Bus Listrik Berhenti Operasi, Transportasi Publik Hanya Gimik

66 0

Sudah sejak 1 Januari 2023 Bus Listrik Trans Semanggi Surabaya di jalur MERR tidak lagi beroperasi. Bus listrik bekas G20 Bali ini berhenti melayani penumpang lantaran Kementerian Perhubungan masih melakukan upaya perpanjangan kontrak dengan operator.

Berhentinya Bus Listrik jalur MERR Surabaya, mendapat sorotan dari pengamat kebijakan publik Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC), Victor Imanuel Nalle.

“Bantuan dari pusat seharusnya meringankan beban daerah tapi ini justru merugikan warga,” ujar Victor.

Menurut Victor, tersendatnya perpanjangan kontrak menunjukkan seolah-olah bantuan Bus Listrik sebagai program dadakan tanpa kejelasan desain.

“Seolah-olah agar Bus Listrik setelah dipakai G20 tidak mubazir maka diserahkan ke daerah. Padahal belum ada desain sinergi dengan Suroboyo Bus yang dikelola Dinas Perhubungan,” kritik Victor.

Pengamat kebijakan publik Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC), Victor Imanuel Nalle. Foto: Idenera

Menurut Victor, Kementerian Perhubungan sebaiknya mendorong percepatan pengelolaan bus transit di Surabaya dalam satu manajemen untuk meringankan beban konsumen. Juga perlu kelembagaan dan regulasi yang jelas karena akan mempengaruhi keberlanjutan transportasi massal di Surabaya dan kota-kota lain.

Riset Fakultas Hukum (FH) Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC) Surabaya, tahun 2021 jumlah Suroboyo Bus yang beroperasi hanya 28 unit dengan daya tampung penumpang 928.992 orang. Jumlah ini berbeda jauh dibandingkan dengan Jogjakarta yang memiliki 128 unit bus dengan daya tampung penumpang 1.508.450 orang dan Semarang yang memiliki 259 unit bus dengan daya tampung penumpang 6.207.674 orang.

Kritik terhadap Bus Listrik Trans Semanggi juga disampaikan Sakiagni Soefina dari Transport for Surabaya. Menurut Sakiagni, pemerintah terlalu terburu-buru merilis Bus Listrik lewat Gerakan Nasional Kembali ke Angkutan Umum. Warga jadi korban dari kebijakan ini.

“Acara yang heboh di tengah hujan deras dan publikasi besar-besaran, realitanya malah masyarakat sengsara,” kata Sakiagni.

Pada tanggak 20 Desember 2022 lalu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meluncurka Gerakan Nasional Kembali ke Angkutan Umum (GNKAU). Secara bersamaan juga di launching Bus Listrik Trans Semanggi Suroboyo di Surabaya.

Menurutnya, Pemerintah masih menganggap kebutuhan akan moda transportasi massal cukup dijawab lewat seremonial dan gimik tanpa langkah konkrit.

“Berhenti bermain-main dengan kebutuhan masyarakat, jangan melanggar sila ke-5 Pancasila, yang dibutuhkan masyarakat bukanlah bus listrik tapi bus yang bisa diandalkan untuk transportasi publik, apa pun sumber energinya,” pungkasnya.

Sorotan juga datang dari Co-Founder Forum Diskusi Transportasi Surabaya (FDTS), Aditya Cakasana yang mengatakan integrasi antara SB, Trans Semanggi Suroboyo (TSS), dan feeder bus (bus pengumpan) juga belum memadai.

“Selama ini antara SB, TSS, sampai bemo masih belum ada integrasi. Jadi, kalau mau pindah moda (transportasi) otomatis bayar lagi,” kata Aditya.

Alhasil ketika ingin beralih rute, biaya menjadi pertimbangan yang memberatkan. “Ini yang bikin masyarakat pikir-pikir buat naik transportasi umum, khususnya dari segi cost.” lanjutnya.

Please share,
Andre Yuris

Gatekeeper di Idenera.com & Pekerja Grafis, Foto dan Video di Surabaya. Relawan di @neraacademia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *