HomeNARASIFILSAFATTolstoy Mengampuni Tuhan

Tolstoy Mengampuni Tuhan

0 share

Mengampuni. Kata yang mudah diucapkan, tetapi pelaksanaannya merangkum semua sejarah kemanusiaan, alias pelaksanaannya tidak semudah pengucapannya.

Uniknya, pengampunan ini, apabila dilepaskan dari sentimen yang mungkin muncul atas istilah tersebut, adalah konsekuensi dari logika etis, atau konsep tindakan-baik tertentu yang diyakini oleh sebagian masyarakat. Saya katakan sebagai konsekuensi dari logika etis dengan merujuk pada dialog antara Socrates, Cephalus, dan Polemarchus dalam buku I “Republik” karya Plato.

Pertama, dalam keyakinan Cephalus (ayah Polemarchus), adalah “suatu hal yang baik mengembalikan yang telah dipinjam.” Ini adalah premis awal. Kemudian, Socrates memberikan suatu permasalahan atas premis awal itu, yakni “apakah juga merupakan suatu kebaikan apabila mengembalikan barang yang dipinjam, seandainya itu adalah barang yang berbahaya, senjata misalnya, kepada pemiliknya, bahkan ketika si pemilik itu tidak lagi waras?”

Cephalus tidak menjawabnya (karena hendak mengikuti upacara keagamaan), tetapi mewariskan permasalahan yang diajukan Socrates  kepada Polemarchus, anaknya. Nah, melalui majeutike tehne dan analoginya, Sokrates dan Polemarchus berhasil sampai pada kesimpulan bahwa “tidak mungkin seorang yang bermoral mengembalikan suatu hal kepada seseorang yang justru menjadikan seseorang itu menjadi tidak baik.”

BACA JUGA :   Atheisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Konsekuensi dari kesimpulan itu adalah “tidak mungkin seorang yang bermoral membalas sesuatu-yang-tidak-baik yang ditimpakan kepadanya, dengan sesuatu-yang-sama-tidak-baiknya; karena membalas dengan hal-yang-sama-tidak-baiknya justru akan membuat keadaan orang-yang-menimpakan-sesuatu-yang-tidak-baik-kepadanya menjadi lebih buruk.” Lebih lanjut, kesimpulan lain yang didapat adalah “merupakan tugas seorang yang bermoral untuk tidak menyakiti siapapun, baik itu teman atau pun musuhnya, dan orang yang melakukan sebaliknya adalah seorang yang tidak bermoral.” Polemarchus pun akhirnya, melalui dialog tersebut, mengafirmasi kesimpulan itu. Konsekuensi dari sikap Polemarchus tersebut adalah kesediaannya berhadapan dengan orang-orang yang berpendapat sebaliknya, termasuk di dalamnya orang-orang yang memiliki kekuasaan yang sangat besar (Periander, Perdiccas, Xerxes, atau Ismenias dari Thebes).

Permasalahan yang kemudian muncul adalah, menurut saya, siapa yang menentukan seseorang itu bermoral? Tindakan itu sendiri, atau orang lain? Apakah tindakan bermoral itu hanya berpusat pada (untuk) kebaikan orang lain atau dirinya sendiri, atau keduanya? Siapa yang dapat memastikan bahwa sesuatu dapat menjadikan keadaan seseorang menjadi lebih baik atau lebih buruk? Bukankah ini justru menjadi cenderung ideologis?

BACA JUGA :   Dibalik terbitnya buku "Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia", Aku berlutut di hadapan Cino Suroboyo

Lebih lanjut, setelah orang mengetahui, secara logis, bahwa tindakan tertentu adalah lebih baik dari tindakan yang lain, apakah orang akan juga melakukannya dalam kenyataan hidupnya sehari-hari? Dan pengampunan, sebagai suatu konsekuensi dari logika etis, menghadapi tantangan dalam pelaksanaan di kehidupan sehari-hari. Permasalahannya, jika ini dianggap masalah, adalah bahwa dalam kehidupan sehari-hari tidak semua orang bertindak berdasarkan logika formal itu, dan tidak semua orang beranggapan bahwa logika formal adalah satu-satunya alat untuk mencapai kebenaran, dan lagipula tidak semua orang beranggapan bahwa kebenaran dianggap sebagai kebaikan. Pertanyaan Socrates terhadap konsep kebaikan yang diajukan oleh Cephalus dalam premis awal adalah dialog antara yang-ideal dan yang-real.

Kesan itu adalah kesan yang sama yang saya dapatkan setelah membaca cerita pendek karya Tolstoy berjudul “God Sees the Truth, But Waits”. Namun lebih jauh dari itu, bagi saya karya itu, meskipun membuat perasaan saya menjadi lebih hangat, adalah olok-olok kenyataan hidup sehari-hari terhadap moralitas. Si tokoh, Ivan Dmitrich Aksionov, seorang yang berpikiran logis (misalnya ditunjukkan dengan tidak menganggap serius peringatan istrinya) harus berakhir di penjara selama dua puluh enam tahun atas tindakan kejahatan yang dilakukan oleh orang lain. Aksionov terbukti, secara logis dengan bukti empiris pula, melakukan kejahatan yang dituduhkan. Aksionov, sebagaimana yang dikatakannya sendiri, “telah mati” sejak dirinya masuk di penjara karena telah terpisah dari segala yang membuatnya hidup. Tuhan, yang “mengembalikan” hidup Aksionov setelah dia meninggal, tak pernah berbicara di muka pengadilan tentang yang sebenarnya terjadi, meskipun Dia mengetahuinya. Dan Tolstoy, dengan cerita pendek itu, mengampuni yang telah dilakukan Tuhan terhadap Aksionov.

BACA JUGA :   Politik Amnesia dan Amnesia Politik dalam Kasus Korupsi di Indonesia

141020

Featured image : https://literarybandit.wordpress.com/2011/08/18/hero-a-day-leo-tolstoy/

Sudah dibaca 509 , Hari ini 1 

Please share,