Perubahan Iklim Ancam Petani Tambak Garam

Amnesty International Indonesia Chapter Universitas Airlangga (Unair) mengadakan nonton bareng film dokumenter "Alam, Garam, HAM" dan diskusi "Nestapa Petambak Garam di Tengah Serangan Krisis Iklim", pada Sabtu, 25 November 2023, di Amphitheater Kampus B, Unair, Surabaya.

75 0

Film dokumenter berdurasi 13 menit itu mengangkat kisah petani Tambak Garam di Sedati, Sidoarjo. Karya tersebut merupakan kolaborasi Komite Kajian Lingkungan Amnesty International Indonesia Chapter Unair dan Likur Production yang tayang perdana di Festival Hak Asasi Manusia (Feshama) Amnesty International Indonesia Chapter Unair 2023.

Koordinator Amnesty International Indonesia Chapter Unair, Wahyuning Mei Savira menjelaskan pertimbangan memilih kisah petani Tambak Garam di Sedati, Sidoarjo karena banyak masyarakat yang memahami kondisi alam dan Hak Asasi Manusia (HAM) secara parsial. Padahal, keduanya berkaitan dan tidak bisa dipisahkan.

 “Tahun lalu, musim hujan lebih panjang dibandingkan musim kemarau. Sedangkan, produksi garam bergantung dengan alam (pola-pola cuaca). Sehingga, bila ingin panen garam, harus mendapatkan musim kemarau yang pas,” tuturnya.

Dari persoalan itu, Savira melihat kondisi rentan petani Tambak Garam yang menyandarkan pekerjaan dari pola-pola cuaca. Sebab, perubahan iklim mengakibatkan cuaca yang tidak menentu, sehingga berdampak ke hasil panen mereka.

“Petani Tambak Garam belum mendapatkan akses edukasi dan tidak mengenal terminologi krisis iklim. Bahkan, mereka menganggap perubahan iklim yang mereka rasakan sebagai takdir dari Allah,” imbuhnya.

Pengkampanye Isu Urban Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur, Lucky Wahyu Wardhana menjelaskan bahwa perubahan iklim terjadi karena adanya pemanasan global. Itu disebabkan oleh aktivitas manusia, sehingga memperparah lapisan atmosfer bumi.

“Memang, atmosfer untuk mendinginkan bumi. Tapi, dampak dari penggunaan energi pembangkit listrik, kendaraan pribadi, aktivitas pertanian yang menyumbang gas metana dari sampah organik atau non-organik, dapat menciptakan gas baru yang memperparah lapisan atmosfer,” katanya.

Lucky juga menegaskan bahwa dalam 100 tahun terakhir, suhu bumi meningkat 2-3 derajat celcius, sehingga menciptakan perubahan iklim. Akibatnya, cuaca tidak bisa diprediksi, intensitas hujan semakin padat, panas membuat penguapan air laut tinggi, kekeringan di mana-mana, hingga angka pemanasan global semakin parah.

Serta, ada distribusi dampak yang tidak merata dari perubahan iklim itu. Seperti, masyarakat di wilayah perkotaan dan wilayah pesisir mengalami dampak perubahan iklim yang berbeda. Dampak semacam itu, terjadi pula terhadap masyarakat dengan tingkat ekonomi, ragam gender, serta jenis kelamin tertentu.

“Bicara geografi wilayah pesisir memang rentan terkena perubahan iklim, karena dataran yang rendah, hanya berjarak 3 meter dari laut. Potensi terjadi banjir rob tinggi,” tuturnya.

 Lucky menjelaskan bahwa berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sidoarjo membagi wilayah pesisir menjadi 8. Namun, hanya di Sedati, Sidoarjo keuntungan dari Tambak Garam dipakai sepenuhnya untuk pembangunan Bandara Internasional Juanda.

Sementara, ia menjelaskan bahwa peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Riswanda Firman Syahputra pernah menghitung potensi banjir rob di Sedati, Sidoarjo. Peneliti itu menggunakan perhitungan kenaikan air laut sebanyak 0,2 cm setiap tahun, sehingga dalam 10 tahun pesisir Sedati, Sidoarjo memiliki potensi kenaikan air laut hingga 2 cm.

“Padahal, rata-rata air laut pasang setinggi 148 cm di Sedati, Sidoarjo. Akan mencapai 150 cm, apabila bertambah 2 cm. Maka, hampir 20% wilayah pesisir Sedati, Sidoarjo akan terkena banjir rob dan tenggelam bersama wilayah laut,” tuturnya.

Petani Tambak Garam dihantui kecemasan kehilangan pekerjaan akibat banjir rob. Sebab, ancaman yang dihadapi petani Tambak Garam tidak hanya gagal panen, harga jual menurun, hingga cuaca yang tidak bisa ditebak, namun potensi wilayah mereka tenggelam akibat banjir rob begitu tinggi. Di akhir diskusi, Lucky memberikan tawaran solusi agar pemerintah dapat memperkuat jaminan sosial, khususnya untuk petani Tambak Garam.

Diskusi yang berlangsung selama 2 jam itu dihadiri berbagai kalangan. Meliputi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair, PPMI Dewan Kota Surabaya, LBH Surabaya, KontraS Surabaya, AJI Surabaya, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), FOS Kolektif, dan organisasi lainnya.

Editor: Andre Yuris

Please share,
Rangga Prasetya Aji Widodo

Kontributor Idenera.com. Jurnalis lepas di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *