HomeNARASIKEBUDAYAAN

KEBUDAYAAN

DISKUSIKEBUDAYAANNARASI

Mabuk Bentuk: Antara Komodifikasi dan Radikalisasi Jilbab

Peristiwa Pemilihan presiden 2019 membawa berbagai kenangan dan problematikanya sendiri. Salah satu fenomena menarik adalah kehadiran “jilbabers” dalam diskursus politik Indonesia. Yang paling menyita perhatian adalah jilbabers yang kebanyakan berasal dari barisan pendukung Prabowo-Sandi. Berbagai sepak-terjang kelompok ini sering membuat geleng-geleng kepala, sebab jauh dari apa yang dibayangkan dari penggunaan jilbab sebagaimana mestinya. Sepak-terjang jilbabers […]

0 0 94

DISKUSIKEBUDAYAANNARASI

Histeria dan Neurosis Obsesional Dalam Diskursus Politik Kontemporer Indonesia

Pilpres2019 usai sudah, menyisakan berbagai karnaval matinya akal sehat (irasionalitas) atau apa yang kami sebut sebagai neurosisisme yang kental mewarnai diskursus politik kontemporer Indonesia. Hal ini tampak pekat melekat pada kubu 02 (Prabowo-Sandi) yang sejak awal—bahkan jauh sebelum mereka ditetapkan sebagai capres-cawapres resmi—mendapat dukungan dari kalangan yang kerap mengatasnamakan kalangan “Islam.” Gerakan politik keagamaan mereka, […]

0 0 320

KEBUDAYAANNARASIREFLEKSI

Setan, Yahudi, Cina dan Komunis Sebagai Kambing Hitam

Tumbuh-kembangnya sebuah peradaban ternyata tergantung pula oleh satu hal: kambing-hitam. Pada rezim nazi, hal itu adalah “Yahudi.” Pada era orde baru di Indonesia, hal itu adalah “komunis” ataupun “cina.” Bagaimana di masa sekarang, ketika radikalisme keagamaan berupaya menyesaki ruang publik bangsa Indonesia? Tentu, sebagaimana yang kita alami, kuping kita terbiasa dengan judgment semisal “komunis,” “cina,” […]

0 3 258

AKSIKEBUDAYAANWARGA

Paus Fransiskus mengunjungi UEA : Kita Bersaudara Dalam Satu Pelukan Kasih

“Anda adalah bagian dari bangsa ini. Anda adalah warga negara, Anda bukan minoritas. Anda adalah warga negara dengan hak dan tanggung jawab penuh." Demikian pesan menyejukan penuh cinta dari Sheikh Ahmed al-Tayeb; Imam besar mesjid dan universitas Al-Azhar (Mesir) untuk seluruh umat Katolik yang berada di wilayah Uni Emirate Arab, dalam kunjungan Paus Fransiskus ke […]

0 0 241

FILSAFATKEBUDAYAANNARASI

Nglalu : Segenap Korban Dari Tirani Mayoritas

Kita hidup di sepotong zaman di mana agama tak lagi menjadi perkara rasa. Tak sebagaimana mestinya, kini beragama hanyalah masalah menyesuaikan diri dengan mereka yang berkuasa. Aku mendengar kabar, bahwa guru dan sahabat kita—yang kita tahu sangat teguh dalam memegang prinsip tak (boleh) ada pemaksaan dalam (ber)agama itu—telah mati. Kepalanya dipenggal. Dan, sesaat seusai dikubur, […]

0 0 361

DISKUSIFILSAFATKEBUDAYAANNARASI

Membongkar Keterkungkungan Penafsiran Agama dalam Pancasila

Penolakan Abu Bakar Ba’asyir untuk menandatangani kesetiaan pada ideologi Pancasila membuat pembebasan bersyaratnya ditinjau kembali. Fenomena ini menerbitkan refleksi yang mendasar tentang kedudukan Pancasila dan Agama. Bagaimana sesungguhnya kedudukan Pancasila dan Agama? Apakah Pancasila dan Agama bertentangan, sehingga apabila menyatakan setia pada yang satu harus meninggalkan yang lain? Jawaban dari pertanyaan ini tegas: Pancasila tidak […]

0 2 355

KEBUDAYAANNARASITEKNOLOGI

Sasaran Debatnya Milenial, Tapinya Caranya Kolonial

Saya Alfredo Vicrorio dos Santos, 25th. Saya generasi milenial yang ikut menyaksikan Debat Pilpres 2019 pada 17 Januari 2019 lalu. Malam lalu, saya menonton reportase  Kompas TV  yang dibawakan Aiman Witjaksono yang bertajuk "Pindah Suara Pasca Debat". Data dari Litbang Kompas  menunjukkan ada sekitar 44% pemilih yang masih bingung menentukan pilihan. Lebih menarik lagi saat […]

0 2 249

AKSIKEBUDAYAANKOMUNITASNARASI

Sepatu

kalamun nandhing sarira tinemu beda malah nyulayani benere dhewe ginunggung tinampik liyaning lyan beda kalyan tepa sarira puniku ika kang den upayaa tinemu samining sami (Pangkur Kebhinekaan/Heru Harjo Hutomo) Akhir tahun 2018 ini kembali saya ikut merayakan natal. Saya masuk gereja, ikut mengamini doa selayaknya umat Katolik lainnya—sembari sesekali melagukan pujian yang belasan tahun masih […]

0 0 497

FILSAFATKEBUDAYAANSEJARAH

Akumu Adalah Jejer-mu: Wajah Lain Sufisme Nusantara

Wayang iku Wewayangan kang satuhu Lelakoning jalma ing alam janaloka Titenana wong cidra mangsa langgenga   [Wayang itu Adalah kaca-benggala Kehidupan manusia di dunia Yang ingkar janji tak lagi lama] Sepupuh tembang Pocung itu merupakan gambaran singkat tentang pesan besar apa yang sebenarnya mendasari cerita wayang—katakanlah, raison d’etre-nya. Ada beragam karakter di sana, karakter pokok […]

0 1 1.3K
idenera

DISKUSIKEBUDAYAANREFLEKSIWARGA

Rayakan Pergantian Tahun Agar Larangan Itu Tidak Tumbuh Jadi Tiran

Beberapa tahun terakhir, tidak hanya perayaan Natal, perayaan Tahun Baru pun jadi polemik untuk diucapkan atau dirayakan. Baru-baru ini (12/18) di Malang ada himbauan tidak merayakan Natal dengan demonstratif, di Aceh Barat dan Riau pemerintah setempat mengeluarkan surat himbauan agar tidak merayakan pergantian tahun atau tahun baru. Banyak yang bertanya, bagaimana merayakan natal dengan tidak […]

0 1 337
idenera

DISKUSIKEBUDAYAANNARASI

Mendidik Kesetaraan Gender Sejak Usia Dini

Rumitnya mencari keadilan bagi kasus-kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan seperti kekerasanyang dialami Ibu Baiq Nuril, pemerkosaan di lingkungan pendidikan yang dialami Agni (mahasiswi UGM), dan kekerasan seksual oleh aparat yang menimpa Anindya Joediono, menggugah kesadaran bahwa kesetaraan gender masih perlu ditingkatkan dari waktu ke waktu. Catatan tahunan KOMNAS Perempuan 2018 menunjukkan jumlah kasus kekerasan […]

0 2 466
Andre Yuris/Ide Nera

DISKUSIFILSAFATKEBUDAYAANNARASI

Arthur Coleman Danto : Semua Bisa Jadi Seni

Pada masa kontemporer, segala sesuatu dapat menjadi benda seni. Salah satu contoh yang menarik adalah seorang pemuda jahil yang sengaja menaruh sebuah kacamata di sebuah museum. Kacamata tersebut hanyalah kacamata biasa. Tidak ada sesuatu yang istemewa dari kacamata tersebut. Namun, banyak pengunjung museum yang melihat dan mengamati kacamata tersebut. Ada pengunjung yang sudah sadar bahwa […]

0 2 287

DISKUSIFILSAFATKEBUDAYAANNARASI

Communi(cati)on: Sebuah Momen Penyingkapan Eksklusifitas Pluralisme

 Di samping karena memang perbedaan paradigma agama yang cukup tak tepermanai, saya pikir eksklusivitas pluralisme tersebut juga dipicu oleh kesembronoan dalam memaknai yang-Lain.   Sambungan dari artikel :  Communi(cati)on: Menimbang Ulang Pluralisme Dan Temu-Wicara Antar-Agama Mereka kerapkali berasumsi bahwa keberlainan itu bisa dengan mudah dijembatani lewat dialog, lewat saling tukar kabar atau bahkan saling berdebat […]

0 3 338

DISKUSIFILSAFATKEBUDAYAANNARASI

Communi(cati)on: Menimbang Ulang Pluralisme Dan Temu-Wicara Antar-Agama

Pluralisme itu tak ada.  Andaikata ada, hanyalah sejenis eksklusivisme yang mekar tak tersadari. Kita mengenal figur-figur semacam Sayyed Hossein Nasr, Paul Knitter, Rita Gross, dan sebagainya. Mereka semua lazim disebut sebagai para pluralis. Tapi saya pikir itu bohong, sebuah pelabelan yang gegabah.   Seumpama mau menengok, pluralisme dan agenda-agenda yang mereka bawa sebenarnya saling mengeksklusikan […]

0 2 300