HomeAKSI5 tahun tragedi Syiah Sampang dan Janji- janji Politikus
Sampang

5 tahun tragedi Syiah Sampang dan Janji- janji Politikus

AKSI DISKUSI KEBUDAYAAN KOMUNITAS NARASI 0 3 likes 793 views

Dari Afganistan ke Sampang

“Kenapa politikus berbicara janji yang sulit ditepati? Karena kami  mau menjaga tradisi,” kata Charlie Wilson dalam film Charlie Wilson’s War.

Film ini diangkat dari kisah nyata tentang Charlie Wilson (diperankan Tom Hanks) seorang anggota kongres Partai Republik Amerika Serikat asal Texas. Berkisah tentang proses loby politik di Kongres yang kemudian menyetujui bantuan senjata canggih kepada kelompok Mujahidin di Afganistan untuk melawan tentara Uni Soviet.  Film ini mengangkat kejadian nyata saat perang dingin tahun 1980.[1]

Loby tersebut berhasil setelah Charlie membawa perwakilan kongres mengunjungi sebuah camp pengungsi. Charlie meyakinkan anggota kongres bahwa dengan memberi senjata kepada kelompok Mujahidin,  para pengungsi  akan aman untuk pulang ke kampungnya masing-masing. Bonnie Bach, Sekertaris Charlie Wilson yang diperankan oleh Amy Adams mengatakan janji itu terlalu berlebihan dan sulit direalisasikan. “ Kamu tau, kenapa politikus bicara janji yang sulit ditepati? kami hanya  menjaga tradisi,” kata Congressman Wilson.

Tahun berganti dan pemerintahan Amerika Serikat berganti. Pada hari Minggu, 7 Oktober 2001 pukul 13.00 Presiden Amerika Serikat, George W. Bush mengumumkan  “ Atas perintah saya, militer Amerika Serikat telah mulai serangan terhadap kamp-kamp pelatihan teroris Al Qaeda dan instalasi militer rezim Taliban di Afghanistan”. Bantuan senjata Amerika Serikat tahun 1980 terbukti tidak melahirkan rasa aman. Senjata-senjata itu menyebabkan Afganistan jadi zona perang paling berbahaya di muka bumi. Korban jiwa mencapai ribuan bahkan jutaan. Jutaan orang lainnya masih  mengungsi  dan ribuan lainnya mencari suaka ke negara lain.

Sampang 26 Agustus 2012

http://www.ahlulbaitindonesia.or.id/berita/deklarasi-bersama-pulangkan-pengungsi-sampang/

Warga dan komunitas di Surabaya menandatangani petisi dalam acara “5 Tahun Warga Syiah Sampang menjadi Pengungsi di Negeri Sendiri,” Selasa (21/3). Foto : Ahlulbait Indonesia

Minggu, 26 Agustus 2012, warga  Desa Nangkernang, Karanggayam, Omben, Sampang,  Madura yang sedang merayakan lebaran ketupat diserang sekelompok massa. Satu orang tewas dan rumah-rumah dibakar.[2] Setelah penyerangan itu tepat pada hari Rabu, 28 desember 2012   warga di yang terdiri dari 135 kepala keluarga atau 306 orang yang sebagian besar perempuan, anak-anak, bayi dan balita dievakuasi ke GOR Sampang.[3]  Menurut pengakuan warga, evakuasi ini tidak dilakukan atas dasar kemauan pribadi, tapi dipaksa oleh petugas kepolisian dengan mendatangi rumah masing-masing warga  yang sudah terdata sebagai anggota jamaah Syiah.

BACA JUGA :   Dapatkah kita mengajak Cebong dan Kampret memperjuangkan #2019PemiluDamai ?

Evakuasi ke GOR Sampang tidak membuat warga Nangkernang aman dari ancaman. Massa kembali datang dan mengultimatum Polisi agar warga Syi’ah ini dibawa keluar dari Sampang. Singkat cerita, hari Kamis, 20 juni 2013 jam 14.30 dibawah desakan aparat kepolisian dan  Pol-PP semua warga Syiah yang ada di GOR dinaikkan ke dalam lima bus menuju Rumah Susun (Rusun) Puspa Agro, Jemundo, Sidoarjo.[4]

“Ini bukan untuk mengusir. Kami murni ingin membantu mereka, Pengungsi juga butuh melampiaskan kebutuhan biologis dan ini tidak mungkin kalau di GOR Sampang. Kalau di rusun kan enak. Mereka kami sediakan rumah gratis. Listrik, air, dan kebutuhan makan nanti kami tanggung,” kata Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf, seusai bertemu dengan komisioner Komnas HAM dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) di ruang kerjanya Jumat, 7 September 2012.[5]

Charlie Wilson, Gus Ipul dan Presiden

Sampang

Ibu-Ibu warga Syiah Sampang pada acara Refleksi 5 Tahun Perjalanan Advokasi Syiah Sampang, di Surabaya, Selasa (21/3) di Angkringan Mabh Cokro. Foto : Ria Tekat

Bukan hanya Gus Ipul, Gubernur Pakde Karwo, Menteri Agama Suryadharma Ali dan Presiden SBY ikut andil dalam pemindahan itu. Mereka semua berjanji akan bekerja keras dan dalam tempo secepatnya  mengembalikan warga ke kampungnya. “Presiden janji bulan ini kami dipulangkan,” kata Iklil Al Milal, warga Sampang di Rusunawa Puspa Agro, Jemundo, Sidoarjo, Selasa, 3 Desember 2013.[6] . Iklil Al Milal bersama warga berharap kunjungan SBY ke Sampang (04/12/13) akan melunasi janji itu. Janji itu di ucapkan SBY kepada perwakilan warga saat bertemu di Cikeas Juli 2013 saat bulan Ramadan lima tahun lalu.

BACA JUGA :   Nera Talk 2017 : Kembali Ngobrol Tentang Indonesia

Presiden SBY sudah tidak lagi menjabat dan digantikan Presiden Joko Widodo. Menteri Agama Suryadharma Ali sudah jadi tahanan kasus korupsi dan tugasnya diteruskan  Lukman Hakim Saifuddin. Pakde Karwo dan Gus Ipul tahun 2018 tidak lagi menjabat sebagai Gubernur Jatim. Gus Ipul kabarnya akan mencalonkan diri jadi Gubernur Jatim.

Pejabat sudah silih berganti,  lima  Ramadan  sudah berlalu namun janji “pulang” itu belum lunas.  Atap rusun Puspa Agro yang sudah banyak bocor, tembok yang retak dimana-mana menunjukan janji itu sudah renta. Sudah lima tahun warga Syi’ah tegar dan tangguh bertahan, karena mereka yakin pejabat tak akan ingkar janji. Ustad Tajul, pada peringatan lima tahun tragedi Sampang di Angkringan Mbah Cokro (21/03/2017) bahkan sangat yakin warga kampungnya akan kembali dan bersatu kembali dengan kerabatnya. “Tinggal tunggu kabar dari pemerintah” kata Ustad Tajul.

Ali Murtadha, yang disapa Ustad Tajul dan warga Syiah Sampang di Jemundo rasa-rasanya terlalu lugu. Mereka lupa kalau, SBY, Jokowi, Suryadarma Ali, Lukman Hakim, Pak De Karwo dan Gus Ipul itu semuanya politikus. Mereka berenam semuanya  anggota partai politik, sama seperti Charlie Wilson yang merupakan anggota partai Republik.  Segesit-gesitnya Jokowi, janjinya adalah janji politikus. Apalagi janji Gus Ipul yang akan jadi bakal calon Gubernur Jatim 2018.

Warga Syiah Sampang dan Imigran Gelap Afganistan : 

Jemundo

Rusun Jemundo yang ditempati imigran gelap yang ditahan Kantor Imigrasi Indonesia. Foto : http://static.panoramio.com

Kisah Ustad Tajul bersama warga Syiah Sampang sesungguhnya tidak jauh beda dengan tetangga mereka di Rusun Jemundo. Mereka semua korban janji politikus. Mungkin banyak orang tidak tahu hal ini. Hanya bersebelahan bangunan, ada dua unit rusun yang khusus menampung imigran gelap yang tertangkap aparat Imigrasi Indonesia. Para imigran gelap ini adalah pencari suaka yang berusaha ke Australia.  Banyak diantara mereka dulunya warga Afganistan dan beberapa negara Arab dan Afrika.

Bedanya adalah para imigran gelap dan pencari suaka ini kabur  dari negaranya ke negara lain yang lebih aman, sedangkan warga Syiah Sampang diusir dari kampungnya dan jadi pengungsi di negaranya sendiri. Saat ini ada 81 kepala keluarga dengan jumlah 335 jiwa yang  terpaksa tinggal di Rusun Jeumundo. Dikutip dari www.ahlulbaitindonesia.or.id,  saat ini pemerintah dalam hal ini Pemprov Jatim memberikan jatah hidup 709.000,- perbulan.[8]  Jumah ini sangat kecil mengingat tingginya biaya hidup,  apalagi pabrik kelapa yang sebelumnya menerima warga sebagai kuli kupas sudah tidak beroperasi. Namun bagi mereka  ada yang jauh lebih penting dari sekadar hidup yaitu tentang kepulangan kami ke kampung halaman.

BACA JUGA :   Ah.. Coba Kamu Kenal Mereka, Mungkin Takkan Bertahan

Janji Politik dan Harapan Pulang.

Janji politikus adalah janji di atas janji. Janji yang mereka sendiri tau, kalau sulit ditepati.  Belum lagi kalau janji itu tidak signifikan menambah perolehan suara. Kalau pun menambah  perolehan suara, pertanyaanya; apakah janji itu searah dengan kebijakan partai  atau keinginan Ketua Umum atau tidak ?. Begitu seterusnya sampai pemilu berikutnya. Politikus ingkar janji itu sudah pasti, karena itu tradisi politik. Berbohong, lupa dan ingkar janji sudah jadi habitus politikus.

Warga Syiah berjuang menghidupi harapan  pulang kampung. Ustad Tajul dan warga sudah  mulai menjalin silahturahmi dengan kerabatnya yang ada di Sampang. Mereka sudah saling mengunjungi dan saling berkirim ucapan selamat saat hari raya. Bahkan Ustad Tajul dengan tegar mengatakan, “Kami siap minta maaf kalau memang harus minta maaf. Kalaupun harus didatangi satu persatu untuk minta maaf, demi keutuhan dan kerukunan saya siap. Tidak ada dendam dari kami. Kami hanya ingin pulang dan memulai hidup baru”. Ia cukup yakin, para kerabatnya sudah berbaikan dan saling menerima satu dengan yang lainya.

Silahturahmi dan saling mengunjungi adalah usaha menjaga harapan pulang kampung setelah lima tahun mengungsi. Harapan yang begitu kuat untuk kembali hidup berdampingan dalam damai dan persaudaraan. Namun, mereka  masih berjuang sendiri. Negara masih belum hadir, para tokoh dan politikus masih sibuk.

Perjuangan mereka untuk kesekian kalinya jadi bukti bagi seluruh dunia, bahwa masyarakat Indonesia masih harus berjuang sendiri, menyatakan sikapnya sendiri karena tidak ada pembelaan dan keberpihakan dari pejabat pemerintah ataupun wakil rakyat yang seharusnya mengurus nasib warga negara.

 

Bahan bacaan: 

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Charlie_Wilson’s_War

[2] https://m.tempo.co/read/news/2012/08/27/058425697/kronologi-penyerangan-warga-syiah-di-sampang

[3] Laporan Investigasi dan Pemantauan Kasus Syi’ah Sampang, KONTRAS Surabaya 2012, hal 11.

[4] http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2013/06/130620_syiah_sampang_dipindah_sidoarjo

[5] https://m.tempo.co/read/news/2012/09/07/058428048/pengungsi-syiah-sampang-diminta-pindah-ke-sidoarjo

[6] https://m.tempo.co/read/news/2013/12/04/173534474/sby-diminta-pulangkan-pengungsi-syiah-sampang

[7] https://m.tempo.co/read/news/2012/09/07/058428048/pengungsi-syiah-sampang-diminta-pindah-ke-sidoarjo

[8]  http://www.ahlulbaitindonesia.or.id/berita/lima-tahun-terusir-dari-kampung-sendiri/

 

Please share,