan saling melengkapi satu sama lain.

Berkenaan dengan hal di atas tersebut, Driyarkara memberi contoh yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Indonesia, misalnya dalam Undang-Undang yang ada di Indonesia seperti Undang-Undang Pokok Agraria yang berbunyi : bumi, air dan kekayaan alam dikelola dimanfaatkan untuk kesejahteraan umum. Dari contoh ini kiranya, mau ditegaskan bahwa dalam kehidupan bersama, sesama manusia itu sama atau sederajat, memiliki tugas dan hak yang sama, yaitu menjaga dan mengelola kekayaan alam untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama. Berbagai bidang yang ada dalam kehidupan manusia, seperti bidang ekonomi, politik, kebudayaan dan sebagainya mau menunjukkan bahwa dunia selalu merupakan dunia bersama dan juga ada bersama. Dengan demikian, tampaklah sosialitas dalam hidup manusia, yakni sesuatu yang melekat dalam diri manusia dan sebagai unsur dari eksistensi manusia.

Selanjutnya Driyarkara menegaskan bahwa beradanya manusia diartikan aktif mengada, di mana mengada ini identik dengan aktivitas. Hal ini dimaksudkan bahwa manusia dalam hidupnya tidak terlepas dari aktivitas. Aktivitas tersebut merupakan cara manusia dalam mengatasi dunianya, misalnya membudaya. Manusia bukanlah sesuatu yang tertutup pada dirinya sendiri. Dengan membangun komunikasi dengan sesama merupakan cara manusia membangun dunianya. Dengan demikian, dalam ada bersama manusia saling membangun dan saling menyempurnakan, sehingga tidak bisa lepas dari sosialitas.

Hakikat Sosialitas

Dalam merenungkan hakikat sosialitas dalam kehidupan manusia, Driyarkara terlebih dahulu menguraikan pendapat Thomas Hobbes tentang keadaan alami manusia. Dalam keadaan alami, manusia mempunyai satu kecenderungan dalam diri, yaitu keinginan untuk mempertahankan diri dari ancaman musuh. Keadaan alami itu berupa perang semua melawan semua (bellum omnium contra omnes). Manusia dianggap sebagai serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Untuk mendapatkan apa yang diinginkan manusia saling merebut, sehingga menimbulkan sikap saling membenci. Manusia bahkan rela melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang diinginkan. Situasi demikian membuat hidup bersama itu tidak mungkin. Akan tetapi, pada kenyataannya, kehidupan bersama itu ada. Lalu, bagaimana kehidupan bersama itu dapat terjadi? Di sini, Hobbes berpendapat bahwa kehidupan bersama itu lahir dari suatu perjanjian atau kontrak sosial dalam masyarakat, untuk meletakan kekuasaan pada seorang pemimpin atau penguasa. Pemimpin tersebut yang akan mengatur kehidupan bersama dalam negara.

Baca juga : Driyarkara : Mengkritik, mengoreksi dan memperbaiki sosialitas preman

Dari uraian tentang konsep homo homini lupus tersebut, Driyarkara kemudian mengkritisi Hobbes. Driyarkara melihat bahwa ada kesalahan dalan pemikiran Hobbes, yaitu Hobbes hanya memandang manusia dari sisi negatif sebagai manusia yang terdorong nafsu dan rela untuk melakukan apa saja demi mempertahankan diri. Untuk meniadakan situasi tersebut, dibuatlah suatu kontrak sosial untuk menciptakan hidup bersama. Driyarkara berpendapat bahwa dalam situasi alami Hobbes, manusia tidak hanya didorong oleh nafsu-nafsu untuk saling menerkam demi mempertahankan diri, tetapi juga telah mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, tentang sesama manusia adalah sederajat, sehingga tidak boleh dijadikan objek. Dari kenyataan ini, Driyarkara kembali menegaskan bahwa manusia adalah persona yang harus dihargai atau dihormati sebagai sesama dalam kehidupan bersama. Dalam kehidupan bersama tersebut manusia saling memikir, saling menyumbangkan diri, saling bergaul dan berkomunikasi dengan penuh cinta. Dalam kehidupan bersama, nilai-nilai kemanusiaan harus dihidupkan. Saling komunikasi antar persona, menurut Driyarkara akan menciptakan kesatuan antar persona. Dengan kata lain, komunikasi menjadi sarana untuk menghubungkan manusia yang satu dengan yang lainnya. Komunikasi ini dibutuhkan untuk menghindari keterasingan manusia dalam hidup bersama.

Driyarkara meletakkan dasar sosialitasnya sebagai hidup atau ada bersama dengan yang lain. Dalam hidup atau ada bersama tersebut, manusia dipandang sebagai kawan bagi sesama (homo homini socius). Sebagai kawan atau sesama dalam hidup bersama tersebut, antara manusia satu dengan lainnya saling bantu-membantu, hormat-menghormati keunikan masing-masing manusia sebagai sesama dalam hidup.

Bersambung : Sosialitas Menurut Driyarkara

* Oleh : Adrianus Aloysius Mite Lamba, Mahasiswa Fakultas filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Pernah dimuat di Jurnal Wiweka 2016, atas kerjasama dengan www.idenera.com diterbitkan kembali agar bisa jadi bahan diskusi.

** Footnote dengan sengaja kami tidak cantumkan agar kita berusaha mencari dan membaca buku-buku terkait. Postingan ini sebagai pembuka diskusi.  Seri Pemikiran Tokoh : Driyarkara, akan diposting dalam 7 seri tulisan. 

Daftar bacaan :
SUDIARJA, dkk. (eds), Karya Lengkap Driyarkara
MOHAMAD INDRA, Peran Driyarkara terhadap Bangsa: Sebuah Tinjauan Umum terhadap Pemikirannya, FIB UI, Jakarta, 2009, 22.
MUDJI SUTRISNO, Driyarkara. Dialog-Dialog Panjang Bersama Penulis, Obor, Jakarta, 2000

Please share,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *